Komentar terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang kesalahan strategis negaranya dalam pengucuran bantuan keuangan ke Pakistan selama lebih dari satu dekade, mendapat respon keras dari pemerintah Islamabad.

Trump dalam sebuah kicauan di Twitter-nya menulis, "Amerika Serikat telah bersikap bodoh dengan memberikan bantuan 33 miliar dolar ke Pakistan selama 15 tahun terakhir, dan Islamabad tidak memberikan apapun kepada kita selain kebohongan dan tipuan."

Menanggapi kicauan tersebut, Kementerian Luar Negeri Pakistan memanggil Duta Besar AS di Islamabad, David Hale untuk menyampaikan protes atas tuduhan Trump terhadap Pakistan.

Para aktivis politik dan partai-partai Pakistan juga mereaksi keras komentar presiden AS. Senator Sherry Rehman dari Partai Rakyat Pakistan (PPP) di akun Twitter-nya menulis, "Pernyataan Trump membuat Pakistan lebih tidak percaya pada Gedung Putih."

Shireen Mazari, anggota Parlemen Pakistan dari Partai Tehreek-e-Insaf (PTI), menyebut Trump tak tahu malu dan mengatakan, kami telah mengorbankan warga dan tentara kami untuk sebuah perang, yang seharusnya tidak perlu kita terlibat di dalamnya.

Tweet tersebut adalah komentar kedua Trump yang secara langsung menyerang Pakistan sejak kehadirannya di Gedung Putih pada Januari 2017.

Pada Agustus 2017, Trump ketika mengumumkan strategi baru AS di Afghanistan, terang-terangan menyebut Pakistan sebagai tempat yang aman bagi teroris, di mana menurutnya telah meningkatkan instabilitas di Afghanistan.

Menurut Trump, pengucuran bantuan 33 miliar dolar ke Pakistan sejak 2001, tidak membawa pencapaian apapun bagi Amerika dalam perang melawan terorisme dan menumpas Taliban di Afghanistan.

Strategi Trump terkait Pakistan, mencakup ancaman untuk menghentikan kerjasama dan bantuan finansial dan militer ke Islamabad. Pendekatan seperti ini bisa membawa dampak yang merugikan bagi AS sendiri.

Waheed Mozhdah, seorang analis politik Afghanistan, mengatakan Amerika sedang memaksakan sebuah strategi baru untuk Pakistan dan tekanan terhadap negara itu hanya akan memperluas zona perang dan memperparah perang di Afghanistan.

Ancaman dan penghinaan terhadap Pakistan akan membawa dampak negatif terhadap transformasi di Afghanistan dan perang melawan terorisme. Selain kemarahan pemerintah, pendekatan Trump juga akan memicu reaksi tajam dari rakyat Pakistan serta kelompok politik dan agama.

Trump pernah menolak undangan perdana menteri Pakistan untuk bertemu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pada September 2017, dan media-media Pakistan menyebut penolakan itu sebagai penghinaan Washington terhadap Islamabad.

Tekanan dan ancaman Amerika terhadap Pakistan akan mendorong negara itu untuk memperkuat hubungannya dengan Cina dan Rusia, yang merupakan rival Amerika pada tingkat global.

Seorang analis politik, Ahmad Saeedi mengatakan, Pakistan ingin menunjukkan kepada Amerika bahwa jika Anda tidak berkompromi dengan kami dan tidak memenuhi kebutuhan kami, kami terpaksa berteman dengan rival Anda (Cina dan Rusia).

Itulah mengapa Washington hanya berani menggertak dan mengancam membekukan bantuan keuangan, karena khawatir Islamabad akan memperkuat kerjasama dengan Beijing dan Moskow dalam menyikapi ketegangan hubungan dengan AS. (RM)

Tags

Jan 03, 2018 14:45 Asia/Jakarta
Komentar