Sep 07, 2019 16:16 Asia/Jakarta
  • Balasan Hizbullah kepada Israel
    Balasan Hizbullah kepada Israel

Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh beberapa isu penting di antaranya Balasan Hizbullah Lebanon atas kejahatan Israel serta respon regional dan internasional serta kebingungan Arab Saudi di perang Yaman.

Balasan Tegas Hizbullah untuk Israel

Hizbullah Lebanon, Ahad (1/9/2019) menepati janji Sayid Hassan Nasrullah untuk membalas serangan rezim Zionis Israel, dan melancarkan serangan balasan tegas atas Israel.

Akibat serangan balasan rudal Hizbullah ke Israel, seorang komandan militer Zionis di utara wilayah pendudukan dikabarkan tewas, dan sebuah kendaraan militer Israel hancur, sehingga menewaskan seluruh penumpangnya. Serangan balasan Hizbullah atas Israel itu membawa sejumlah pesan penting.

Pertama, serangan ini dilancarkan di hari pertama bulan Muharam. Dipilihnya hari pertama bulan Muharam untuk melancarkan serangan balasan ini bersumber dari keyakinan agama Hizbullah, dan berakar dari semangat perjuangan Asyura Imam Hussein as.

Sekjen Hizbullah Sayid Hasan Nasrullah

Kedua, serangan balasan ini dilakukan sepekan setelah Sekjen Hizbullah berjanji membalas tegas agresi militer Israel. Dari satu sisi, Israel selama seminggu penuh diliputi ketakutan dan kebingungan, di sisi lain rentang waktu antara agresi Israel ke Lebanon dengan serangan balasan Hizbullah, tidak terlalu lama.

Ketiga, serangan balasan Hizbullah ke Israel adalah pesan tegas untuk para pemimpin Zionis dan pendukungnya, bahwa tidak ada satu seranganpun yang tidak dibalas, dan taktik perang "serang dan kabur", sudah berakhir. Anggota parlemen Lebanon, Hassan Fadhlallah mengatakan, sekarang Israel menyadari bahwa serangan ke Lebanon tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

Keempat, meski militer Israel yakin Hizbullah pasti membalas serangan mereka, dan Israel berada di level kewaspadaan intelijen tertinggi, namun tetap saja serangan balasan ini sangat mengejutkan Zionis, karena salah satu komandan militer Israel tewas, pemukim Zionis bersembunyi di bunker-bunker, dan ketakutan menyebar di seluruh wilayah pendudukan. Kondisi ini menunjukkan Israel sekarang begitu rentan dan lemah dalam menghadapi setiap perang.

Kelima, serangan balasan ini membuktikan bahwa Hizbullah dan kelompok-kelompok perlawanan adalah penentu perimbangan kekuatan kawasan Asia Barat. Wakil Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qassem menuturkan, operasi Hizbullah dilakukan dalam kerangka menjaga kekuatan pencegahan, dan Hizbullah berhasil menentukan perimbangan kekuatan kawasan.

Keenam, operasi Hizbullah sehari lalu dilakukan dua minggu sebelum pemilu parlemen Israel berlangsung. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam kampanyenya berusaha meyakinkan pemukim Zionis bahwa dialah satu-satunya yang mampu menjaga keamanan mereka, namun serangan balasan Hizbullah membuktikan sebaliknya, langkah Netanyahu justru membuat pemukim Zionis tidak aman dan ketakutan. Kenyataannya, serangan Hizbullah telah menciptakan perang psikologis besar bagi Netanyahu.

Ketujuh, saat pasukan Israel hendak mengevakuasi korban, Hizbullah memberikan kesempatan kepada mereka dan sejenak menghentikan tembakan. Aksi ini membuktikan bahwa Hizbullah meski dalam situasi perang, tetap menghormati kemanusiaan, tidak menginginkan pertumpahan darah atau pembunuhan, tapi menunjukkan bahwa serangan kemarin adalah balasan tegas atas agresi Israel.

Kedelapan, operasi Hizbullah atas Israel mendapat sambutan dari warga Lebanon dan kelompok-kelompok perlawanan di kawasan Asia Barat. Sambutan ini di satu sisi membuktikan bahwa masyarakat di negara-negara Arab tidak menginginkan normalisasi hubungan dengan Israel, tapi ingin rezim itu terhina, di sisi lain ini menjadi bukti bahwa di antara kelompok perlawanan regional, terdapat solidaritas dan solidaitas yang cukup kuat.

Respon atas Balasan Hizbullah kepada Israel

Balasan Hizbullah Lebanon atas agresi rezim Zionis Israel ke negara ini mendapat dukunga luas publik dalam negeri, regional serta internasional. Rakyat Lebanon selatan merayakan keberhasilan operasi Hizbullah terhadap rezim Zionis Israel.

Seperti dilaporkan televisi al-Manar, warga kawasan Maroun El Ras di Lebanon selatan Ahad (01/08) malam turun ke jalan-jalan merayakan kesuksesan balasan Hizbullah terhadap Israel.

Warga Maroun El Ras seraya meneriakkan yel-yel Labbaik Ya Nasrallah  dan Mampus Israel menyatakan dukungan mereka terhadap Hizbullah.

Bendera Lebanon

Televisi al-Mayadeen Lebanon juga melaporkan, warga Dahieh di selatan Beirut juga gembira atas kesuksesan operasi Hizbullah anti Israel dan mendukung operasi gerakan muqawama ini.

Adapun berbagai tokoh dan faksi politik Lebanon juga dilaporkan mendukung balasan tegas Hizbullah terhadap serangan rezim Zionis Israel ke Lebanon selatan.

Seperti dilaporkan televisi al-Mayadeen, Faisal Karami, anggota parlemen dan ketua Gerakan al-Karamah ( The Dignity movement) Lebanon Ahad (01/09) malam seraya memuji langkah Hizbullah membalas agresi Israel mengatakan, era serangan ke Lebanon tanpa dibalas telah berakhir.

Karami menambahkan, muqawama Lebanon memberi balasan tegas terhadap agresi rezim Zionis Israel.

Sementara itu, Liqa al-Ahzab wal al-Quwa al-Wataniya seraya merilis statemen mendukung balasan Hizbullah kepada Israel menyatakan, operasi muqawama sebuah balasan yang wajar atas serangan Israel.

Walid Sukriya, anggota parlemen Lebanon dalam wawancaranya dengan televisi al-Manar menambahkan, setelah balasan Hizbullah ini, Israel tidak akan lagi berani menyerang Lebanon, karena mereka menyadari akan mendapat balasan dari muqawama.

Sementara di tingkat regional, Ketua Biro Politik Hamas memuji serangan balasan Hizbullah Lebanon atas rezim Zionis Israel dan mengatakan, balasan kelompok perlawanan Lebanon membawa pesan-pesan strategis bagi tahap berikutnya di masa depan.

Fars News (2/9/2019) melaporkan, Ismail Haniyeh, Senin (2/9) dalam pidatonya di acara untuk mengenang sejumlah syuhada aparat keamanan Gaza, menyinggung serangan balasan Hizbullah, Ahad (1/9) terhadap Israel.

Menurut kantor berita Palestina, Shehab, Haniyeh menuturkan, saya sampaikan salam kepada perlawanan Lebanon dan Hizbullah yang telah memaksakan "pencegahan timbal balik" kepada Israel, dan keluar dari kondisi yang diupayakan beberapa pihak sejak tahun 2006. Apa yang terjadi kemarin membawa pesan strategis dalam tahap berikutnya di masa depan.

Ia menegaskan, kami akan tetap berada di kubu perlawanan, partisipasi dan persatuan nasional.

Juru bicara Ansarullah Yaman menyebut serangan balasan Hizbullah Lebanon terhadap rezim Zionis Israel sebagai aksi heroik.

Fars News (2/9/2019) melaporkan, Mohammed Abdul Salam, Ahad (1/9) malam di laman Twitternya memuji serangan balasan Hizbullah Lebanon atas Israel dan menuturkan, reaksi ini akan memperkuat kredibilitas perlawanan Islam sepanjang sejarah gemilangnya.

Jubir Ansarullah menambahkan, balasan Hizbullah Lebanon atas Israel adalah aksi heroik, dan merupakan tamparan keras ke muka Zionis yang selalu berkhianat kepada umat Islam.

Ketika Kebingungan Al Saud Berlanjut dalam Perang Yaman

Al Saud bersikeras untuk melanjutkan perang melawan Yaman ketika mereka sendiri sedang kebingungan yang mendalam baik apakah tetap melanjutkan perang itu sendiri dan begitu juga dalam menyikapi perkembangan di Yaman selatan.

Pola perilaku Arab Saudi di Yaman saat ini memiliki dua dimensi. Yang pertama adalah pemboman membabi buta berbagai bagian negara. Sementara itu, jet-jet tempur Saudi hari Ahad lalu, 1 September membom sebuah penjara tahanan perang di provinsi Dhamar, yang terletak 99 kilometer selatan Sanaa, ibukota negara ini dan menurut Kementerian Kesehatan Yaman, sejauh ini mereka berhasil mengeluarkan jasad 123 orang dari puing-puing penjara dan beberapa masih dilaporkan hilang.

MBS dan Perang di Yaman

Serangan-serangan semacam itu adalah indikasi yang jelas tentang kebingungan Al Saud dan kelanjutan perang yang sia-sia. Situasi ini lebih jelas di Yaman selatan dan ada lebih banyak indikasi terkait masalah ini yang membentuk dimensi kedua dari pola perilaku Al Saud.

Pertikaian antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi di Yaman selatan meningkat dan kawasan selatan Yaman menjadi "prestise" bagi Riyadh. Dengan demikian, Al Saud telah meningkatkan jumlah tentara bayaran dan peralatan militer di selatan Yaman.

Sekaitan dengan hal ini, Reuters menurunkan laporan, "Perang di selatan Yaman dalam beberapa pekan terakhir telah menciptakan front baru, dimana pusat perang ini berada di Aden."

Di satu sisi, Al Saud berupaya mencegah perubahan perimbangan kekuasaan di selatan yang menguntungkan Dewan Transisi Selatan dengan meningkatkan jumlah pasukan dan peralatan militer, khususnya di provinsi Shabwa dan Abyan dan di sisi lain, lewat bernegosiasi dengan Dewan Transisi Selatan, Saudi berusaha meyakinkan mereka untuk bekerja dalam kerangka kerja pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri.

Dengan demikian, delegasi Dewan Transisi Selatan Yaman yang dipimpin oleh Aidarous Qasim al-Zubaidi melakukan perjalanan untuk melakukan perundingan dengan Al Saud ke Jeddah untuk kedua kalinya dalam dua pekan terakhir atas undangan Kementerian Luar Negeri Saudi.

Pendekatan ini adalah yang paling mengisahkan kebingungan Al Saud dalam perang Yaman. Karena perselisihan antara Dewan Transisi Selatan dan Riyadh bukanlah yang dangkal, melainkan perselisihan mendasar dan berakar pada banyak masalah. Dewan Transisi Selatan menyerukan pemisahan selatan dari utara Yaman, tetapi Arab Saudi tidak menganggap pemisahan selatan dalam situasi saat ini sesuai dengan kepentingannya karena Ansarullah telah membentuk pemerintahan di utara.

Dewan Transisi Selatan menganggap pemerintah yang telah mengundurkan diri, khususnya Mansur Hadi tidak memiliki legitimasi dan juga menentang partai al-Islah yang memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, sementara Arab Saudi mengejar kegiatan dalam kerangka pemerintah yang telah mengundurkan diri dan partisipasi partai al-Islah. Dalam keadaan seperti itu, tujuan-tujuan Arab Saudi tampaknya tidak terpenuhi melalui negosiasi dengan Dewan Transisi Selatan.

Poin terakhir adalah bahwa Al Saud berusaha mencegah keruntuhan penuh koalisi terhadap Yaman lewat upaya negosiasi dengan Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA, tetapi tampaknya kemungkinan koalisi ini akan segera dibubarkan secara resmi.

 

Tags

Komentar