• Rohingya
    Rohingya

Militer Myanmar hingga kini masih tetap melindungi petugas keamanan negara yang melakukan aksi genosida dan pembunuhan massal terhadap Muslim Rohingya.

Sebuah kelompok HAM internasional mengungkapkan pihak militer Myanmar berupaya untuk menyembunyikan fakta terjadi kejahatan masif yang dilakukan pasukan keamanan negara ini terhadap Rohingya.

Militer Myanmar  membantah tuduhan kekerasan yang meluas, termasuk pembunuhan, pemerkosaan dan penghancuran harta benda terhadap komunitas Muslim Rohingya yang dianiaya di negara bagian Rakhine.

Dalam sebuah laporan internal yang dirilis Senin, militer Mynamra justru menyalahkan kekerasan tersebut dilakukan oleh anggota kelompok bersenjata, Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), yang diklaim menyerang 30 pos polisi dan sebuah markas batalyon tentara pada 25 Agustus lalu.

"Pasukan keamanan tidak melakukan penembakan terhadap penduduk desa yang tidak bersalah dan tidak ada kasus kekerasan seksual maupun pemerkosaan terhadap wanita. Mereka juga tidak menangkap, memukul dan membunuh penduduk desa," klaim militer Myanmar dalam sebuah laporan.

Tapi klaim tersebut dibantah oleh fakta yang ditemukan di lapangan, termasuk yang disampaikan Direktur Regional Asia Pasifik Amnesti internasional, James Gomez yang mengatakan, Militer Myanmar membantah pihaknya melakukan pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Muslim Rohingya, tapi fakta menunjukkan sebaliknya.

"Banyak dokumen faktual yang menunjukkan terjadi aksi pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran daerah yang dilakukan tentara di berbagai desa yang dihuni orang-orang Rohingya," ujar Gomez.

Menurutnya, kejahatan sebagian tentara Myanmar terhadap minoritas rohingya masuk dalam kategori kejahatan terhadap kemanusiaan.(PH)

Nov 15, 2017 06:11 Asia/Jakarta
Komentar