Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam komentar terbaru tentang perjanjian nuklir mengklaim bahwa Iran tidak mematuhi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

"Saya pikir Iran tidak sejalan dengan semangat kesepakatan," ujarnya pada Kamis lalu.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengecam Trump karena berusaha membatalkan perjanjian nuklir antara Iran dan Kelompok 5+1 termasuk AS pada tahun 2015.

"Presiden AS selalu ingin 'membunuh' perjanjian nuklir," tulis Zarif di akun Twitter resminya.

Menurut Zarif, Trump selalu ingin 'membunuh' JCPOA. Untuk menghindari pengucilan, dia mencoba menyalahkan Iran. Pernyataan itu memperlihatkan niat buruk Trump di samping pelanggaran teks dan semangat JCPOA oleh AS.

Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB – AS, Inggris, Perancis, Rusia dan Chna, ditambah Jerman – mencapai perjanjian nuklir pada 14 Juli 2015 dan mulai menerapkannya pada Januari 2016.

Dewan Keamanan PBB kemudian dengan suara bulat menyetujui sebuah resolusi yang secara efektif mengubah JCPOA menjadi kesepakatan internasional.

Berdasarkan kesepakatan, pembatasan diberlakukan terhadap aktivitas nuklir Iran dengan imbalan antara lain, penghapusan semua sanksi terkait nuklir terhadap Republik Islam.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga sangat menyayangkan skeptisisme Trump mengenai perjanjian nuklir Iran.

"Dalam pemerintahan Trump, mereka terus menyebut kesepakatan ini salah dan keliru, dan sangat disayangkan bahwa perjanjian yang sukses semacam ini sekarang agak diragukan," kata Lavrov dalam satu pernyataan pada Jumat lalu.

Namun, Trump bersikeras untuk meninggalkan perjanjian nuklir dengan berbagai alasan. Majalah Dallas News dalam sebuah laporan baru-baru ini mengkritik pendekatan Trump terhadap perjanjian nuklir dengan Iran.

"Pada bulan Oktober, Presiden Donald Trump ingin memperkenalkan Iran sebagai pelanggar perjanjian nuklir;  sebuah keputusan yang memungkinkan AS untuk kembali menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap siapapun yang berdagang dengan Tehran," tulis Dallas News.

Menurut majalah tersebut, tidak satu pun dari lima negara lainnya yang menegosiasikan perjanjian nuklir akan setuju dengan Trump bahwa kesepakatan tersebut harus dibatalkan.

"Kesepakatan itu berhasil, dan kami percaya ini merupakan pilihan terbaik bagi masyarakat internasional," kata Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson pada bulan lalu.

Jadi, jika Trump menyatakan pada Oktober nanti bahwa Iran telah melanggar, maka sebagian besar negara dunia, termasuk Inggris, Jerman dan Perancis akan menyalahkan Washington atas konsekuensinya, bukan Tehran.

Jika AS dipandang bertanggung jawab atas pelanggaran perjanjian tersebut, maka negara-negara lain mungkin menolak untuk mematuhi sanksi sepihak Trump, yang akan membuat sanksi tersebut sangat tidak bergigi. (RM)

Aug 13, 2017 17:44 Asia/Jakarta
Komentar