• Latihan gabungan militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Iran di Teluk Persia.
    Latihan gabungan militer Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Iran di Teluk Persia.

Sejumlah tema yang diulas dalam program "Iran Aktualita" kali ini adalah Iran larut dalam duka peringatan Tasu'a dan Asyura Imam Husein as, Iran peringati Perang Pertahanan Suci, Iran mendesak IAEA untuk menangani program senjata nuklir Israel, dan Presiden Iran akan hadiri sidang Majelis Umum PBB di New York.

Iran Larut dalam Duka Peringatan Hari Asyura

Pekan lalu, rakyat Iran larut dalam peringatan duka untuk mengenang kesyahidan Imam Husein as dan para sahabatnya di Padang Karbala. Sejak Asyura tahun 61 Hijriah-lah nama Karbala mulai dikenal, dan sejak saat itu nama Karbala tidak bisa dipisahkan dari epos kepahlawanan, iman dan cinta, di saat yang sama selalu diasosiasikan dengan kesedihan, duka, dan ketertindasan.

Di Hari Asyura, di dalam wilayah seluas sekitar enam kilometer, dalam waktu kurang lebih delapan jam, epik agung Imam Hussein terjadi. Sahabat-sahabat Imam Hussein dalam sebuah pertempuran yang tidak seimbang berhasil memperagakan epos kepahlawanan, keimanan dan keberanian mereka.

Imam Husein as adalah salah satu insan teladan dalam sejarah umat manusia. Pengorbanan luar biasa, ketahanan, tawakkal, tekad yang kuat, kesabaran, dan keberaniannya di Karbala, hanya memperlihatkan sebagian dari kepribadian mulia Husein dan sifat-sifat ini membuat semua hati bergerak ke arahnya.

Pada waktu itu, Imam Husein as menilai satu-satunya cara untuk menyelamatkan Islam dan masyarakat Muslim adalah melawan skenario jahat Bani Umayyah dan tidak berbaiat dengan Yazid bin Mu'awiyah. Oleh karena itu, Imam Husein as secara jujur dan tegas mengumumkan penentangannya terhadap kepemimpinan Yazid.

Di Iran, masyarakat dari kota dan desa di seluruh negeri menghadiri tempat-tempat peringatan Hari Tasu'a dan Asyura untuk mendengarkan ceramah agama tentang perjuangan Imam Husein as dan mengikuti acara duka. Acara biasanya diisi dengan pambacaan ayat suci al-Quran, ceramah agama, dan narasi peristiwa Karbala, yang mengisahkan perjuangan Imam Husein as dan 72 sahabatnya.

Di Iran, selama bulan Muharram para dermawan memasak dan mendistribusikan makanan kepada para tetangga, saudara dan fakir miskin. Makanan yang diniatkan untuk Imam Husein as ini juga dibagikan kepada orang-orang yang mengikuti acara peringatan Asyura. Seluruh lapisan masyarakat larut dalam peringatan duka Karbala dan mereka memadati masjid-masjid dan tempat ziarah untuk mengikuti acara Asyura. Semua kompak memakai pakaian hitam sebagai simbol duka.

Iran Peringati Perang Pertahanan Suci

Tanggal 31 Shahrivar menurut kalender nasional Iran atau 22 September diperingati sebagai hari dimulainya perang yang dipaksakan oleh rezim Saddam terhadap Iran. 38 tahun lalu, rezim Baath Irak melancarkan agresi besar-besaran ke Iran dengan tujuan memecah wilayah dan menggulingkan sistem Republik Islam, yang baru saja berdiri.

Selama perang delapan tahun, Irak menggunakan instrumen apapun untuk mencapai tujuannya, di samping dukungan finansial dan senjata yang disediakan oleh Amerika Serikat dan negara-negara regional. Mereka ingin menggulingkan sistem Republik Islam. Tetapi delapan tahun pertahanan suci bukan hanya memberikan pelajaran yang tak terlupakan bagi para agresor, peristiwa ini telah memperkuat landasan stabilitas dan keamanan di Republik Islam.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, kekuatan-kekuatan internasional memaksakan perang selama delapan tahun terhadap rakyat Iran dengan tujuan menghancurkan Revolusi Islam, namun, keagungan, pengorbanan, iman, kebijaksanaan, keberanian, ma'rifat, dan wawasan para pemuda menyebabkan perang ini berakhir menguntungkan rakyat Iran, dan Revolusi Islam lebih kuat dari sebelumnya.

Ayatullah Khamenei menegaskan, periode Pertahanan Suci adalah sebuah "investasi" yang harus selalu dihidupkan dan dihormati untuk kemajuan Iran, dan pertumbuhan nasional negara ini, serta untuk kesiapan masyarakat dan para pemuda Iran di berbagai medan, di mana upaya ini bertentangan dengan musuh yang selalu berusaha agar periode tersebut terlupakan.

Hari ini, kapasitas pertahanan dan militer Iran sudah sangat beragam dan lebih efektif dibandingkan dengan era Pertahanan Suci. Lembaga-lembaga pertahanan Iran memiliki kekuatan defensif dan juga ofensif (jika dianggap perlu) pada level yang tinggi untuk menangkal ancaman musuh.

Selama peringatan Pekan Pertahanan Suci, Angkatan Udara Iran dan Angkatan Udara Pasdaran melakukan latihan militer gabungan dengan melibatkan 9 pesawat F-4, empat pesawat Mirage, enam pesawat Sukhoi-22, empat Tucano, tiga helikopter Chinook, dan dua helikopter 212.

Iran juga menggelar parade militer di seluruh negeri dengan memamerkan kekuatan pertahanan dan peralatan militer terbaru.

Iran Desak IAEA Tangani Program Senjata Nuklir Israel

Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Kazem Gharib Abadi meminta badan nuklir PBB itu untuk menekan Israel agar bergabung dengan Traktat Non-Proliferasi (NPT) sebagai satu-satunya cara untuk membawa perdamaian dan keamanan di Timur Tengah.

Dia menyampaikan hal itu dalam pidatonya hari Kamis pada Sidang Tahunan IAEA, yang sedang berlangsung di Wina, Austria dari 17-21 September 2018. Menurut Gharib Abadi, permainan politik Dewan Keamanan PBB dalam menangani program senjata nuklir Israel telah membuat rezim itu kurang ajar.

Dia menjelaskan pelucutan senjata nuklir merupakan salah satu dari tujuan utama NPT. Meskipun ia termasuk salah satu prioritas tertinggi komunitas internasional, namun sayangnya tidak ada kemajuan yang signifikan selama 50 tahun terakhir. "Dukungan mutlak kekuatan besar kepada rezim Zionis dalam berbagai kasus telah menjadi salah satu hambatan penting untuk mewujudkan Timur Tengah bebas dari senjata nuklir," tegasnya.

Rezim Zionis telah mengubah Timur Tengah menjadi gudang senjata pemusnah massal dengan memproduksi dan menyimpan senjata nuklir dan kimia di Palestina pendudukan. Israel diperkirakan memiliki sekitar 300 hulu ledak nuklir.

Pada 20 September lalu, pemerintah Iran telah menulis kepada PBB, meminta badan dunia ini untuk mengutuk rezim Zionis karena mengancam Iran dengan serangan nuklir dan menempatkan program senjata atom Israel di bawah pengawasannya.

Akhir bulan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya di situs nuklir Dimona, menggambarkan Iran sebagai "ancaman" bagi wilayah Timur Tengah, dan mengatakan Tel Aviv memiliki sarana untuk menghancurkan musuh-musuhnya. "Musuh-musuh kita tahu betul apa yang Israel mampu lakukan. Mereka akrab dengan kebijakan kami. Siapa pun yang mencoba menyakiti kita, kita akan menyakiti mereka," ujarnya.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada PBB, Misi Tetap Republik Islam Iran mengatakan bahwa retorika perang Netanyahu menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional. Iran juga mendesak PBB untuk memaksa Israel mematuhi aturan internasional dan Piagam PBB.

Presiden Iran akan Hadiri Sidang Majelis Umum PBB

Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani akan bertolak ke New York, Amerika Serikat pada hari Ahad (23/9/2018) untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-73. "Presiden berangkat ke New York pada 23 September dan akan kembali ke Tehran pada 26 September mendatang," kata Wakil Kepala Staf Bidang Komunikasi Kantor Presiden Iran, Parviz Esmaeili.

Dia menambahkan Presiden Rouhani akan menyampaikan pidato tidak hanya di sidang umum PBB, tetapi juga pada KTT Perdamaian yang diselenggarakan untuk mengenang pemimpin anti-Apartheid Afrika Selatan, mendiang Nelson Mandela. "Presiden akan bertemu dengan para pemred media, para pakar kebijakan luar negeri, dan sejumlah pemimpin masyarakat Muslim di AS," ujar Esmaeili.

Dia menjelaskan bahwa Presiden Rouhani juga akan bertemu dengan beberapa mitranya dari negara lain, sekretaris jenderal PBB, dan juga kepala beberapa organisasi internasional. "Presiden juga dijadwalkan akan melakukan wawancara dengan beberapa media internasional dan mengadakan konferensi pers pada akhir kunjungannya di New York," ungkapnya.

Sidang Majelis Umum PBB ke-73 akan berlangsung mulai 18-25 September 2018. (RM)

Tags

Sep 23, 2018 18:43 Asia/Jakarta
Komentar