Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sebelum terbang ke Paris pada Minggu (10/12/2017), menuduh negara-negara Eropa bersikap munafik dan standar ganda.

Dia mengkritik sikap kompak Eropa dalam menentang keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait status al-Quds, dan mengatakan bahwa meskipun dirinya menghormati Eropa, tapi ia tidak dapat menerima standar ganda.

Hampir semua negara Eropa mengkritik keras keputusan Trump yang mengumumkan al-Quds sebagai Ibukota rezim Zionis Israel. Dukungan negara-negara Eropa terhadap ketentuan 15 resolusi Dewan Keamanan PBB, yang memperkenalkan Quds sebagai daerah pendudukan, telah memicu kemarahan Netanyahu.

Namun, perselisihan antara Eropa dan Israel tidak terbatas pada masalah masa depan al-Quds dan pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke kota tersebut. Perlahan tapi pasti, perspektif Eropa tentang rezim Zionis telah berubah dalam dua dekade terakhir.

Sejauh ini, pemerintah-pemerintah Eropa masih berkomitmen untuk membela Israel, tapi kritik terhadap rezim Zionis telah meningkat di tengah publik terutama para elite Eropa dan kaum mudanya.

Ada beberapa alasan untuk pergeseran ini. Misalnya, generasi muda – tidak seperti orang paruh baya Eropa – tidak menganggap dirinya bersalah atas pembunuhan warga Yahudi selama Perang Dunia II, dan karena itu tidak segan-segan untuk mengkritik Israel.

Perilaku brutal penguasa Israel saat ini juga efektif dalam mengubah perspektif orang-orang Eropa. Rezim Netanyahu menghalalkan segala cara untuk menindas rakyat Palestina.

Lebih dari 1,5 juta orang diblokade di Jalur Gaza, dan daerah kecil ini sekarang dianggap sebagai penjara terbesar di dunia. Israel juga sedang merampas tanah rakyat Palestina dan membangun pemukiman Zionis di wilayah pendudukan, dengan melanggar semua hukum internasional.

"Di sini, ada penggunaan kekerasan yang berlebihan terhadap orang-orang Palestina ... pembunuhan ilegal dan penghilangan paksa warga Palestina selalu terjadi meskipun mereka tidak menimbulkan ancaman apapun bagi tentara pendudukan," kata Maha al-Husseini, anggota Pusat Hak Asasi Manusia Eropa-Mediterania.

Di abad ke-21 dan di tengah tumbuhnya media-media independen, maka pelanggaran hukum seperti itu tidak bisa disembunyikan dari mata dunia, termasuk warga Eropa.

Jelas tidak bisa dipahami oleh para elit Eropa, akademisi, dan pemuda bahwa tentara Israel menghancurkan rumah-rumah penduduk dan menjebloskan para remaja ke penjara karena melempar batu. Oleh karena itu, suara protes terhadap pelanggaran HAM di wilayah Palestina oleh Israel, akan terdengar semakin nyaring di Eropa.

Dalam kondisi seperti ini, tindakan Trump dalam mengubah status al-Quds pendudukan telah memicu kemarahan bahkan dari negara-negara Eropa terhadap Israel. Hal ini dapat menghalangi Zionis untuk memperoleh dukungan efektif di Eropa karena tekanan opini publik. (RM)

Tags

Dec 11, 2017 17:24 Asia/Jakarta
Komentar