• Tentara Turki di Afrin Suriah
    Tentara Turki di Afrin Suriah

Presiden Turki dalam statemen terbarunya mengklaim pasukan negara ini berhasil menguasai kota Afrin di wilayah utara Suriah.

Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa sebagian besar kota Afrin berhasil dikuasai dalam operasi ranting zaitun di hari ke-58 sejak aksi militer itu dimulai. Ditegaskannya, operasi militer tersebut dilancarkan pasukan Turki yang didukung milisi Pasukan Pembebasan Suriah (FSA).

Recep Tayyip Erdogan

Pihak militer Turki Minggu pagi (18/3) mengumumkan pasukan negaranya berhasil menguasai dua pertiga kota Afrin Suriah. Pada saat yang sama, pejabat pemerintah daerah kota Afrin mengabarkan setidaknya 150.000 orang warga wilayah ini mengungsi meninggalkan rumah mereka untuk menyelamatkan diri dari agresi militer yang dilancarkan pemerintah Turki.

Sejak 20 Januari 2018, pasukan Turki memasuki wilayah Suriah dan melancarkan operasi ranting zaitun bersama loyalisnya, Pasukan Pembebasan Suriah dengan dalih menumpas oposisi Kurdi.

Kini, setelah pasukan Turki berhasil menguasai kota Afrin yang merupakan bagian dari wilayah Suriah, langkah apa yang akan diambil pemerintah Ankara selanjutnya ?

Apakah militer Turki akan mengakhiri operasi militer tersebut, ataukah sebaliknya justru akan memperluas aksinya ?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu disinggung pernyataan pejabat Turki mengenai ruang lingkup geografi dan waktu aksi militer tersebut. Sebelum operasi militer digelar, pemerintah Ankara menyatakan akan membatasi aksinya di Afrin. Tapi  tampaknya, pernyataan ini disampaikan untuk meredam penentangan dan protes internasional terhadap serangan militer itu.

Pasalnya, para pejabat tinggi Turki sedang mempersiapkan skenario perluasan operasi militernya untuk menguasai wilayah lain di utara Suriah. Penempatan pasukan bersama alutsista besar-besaran yang dilancarkan militer Turki di wilayah utara Suriah menjadi indikator penting mengenai ambisi Ankara untuk memperluas serangan militernya di Suriah.

Pengamat masalah Turki, Asron Stein mengatakan bahwa Turki akan segera memperluas serangannya di wilayah utara Suriah. Peneliti internasional ini menilai pasukan Turki dalam waktu dekat tidak akan meninggalkan wilayah Suriah.

Tentu saja, aksi militer Turki ini jelas melanggar kedaulatan Suriah dan bertentangan dengan hukum internasional. Di sisi lain, operasi militer ranting zaitun telah menimbulkan korban yang besar, dan perluasan aksi tersebut semakin menambah jumlah korban dari pihak warga sipil Suriah.

Berlanjutnya masalah ini akan menempatkan Turki sebagai negara agresor yang menyerang negara tetangganya sendiri. Selain menyulut protes di tingkat regional dan internasional sebagai reaksi atas sepak terjang destruktif militer Turki di Suriah, isu ini akan meningkatkan ketidakpuasan di dalam negeri, terutama dari kalangan Kurdi yang merupakan bagian dari warga Turki.

Pemerintahan Erdogan harus memperhatikan masalah tersebut, karena aksi militer Turki di Suriah telah mengarah pada pelanggaran hak asasi manusia dan hukum internasional. (PH)

Tags

Mar 19, 2018 11:43 Asia/Jakarta
Komentar