• Persiapan latihan militer Amerika Serikat.
    Persiapan latihan militer Amerika Serikat.

Dinamika Amerika Serikat pekan lalu diwarnai sejumlah peristiwa penting di antaranya penempatan jet tempur Amerika Serikat di Ukraina, perseteruan baru Amerika dan Cina, serangan Trump terhadap kawan dan lawan Amerika, dan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mundur dari jabatannya.

AS-NATO Gelar Latihan Perang di Ukraina

Amerika Serikat untuk pertama kalinya menempatkan jet tempurnya di Ukraina dan langkah ini mengindikasikan peningkatan konfrontasi Washington dengan Moskow, terutama di Eropa Timur. Penempatan ini dilakukan dengan alasan latihan militer gabungan. Latihan penerbangan internasional dengan sandi "Clear Sky-2018" dimulai di Ukraina pada hari Senin (15/10/2018) dengan partisipasi sembilan negara anggota NATO.

Latihan dengan misi memperkuat interoperabilitas di antara negara-negara yang berpartisipasi, melibatkan personel militer dari Ukraina, Belgia, Inggris, Denmark, Estonia, Belanda, Polandia, Rumania, dan Amerika Serikat. Latihan ini menampilkan berbagai jenis kendaraan udara, termasuk jet tempur F-15 AS.

Kegiatan itu diklaim fokus pada perlindungan ruang udara, manajemen dan kontrol gabungan yang efektif, evakuasi aeromedis, pertahanan maya, dan pemulihan personel. Latihan gabungan Clear Sky-2018 akan berlangsung hingga 19 Oktober 2018. Latihan ini melibatkan lebih dari 50 pesawat dari delapan negara anggota NATO. Pesawat AS yang berpartisipasi termasuk jet tempur F-15, KC-135, dan MQ-9 yang beroperasi di Pangkalan Militer Miroslawiec, Polandia.

Langkah AS memperkuat hubungan militer dengan Ukraina termasuk peningkatan bantuan militer dan persenjataan, merupakan bentuk pelanggaran terhadap garis merah Rusia. Moskow menolak penyebaran pasukan Barat di negara-negara yang berbatasan dengan Rusia dan menganggap langkah ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Moskow di Ukraina.

AS selama dua tahun terakhir secara teratur mengirim berbagai jenis senjata ke Ukraina, termasuk senjata mematikan seperti rudal anti-tank Javelin dan juga mengalokasikan bantuan dana untuk militer Ukraina.

Menurut keterangan Duta Besar AS untuk Ukraina, Marie Yovanovitch, Washington telah mengalokasikan bantuan keamanan untuk Kiev senilai 850 juta dolar sejak tahun 2014 sampai sekarang. Anggaran militer AS 2018 yang diteken Presiden Donald Trump pada Desember 2017 juga menganggarkan dana 350 juta dolar untuk mendukung keamanan Ukraina.

Sementara itu, diplomat senior Rusia, Peter Ilychiov mengatakan pengiriman senjata Amerika ke Ukraina telah mendorong para pemimpin Kiev untuk mengambil langkah-langkah baru militer di timur Ukraina.

Para pejabat dan ahli Rusia menyuarakan keprihatinan tentang latihan penerbangan gabungan terbesar AS-Ukraina. Mereka menyatakan bahwa latihan ini, seperti banyak latihan serupa lainnya yang digelar AS dan NATO di Ukraina, diarahkan melawan Federasi Rusia dan sedang mempersiapkan batu loncatan untuk serangan melawan Moskow.

Rick Perry.

Perseteruan Baru AS dan Cina

Hubungan Amerika Serikat dan Cina mengalami banyak pasang surut sejak Donald Trump berkuasa di Gedung Putih. Perselisihan antara Washington dan Beijing menyentuh berbagai dimensi politik, perdagangan dan ekonomi, militer dan keamanan, dan strategis.

Reaksi keras Cina terhadap tindakan konfrontatif AS telah mendorong Washington untuk meningkatkan ancaman dan tekanan terhadap Beijing. Pekan lalu, AS memperketat kontrol atas impor teknologi nuklir sipil Cina untuk mencegah penggunaannya di bidang militer atau lainnya yang tidak sah.

"AS tidak dapat mengabaikan implikasi keamanan nasional dari upaya Cina untuk mendapatkan teknologi nuklir di luar proses yang ditetapkan dari kerjasama nuklir sipil AS-Cina," kata Menteri Energi AS Rick Perry dalam sebuah pernyataan.

Awal tahun lalu, Dewan Keamanan Nasional AS memimpin peninjauan atas upaya Cina untuk memperoleh bahan nuklir, peralatan, dan teknologi canggih dari perusahaan AS. Menurut para pejabat pemerintah AS, peninjauan ini didorong oleh upaya percepatan Cina untuk memperoleh kekayaan intelektual AS sehingga merugikan bisnis dan kepentingan militer AS.

Pemerintah AS menyatakan bahwa pengembangan teknologi nuklir untuk pembangkit reaktor kecil di Laut Cina Selatan dan untuk kapal selam serta kapal pemecah es telah menjadi perhatian mereka. Washington juga menyatakan keprihatinan tentang penggunaan teknologi untuk pembuatan senjata.

Salah satu dimensi penting dari konfrontasi AS-Cina adalah perang dagang Trump dan penerapan tarif yang belum pernah terjadi sebelumnya atas impor produk dan barang Cina ke Amerika. Setelah penerapan tarif baru oleh pemerintah Trump terhadap barang-barang Cina senilai lebih dari 250 miliar dolar, pemerintah Cina juga mengambil tindakan balasan dan memberlakukan tarif baru atas impor produk AS.

Perang dagang yang dikobarkan Trump mendapat kritik keras dari lembaga-lembaga keuangan dunia dan juga Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kebijakan dagang Trump telah merusak sistem perdagangan dan ekonomi internasional. Oleh karena itu, Kepala Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde dalam pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali, Indonesia, mengkritik kebijakan ekonomi Trump dan menyerunya untuk memperbaiki sistem perdagangan dunia ketimbang menghancurkannya.

Donald Trump

Serangan Trump terhadap Kawan dan Lawan

Sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS pada Januari 2017, dunia internasional menyaksikan banyak ketegangan akibat kebijakan dan tindakan yang diadopsinya. Trump berulang kali mengkritik keras kawan dan lawan Amerika, sehingga hubungan transatlantik dan interaksi Amerika dengan Asia Timur mengalami masalah serius.

Ketegangan regional dan internasional juga tak terelakkan setelah Trump menarik AS keluar dari beberapa kesepakatan dunia. Kebijakan unilateral dan sikap arogan Trump bertujuan untuk memaksakan hegemoni AS kepada negara-negara lain, termasuk di bidang perdagangan. Seorang analis Perancis, Marie-Cecile Naves percaya bahwa kebijakan Trump didasarkan pada dominasi, gertakan, dan intimidasi, dan ini karakter khusus dia.

Pekan lalu, dalam kampanye di kota Council Bluffs, Iowa, Trump berbicara tentang kebijakan luar negerinya terhadap negara lain serta kembali mengkritik kawan dan lawan Amerika. Dia kembali mengulangi sikapnya terhadap Uni Eropa, NATO, Jerman, Cina, Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, Arab Saudi, dan Iran. Menurutnya, AS kembali dihormati karena kebijakan yang diambilnya.

"Uni Eropa kedengarannya sangat bagus, tetapi mereka brutal. Organisasi ini dibentuk untuk memanfaatkan kami dalam perdagangan," ujar Trump.

Dia juga menyampaikan pernyataan keras terhadap Cina dengan mengatakan bahwa sebagai dampak dari hubungan bisnis yang tidak adil antara kedua negara, Beijing mengantongi miliaran dolar dari Washington, tetapi dengan dimulainya kepresidenan saya, proses ini telah berakhir.

Trump juga mengulangi komentarnya tentang keharusan Saudi untuk membayar biaya ke AS. "Apa yang kami lakukan adalah melindungi negara-negara kaya dengan tidak menerima imbalan apapun," katanya.

Di bagian lain pidatonya, Trump mulai menyerang Iran dan membela keputusan ilegalnya meninggalkan kesepakatan nuklir. Dia mengklaim Iran berencana menguasai Timur Tengah hanya dalam 12 menit. “Lihatlah Iran, sebelum saya sampai di sana (Gedung Putih), Iran akan mengendalikan Timur Tengah dalam waktu 12 menit," ujarnya.

Donald Trump dan Nikki Haley.

Pengunduran Diri Haley dari Dubes AS untuk PBB

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya itu. Keputusan ini telah memperpanjang drama pengunduran diri atau pemecatan di pemerintahan Donald Trump.

Haley dalam jumpa pers di Oval Office Gedung Putih bersama Trump, mengatakan alasan dirinya mundur karena ingin istirahat. Namun, beberapa pejabat senior Gedung Putih mengaku tidak mengetahui rencana tersebut dan muncul banyak spekulasi seputar pengunduran diri Haley. Beberapa bukti menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Trump dan Haley terkait masalah tertentu seperti, Rusia dan Korea Utara.

Beberapa media bahkan menduga Haley adalah penulis artikel kontroversial di surat kabar The New York Times dengan judul "I Am Part of the Resistance Inside the Trump Administration."

Ada dugaan bahwa perselisihan Haley dengan John Bolton, penasihat keamanan nasional Gedung Putih mengenai kebijakan luar negeri, kemungkinan telah memaksa dubes AS untuk PBB itu meletakkan jabatannya.

Terlepas dari semua spekulasi itu, salah seorang pendukung utama unilateralisme Trump telah pergi dari lingkaran pembuat keputusan di AS. Selama 1,5 tahun menjabat, Haley selalu menyerang kepemimpinan PBB dan tatanan internasional.

Dia berkali-kali menuding PBB bersikap munafik dalam berurusan dengan Israel dan bahkan tidak ragu-ragu mengintimidasi negara-negara lain dalam kasus pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Quds. Waktu itu, Haley mengancam pemutusan bantuan finansial AS jika mereka mengecam keputusan Washington pada pertemuan Majelis Umum PBB. (RM)

Tags

Oct 15, 2018 14:47 Asia/Jakarta
Komentar