Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan mengubah hubungan perdagangan dengan mitra utama negara ini, khususnya Cina dan Korea Selatan.

Trump di depan sejumlah anggota Partai Republik dan Demokrat mengatakan, banyak negara yang mengambil keuntungan besar dari Amerika, oleh karena itu,Washington tengah mengkaji kebijakan penerapan tarif dan kouta impor baja dan aluminium.

Perdagangan AS-Cina

Donald Trump saat kampanye pilpres juga menjanjikan bahwa jika dirinya melenggang ke Gedung Putih, maka ia akan menekan defisit perdangangan Amerika dan meningkatkan ekspor produk serta jasa Amerika. Saat ini, Amerika  dengan defisit perdagangan sekitar 550 miliar dolar, berada di puncak negara dunia. Angka ini sekitar 375 miliar dolar atau sekitar 68 persen merupakan defisit volume perdagangan AS dengan Cina.

Kubu nasionalis ekonomi di Amerika yang diwakili Trump, berusaha melakukan perubahan yang menguntungkan produsen dan eksportir Amerika dengan slogan seperti American First di hubungan perdagangan dengan kekuatan besar ekonomi seperti Cina, Jepang, Korsel, Kanada dan 28 anggota Uni Eropa.

Kelompok ini menekankan bahwa pengambilan kebijakan seperti penurunan pajak, denda finansial bagi aktivis AS yang menanam saham di luar negeri, pemberian insentif kepada perusahaan yang memindahkan pusat produksinya dari luar ke wilayah Amerika dan pada akhirnya memaksa negara dan blok perdagangan untuk merevisi kesepakatan bilateral dan multilateral, akan menyelesaikan kendala defisit volume perdagangan Amerika.

Meski demikian, data menunjukkan selama satu tahun pertama kepemimpinan Trump serta meski ada penekanan terhadap kebijakan proteksionis perdagangan dan pelaksanaan tarif baru bagi impor sejumlah produk, defisit neraca perdagangan Amerika meningkat. Peningkatan ini sekitar 12 persen di perdagangan global dan 8 persen dengan Cina.

Kegilaan yang tak terpuaskan konsumen Amerika membeli produk asing yang murah, menurunnya efisiensi dan keuntungan relatif produsen Amerika, kebijakan tak tepat perdagangan dan laju kekuatan ekonomi rival utama AS selama beberapa dekade terakhir membuat setiap pemerintahan di negara ini gagal menyelesaikan kendala  defisit neraca perdagangan.

Presiden AS Donald Trump

Diprediksikan proses ini, meski ada sejumlah langkah terbatas dan sementara pemerintah Turmp, selama beberapa tahun kedepan akan terus berlanjut. Selain itu, keputusan potensial pemerintah Trump saat ini untuk masuk ke perang perdagangan akan menimbulkan dampak negatif bagi pasar ekspor Amerika.

Michael Strain, pakar ekonomi di lembaga investasi Amerika mengatakan, langkah balasan Cina dan Eropa terhadap keputusan Trump akan sangat merugikan eksportir Amerika dan ketika Trump fokus pada isu lapangan pekerjaan di negara ini, maka langkah balasan tersebut akan berujung pada menurunnya lapangan pekerjaan di Amerika Serikat. (MF)

Tags

Feb 14, 2018 18:56 Asia/Jakarta
Komentar