Dmitry Medvedev, Perdana Menteri Rusia dan Rodrigo Duterte, Presiden Filipina, Senin (13/11) bertemu di Manila dan menandatangani sembilan dokumen perjanjian kerja sama.

Kesembilan dokumen kerja sama yang mencakup dimensi luas mulai dari teknologi, pendidikan, ekstradisi penjahat, pendidikan tinggi dan komunikasi itu ditandatangani di sela pertemuan petinggi negara-negara ASEAN yang turut dihadiri oleh sejumlah petinggi negara bukan anggota.

Peningkatan kerja sama Filipina dan Rusia mengindikasikan tekad serius Rodrigo Duterte, Presiden Filipina untuk memperkuat kerja sama negara itu dengan negara-negara seperti Rusia dan Cina. Dengan maksud untuk mengurangi ketergantungan Manila kepada Amerika Serikat dan diambilnya sikap independen, saat ini Duterte sedang berusaha memperluas cakupan kebijakan luar negeri Filipina.

Selain kerja sama ekonomi, kerja sama dalam masalah perang melawan terorisme juga menjadi perhatian Manila dan Moskow. Serangan kelompok teroris Maute afiliasi Daesh ke Marawi, Mindanao, telah memicu bahaya serius di kawasan dan negara-negara seperti Rusia. Oleh karena itu, jika terorisme tidak ditangani serius, maka perbatasan Rusia pun akan terancam bahaya.

Maka Rusia pun bertindak cepat dengan menjual senjata ke Filipina dengan maksud memperkuat Angkatan Bersenjata negara itu dalam melawan kelompok-kelompok teroris. Pada saat yang sama, Amerika mengumumkan tetap menganggap Filipina sebagai sekutunya di kawasan Asia Tenggara.

Sung Kim, Duta Besar Amerika untuk Filipina terkait hal ini mengatakan, Amerika adalah satu-satunya sekutu militer Filipina, dan Washington menjalin hubungan erat dengan Manila. Saya sejujurnya merasa takut dan terancam menyaksikan bahwa Rusia dan Cina sedang mengirim bantuan militer ke Filipina.

Wakil Direktur Institut Negara-negara Persemakmuran Rusia, CIS menuturkan, kecenderungan Filipina ke Cina dan Rusia termasuk pembelian senjata, jika berhasil, maka akan terbuka peluang bagi Manila untuk menjalankan kebijakan moderat dalam memilih sekutu.

Strategi Duterte yang menekankan slogan anti-Amerika dan memprotes kinerja Washington terutama terkait negaranya, dinilai berhasil menarik dukungan mayoritas rakyat Filipina atas kebijakannya soal Amerika. Pasalnya, kehadiran pangkalan-pangkalan militer Amerika di Filipina dalam beberapa tahun terakhir bukan saja tidak membantu menyelesaikan masalah negara itu, bahkan meningkatkan angka korupsi dan penyelundupan narkotika.

Pada kenyataannya, manuver Amerika di Filipina dilakukan dengan maksud agar negara itu selalu bergantung kepadanya. Oleh karena itu, strategi Manila yang lebih condong ke arah Timur sekarang, dianggap dapat membangkitkan kekhawatiran Amerika.

Salah seorang pakar Rusia mengatakan, tindakan dan statemen Presiden Filipina, dari sudut pandang perimbangan kekuatan di kawasan, menyebabkan gangguan serius pada kebijakan Amerika dan kepentingan negara itu. Targetnya, meningkatkan kredibilitas dan kehormatan Filipina. Karenanya, Duterte lewat penguatan hubungan dengan Rusia dan Cina, akan membuka sebuah arena politik baru di kawasan dan dalam kebijakan luar negeri Filipina.

Sementara Rusia yang saat ini berhadapan dengan berbagai sanksi Barat, menyambut baik perluasan hubungan terutama di bidang militer dan keamanan dengan sejumlah negara dunia. Moskow dengan membuka pasar penjualan senjata baru, dan masuk ke dalam wilayah-wilayah dominasi Amerika, membuktikan bahwa iapun punya kemampuan untuk menggeser kebijakan Washington. (HS)

Nov 14, 2017 19:54 Asia/Jakarta
Komentar