Sep 10, 2019 20:53 Asia/Jakarta
  • Sekjen Hizbullah Lebanon
    Sekjen Hizbullah Lebanon

Konfrontasi terbaru antara Hizbullah Lebanon dan rezim Zionis Israel memasuki fase baru yang mengindikasikan kemenangan berada di pihak Hizbullah.

Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu, yang merangkap jabatan sebagai menteri perang rezim agresor ini selama beberapa bulan terakhir terus-menerus menyulut provokasi ketegangan baru yang dibalas oleh gerakan perlawanan Hizbullah, terutama setelah gagal membentuk kabinet baru Mei lalu.

Respon tegas yang ditunjukkan Hizbullah selama ini mengindikasikan bahwa gerakan perlawanan memiliki keunggulan dalam perimbangan kekuatan yang terjadi di lapangan selama ini.

Masalah ini ditegaskan oleh Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrallah  dalam pidato malam Asyura yang mengatakan, "Militer Israel yang konon legendaris tidak lebih dari tentara Hollywood," kata sekretaris jenderal Hizbullah dalam pidatonya di Hari Asyura, mempermalukan kemampuan militer Israel. Ini pertama kalinya dalam sejarah konflik kita dengan Israel, rezim Zionis menciptakan sabuk keamanan untuk dirinya sendiri di dalam wilayah yang diduduki, bukan di luar."

 

Pasukan Hizbullah

Statemen Nasrullah ini menyebutkan setidaknya dua poin penting.

Pertama, poros perlawanan berdiri melawan tekanan AS dan rezim Zionis, karena sanksi maupun kemiskinan dan kelaparan tidak akan bisa mengganggu ketegaran gerakan perlawanan.

Kedua, Nasrullah tidak menganggap poros perlawanan sebagai aktor yang terpisah dan berbeda, tetapi sebaliknya menempatkannya sebagai aktor yang koheren dalam payung Republik Islam Iran dan Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon menekankan bahwa "Amerika, Israel dan boneka mereka berniat mengepung poros perlawanan, tetapi  mereka akan membentur dinding, karena berhadapan dengan keteguhan tekad baja, dan pengorbanan yang tulus. 

Lalu apa pendekatan yang dilakukan sekretaris jenderal Hizbullah  dalam menyikapi gelombang serangan AS dan rezim Zionis tersebut.

Pertama, Nasrullah sadar akan pentingnya perang psikologis dalam memerangi musuh. Oleh karena itu tidak membiarkan perang psikologis mempengaruhi pasukan gerakan perlawanan. Bahkan sebaliknya, kata-kata dan peringatan yang dikeluarkannya mengobarkan perang psikologis dan ketakutan bagi rezim Zionis dan para pendukungnya. 

Kedua, pernyataan dan tindakan Nasrullah sekali lagi membuktikan bahwa kelompok-kelompok perlawanan bertindak atas dasar identitas agama yang kuat, sebagaimana disampaikannya di awal bulan Muharram. Dia menekankan, "Kita akan buktikan kepada Trump dan Netanyahu bahwa kita adalah orang-orang yang mengikuti jalan Imam Hussein, yang tidak akan terpengaruh oleh pengepungan atau sanksi,".

Kemenangan terbaru gerakan perlawanan melawan rezim Zionis kembali terbukti. Selama perang dua hari di bulan Mei 2019, kelompok-kelompok perlawanan menembakkan sekitar 700 roket ke wilayah-wilayah pendudukan, tapi hanya 100 yang berhasil dihalau Iron Dome Israel.

Selain itu, invasi pesawat nirawak Israel ke Lebanon pada 25 Agustus juga memicu reaksi Hizbullah pada 1 September. Sementara itu, drone Israel ditembak jatuh pada hari Senin di Jalur Gaza dan Lebanon. Pasukan perlawanan Palestina pada Senin malam mengidentifikasi dan menembak jatuh pesawat nirawak Zionis di timur Rafah di Jalur Gaza, yang dikonfirmasi oleh militer Israel. Hizbullah Lebanon juga mengumumkan pada Senin pagi bahwa mereka menargetkan serangan pesawat Zionis ke kota Ramieh di Lebanon selatan.

Rezim Zionis berusaha menyangkal keberhasilan Hizbullah tersebut, tetapi akhirnya terpaksa mengakuinya. pengamat Timur Tengah menilai pengakuan rezim Zionis mengenai penembakkan dronenya di zona udara Lebanon adalah tanda dimulainya kepanikan baru Israel yang telah diciptakan oleh pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrullah. Dan inilah bukti baru kemenangan Hizbullah terbaru menghadapi Israel.(PH)

 

Tags

Komentar