• Presiden Nicolas Maduro.
    Presiden Nicolas Maduro.

Pemerintah Venezuela menyebut Amerika Serikat sebagai rezim agresor terbesar dunia, yang berusaha mengesankan dirinya sebagai korban terbesar.

Seperti dilaporkan televisi teleSUR, Kementerian Luar Negeri Venezuela dalam sebuah statemen, Sabtu (3/3/2018) menyatakan, "Pemerintah Karakas mengecam agresi rezim AS yang terus berlanjut dengan memperluas perintah eksekutif, dan menolak klaim mereka yang menyebut Venezuela sebagai 'ancaman luar biasa' terhadap keamanan AS."

"Perpanjangan sanksi bertujuan untuk mengkampanyekan dan membenarkan penggulingan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro yang sah dan konstitusional," tambahnya.

"Dengan memperluas sanksi, rezim AS ingin menampilkan dirinya sebagai korban, padahal rezim itu telah mengubah dunia menjadi tempat yang semakin tidak aman, dan mereka adalah ancaman nyata bagi perdamaian dan keamanan internasional," tegas Kemenlu Venezuela.

Kemenlu Venezuela mengatakan bahwa perpanjangan sanksi adalah kejahatan agresi yang dapat dihukum oleh hukum internasional. Tindakan ini bertujuan untuk mengintervensi urusan Venezuela dan mempengaruhi pemilu 20 Mei.

Pada saat yang sama, Presiden Bolivia Evo Morales memposting sebuah kicauan di Twitter, yang mencemooh keputusan terbaru AS terhadap pemerintahan Maduro.

"AS dengan mendukung kudeta dan campur tangan dalam pemilu negara lain, merupakan ancaman nyata bagi dunia," tulisnya.

Presiden AS Donald Trump, telah memperpanjang sanksi terhadap pemerintah Venezuela satu tahun lagi. Trump dalam sebuah surat ke Kongres, mengklaim sanksi itu dikenakan karena pelanggaran hak asasi manusia dan situasi politik di Venezuela. (RM)

Tags

Mar 04, 2018 18:14 Asia/Jakarta
Komentar