Kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri terbaru di kota Quetta, Balochistan Pakistan.

Menurut Sarfaraz Bugti, pejabat tinggi Balochistan, insiden yang terjadi di distrik Pishin Stop pada Sabtu malam, 12 Agustus 2017 ini, merenggut nyawa 15 orang dan melukai 32 lainnya, di mana para korban adalah anggota Angkatan Bersenjata dan warga sipil.

Anwarul Haq Kakar, juru bicara pemerintah Balochistan juga mengkonfirmasi jumlah korban. Sementara menurut media militer, delapan petugas keamanan tewas dalam ledakan tersebut.

Inter-Services Public Relations (ISPR) menyebutkan bahwa sebuah kendaraan keamanan yang bertugas di lokasi menjadi target serangan tersebut dan 10 petugas keamanan termasuk di antara korban yang terluka.

Selama ini, pejabat-pejabat politik dan militer Pakistan membantah kehadiran Daesh di negara mereka, namun pada kenyataannya, kelompok teroris ini aktif di Pakistan dan bahkan menyatakan bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di Quetta.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; pertama, serangan teroris di Pakistan dan Afghanistan meningkat dalam beberapa hari terakhir dan bahkan sangat mengkhawatirkan.

Kedua, mengingat adanya hubungan kelompok-kelompok sektarian dan teroris yang aktif di Pakistan dengan sejumlah kalangan keamanan di negara ini, maka tampaknya tidak mungkin jika Badan Intelijen Militer Pakistan (ISI) tidak mengetahui kehadiran kelompok-kelompok teroris seperti Daesh.

Dan ketiga, beberapa kelompok teroris di Pakistan telah menyatakan bahwa mereka memiliki hubungan dengan Daesh, bahkan mereka melancarakan serangan teror atas nama kelompok teroris takfiri ini. Hal ini juga menunjukkan hubungan kelompok-kelompok teroris internal Pakistan dengan kalangan asing yang mengejar target-target dalam serangan teror mereka.

Di antara tujuan teroris dan pendukungnya yang mendorong kekerasan berdarah terutama di daerah-daerah rawan krisis seperti Quetta adalah menyulut perang sektarian, memperburuk konflik Pakistan dengan India dan Afghanistan, mengganggu program ekonomi Cina di Provinsi Balochistan dan untuk transit teroris ke Asia Tengah.

Kambakhsh Nekoei, seorang pakar politik di Afghanistan mengatakan, "Daesh sedang diperkuat oleh negara-negara kuat Barat dan Arab di Timur Tengah, dan mereka ingin mengirim kelompok teroris ini ke Asia Tengah dan negara-negara lain yang mereka memiliki kepentingan di dalamnya, serta menghadapkan negara-negara itu kepada bahaya."

Hal yang perlu diperhatikan dalam serangan teror di Pakistan dan Afghanistan adalah serangan ini lebih banyak menarget warga sipil, di mana tidak ada pembenaran agama maupun strategis atas tindakan ini. Serangan ini merupakan serangan buta dan hanya bertujuan untuk menciptakan krisis dan ketidakamanan di kawasan.

Dalam kondisi seperti ini, peran ulama dan kecaman mereka terhadap aksi  teror dan terorisme akan mencegah kecenderungan para pemuda untuk bergabung dengan kelompok-kelompok teroris dan tindakan menjustifikasi kejahatan mereka berdasarkan Wahhabisme dan Takfirisme.

Pir Mohammad Mollazahi seorang pakar politik Republik Islam Iran mengatakan, "Untuk menangani aktivitas teroris, kelompok-kelompok yang menjadi rujukan seperti ulama, para tokoh dan elit politik, baik itu dari Syiah maupun Sunni harus berada dalam satu front, dan selain mengecam serangan teror, mereka harus mengambil langkah-langkah pencegahan."

Selama ini, pemerintah dan militer Pakistan mengklaim telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi kelompok-kelompok teroris di negara ini, namun kelanjutan kekerasan berdarah di Quetta –di mana sebelumnya, Komandan Angkatan Darat Pakistan berjanji untuk menjamin keamanan di kota ini– merupakan kegagalan besar bagi militer Pakistan. (RA)

Aug 13, 2017 15:43 Asia/Jakarta
Komentar