Mar 19, 2019 11:59 Asia/Jakarta
  • Gerakan al-Nujaba, Irak
    Gerakan al-Nujaba, Irak

Aktor-aktor poros perlawanan mengecam langkah AS yang memasukkan gerakan Al-Nujaba, Irak dalam daftar teroris.

Departemen Keuangan AS awal bulan ini menempatkan gerakan Al-Nujaba Irak dan Sekjennya, Sheikh Akram Abbas al-Kaabi dalam daftar teroris, serta membekukan semua aset dan kepentingannya dalam koridor yurisdiksi AS.

Tindakan yang diambil oleh pemerintah AS terhadap gerakan Al-Nujaba dan sekretaris jendralnya menunjukkan permusuhan Washington terhada gerakan ini, serta kebohongan klaim Washington dalam memerangi terorisme.

Gerakan Perlawanan Islam Al-Nujaba termasuk bagian dari pasukan sukarelawan rakyat Irak, Al Hashd Al Shaabi yang dibentuk untuk membantu militer Irak menumpas kelompok teroris. Al Hashd Al Shaabi berdiri atas prakarsa fatwa pemimpin agama, Ayatullah Sistani di tahun 2014 untuk menyelamatkan Irak dari cengkeraman kelompok teroris. Gerakan relawan rakyat ini menjadi poros perlawanan yang berperan penting dalam memerangi kelompok teroris Daesh di Irak dan Suriah.

 

Al Nujaba menentang keras intervensi AS di Timur Tengah, dan menolak kompromi dengan rezim Zionis. Eksistensi Al Nujaba berhadap-hadapan langsung dengan kepentingan Amerika Serikat. Sebab Washington sejak awal menentang gerakan perlawanan yang akan merongrong pengaruh AS di Timur Tengah dan kepentingan rezim Zionis.

Selain itu, gerakan Al-Nujaba yang sejalan dengan gerakan perlawanan lainnya seperti Hizbullah Lebanon, tidak sesuai dengan kepentingan sekutu regional AS yang selama ini terlibat dalam membidani kelahiran kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah. Para pejabat AS, termasuk Donald Trump sendiri mengakui bahwa kelompok-kelompok teroris semacam Daesh dibidani kelahirannya oleh Washington bersama sejumlah negara sekutunya di kawasan.

Pejabat Gedung Putih juga mengakui kelompok-kelompok teroris sebagai instrumen kebijakan luar negeri Washington di Timur Tengah. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak pernah serius untuk menumpas tuntas terorisme di Timur Tengah, tapi hanya melemahkan kelompok-kelompok teroris demi mengambil keuntungan dari mereka dalam kasus-kasus mendesak.

Sementara itu, kelompok-kelompok perlawanan semacam Al Nujaba dan Hizbullah Lebanon telah menunjukkan peran besarnya dalam menumpas kelompok teroris Daesh di kawasan. Anggota parlemen Suriah, Kamal al-Ayash menilai tindakan Amerika Serikat memasukan gerakan Al-Nujaba Irak dalam daftar teroris bukanlah hal baru karena mereka melabeli teroris kepada pihak mana saja yang sedang membela diri, sementara Amerika Serikat dan sekutunya justru menciptakan terorisme. 

Pemerintah AS yang gagal meraih tujuannya menggunakan isu terorisme untuk mengamankan kepentingannya di Timur Tengah. Kini, langkah Washington menempelkan stempel teroris kepada Al Nujaba bertujuan untuk melemahkan gerakan perlawanan, dan di sisi lain, membantu memulihkan kelompok-kelompok teroris di Suriah dan Irak yang sedang terjepit saat ini.

Pendekatan pemerintah AS tersebut memicu reaksi keras dari kelompok-kelompok perlawanan yang tersebar berbagai negara kawasan, terutama di Irak, Suriah, Lebanon, Yaman dan Bahrain. Mereka mengambil sikap menentang penyematan label teroris terhadap gerakan Al-Nujaba oleh Amerika Serikat. Suara gerakan rakyat dan kelompok perjuangan Yaman, dengan slogannya "Kami Semua  Nujaba" dan "Kami Akram al-Ka'abi", menunjukkan dukungannya terhadap pergerakan perlawanan Irak ini.

Rashed Al-Rashid, kepala biro politik gerakan Aksi Islam Bahrain, mengatakan, Amerika mengklaim sebagai negara yang berhak berbicara tentang terorisme, tapi kekuasaannya dibangun di atas jutaan tengkorak bangsa-bangsa dunia dan penjarahan, dan kekayaannya didapat dari senjata dan pendudukan.(PH)

 

Tags

Komentar