• Upaya Erdogan untuk Mengubah Kebijakan Regional Turki

Surat kabar Zaman terbitan Ankara menulis, Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki mengubah kebijakan regionalnya dan memutuskan untuk mengambil pendekatan baru terkait Suriah.

Dalam edisi Jumat, 8 Juli 2016, surat kabar tersebut menurunkan sebuah laporan mengenai pesan Presiden Turki kepada rakyat negara ini ketika menandai Hari Raya Idul Fitri 1437 H.

Surat kabar Zaman menulis, Turki sedang berusaha untuk memperbaiki masalah yang disebabkan oleh krisis Suriah dan akan mengambil tindakan untuk merealisasikan hal itu.

Erdogan juga dilaporkan menyinggung upaya Turki untuk menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis Israel dan Rusia. Disebutkan bahwa Ankara sedang berusaha untuk melewati krisis yang menyebabkan transformasi Suriah agar bisa memperbaiki hubungan dengan Damaskus yang telah lama putus.

Para pakar menilai pernyataan Erdogan terkait normalisasi hubungan dengan Suriah menunjukkan mundurnya Turki dari posisi sebelumnya terhadap negara tetangganya itu.

Sebelumnya, meskipun ada rekomendasi dari internal, regional dan internasional, namun pemerintah Partai Keadilan dan Pembangunan Turki (AKP) tetap menegaskan intervensinya dalam urusan internal Suriah dan kelanjutan konflik di negara tetangganya ini hingga tergulingnya pemerintah sah Bashar al-Assad, Presiden Suriah.

Dengan mundurnya pemerintah Ankara dari posisi sebelumnya, tampaknya Erdogan secara implisit berusaha menghubungkan persoalan akibat intervensi Turki dalam urusan internal Suriah kepada Ahmet Davutoglu, mantan Perdana Menteri Turki.

Pasca mundurnya Davutoglu dari jabatannya sebagai PM Turki, pemerintah Ankara cenderung untuk memperbaiki hubungannya dengan Moskow dan Damaskus, di mana hal ini seakan-akan ingin menunjukkan bahwa persoalan Turki disebabkan oleh kebijakan mantan PM negara itu. Padahal pengambil keputusan-keputusan utama Turki dalam kebijakan dalam negeri dan regional adalah Erdogan sendiri.

Pada kenyataannya, kegagalan kebijakan pemerintah Turki di kawasan Timur Tengah telah memaksa Erdogan untuk mengubah pendekatannya terhadap isu-isu regional dan merevisi kebijakan-kebijakan Ankara terhadap Damaskus.

Permintaan maaf Ankara kepada Moskow karena menembak jatuh sebuah pesawat tempur Sukhoi Rusia di zona udara Suriah beberapa bulan lalu menjadi bukti lain untuk menguatkan klaim tersebut.

Yang pasti, kebijakan-kebijakan keliru Turki dalam menyikapi berbagai isu penting regional dan langkah Ankara yang sejalan dengan pemerintah-pemerintah reaksioner di pesisir Teluk Persia terkait Suriah telah membuktikan fakta bahwa kepentingan nasional sebuah negara seperti Turki tidak seharusnya dikorbankan demi ambisi-ambisi pribadi para pejabat tinggi partai.

Selain mengalami kegagalan dalam kebijakan regionalnya, Presiden Turki juga menghadapi persoalan di internal Partai Keadilan dan Pembangunan. Persoalan ini telah mengorbankan para pendiri dan pemimpin partai berkuasa di Turki ini.

Abdullah Gul, mantan Presiden Turki dan Ahmet Davutoglu, mantan PM Turki adalah tokoh-tokoh partai berkuasa Turki yang dikorbankan demi kebijakan-kebijakan keliru Erdogan dalam dua peristiwa penting di Turki.

Peristiwa-peristiwa tersebut telah meningkatkan perseteruan di dalam Partai Keadilan dan Pembangunan, terutama disingkirkannya orang-orang berpengaruh dalam partai ini. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ada kemungkinan akan terjadi perpecahan dalam partai berkuasa Turki selama setahun mendatang. (RA)

Tags

Jul 09, 2016 14:55 Asia/Jakarta
Komentar