• Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan
    Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengancam akan menyerang wilayah utara Irak jika pemerintah Baghdad tidak bekerja sama dengan Ankara dalam upaya menumpas kelompok oposisi Kurdi di kota Sinjar.

Erdogan dalam statemen terbarunya yang disampaikan di Istanbul mengatakan bahwa pemerintahannya telah menyampaikan seruan kepada Baghdad mengenai keberadaan milisi Kurdi di dataran tinggi Sinjar. Presiden Turki menegaskan akan melancarkan serangan ke wilayah Sinjar jika pemerintah Irak tidak mengambil tindakan tegas untuk menumpas kelompok bersenjata Kurdi di wilayah utara negaranya.

Turki mengklaim daerah pegunungan sekitar kota Sinjar yang terletak 100 kilometer perbatasan negara ini, dan dekat perbatasan Suriah sebagai tempat persembunyian pasukan bersenjata Partai Buruh Kurdistan (PKK).

Ankara menilai PKK sebagai kelompok teroris. Sejak tahun lalu, militer Turki melancarkan operasi penumpasan kelompok Kurdi tersebut di wilayah Turki dan utara Irak. Proses perundingan damai antara PKK dan Turki telah dimulai sejak Desember 2012. Tapi kemudian dihentikan setelah terjadi ledakan bom di kota Suruc pada Januari 2015.Setelah itu, kedua pihak melancarkan aksi saling serang yang menewaskan sedikitnya 600 tentara Turki dan lebih dari 7.000 orang personil PKK.

Klaim Turki mengenai kehadiran teroris dan kelompok bersenjata Kurdi di wilayah utara Irak bertumpu pada berbagai laporan mengenai serangan yang mereka lancarkan terhadap pasukan keamanan negara ini. Masalah tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintahan otonomi Kurdistan yang selama ini tidak memperdulikan kekhawatiran negara-negara tetangga Irak, terutama Turki. Pasalnya, wilayah tersebut menjadi tempat yang aman untuk persembunyian milisi bersenjata Kurdi, termasuk PKK.

Pasca kegagalan referendum Kurdistan Irak, pemerintah otonomi Kurdi semakin melemah dan terjadi friksi di antara mereka sendiri, terutama antara kelompok bersenjata dan pihak Arbil. Kini, pemerintah otonomi Kurdistan di Arbil tidak mampu untuk mengontrol kelompok bersenjata Kurdi yang memilih jalan lain dengan melancarkan perlawanan bersenjata, terutama melawan Turki.

Pasukan PKK

Pengamat internasional, Greg Bruno menilai pasukan PKK selama bertahun-tahun telah berada di wilayah utara Irak, dan mereka berulangkali melancarkan serangan terhadap warga sipil dan militer negara-negara tetangga Irak. Analis Dewan Hubungan Internasional (CFR) ini mengklaim pasukan PKK melancarkan serangan bersenjata, pemboman, dan penculikan demi mewujudkan tujuannya, bahkan warga sipil yang menolak bekerja sama dengan mereka menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata tersebut.

Di sisi lain, Turki tentu saja harus mempertimbangkan aturan internasional mengenai kedaulatan sebuah negara. Penyerangan terhadap wilayah Irak jelas melanggar HAM dan kedaulatan negara Arab itu. Masalah tersebut akan menyulut kemarahan rakyat Irak, sekaligus mendorong peningkatan tensi ketegangan antara kedua negara. Selain itu, dalam jangka panjang, Turki akan dicatat sebagai negara agresor oleh masyarakat dunia.

Selain opsi serangan militer, Turki bisa menempus jalur diplomasi untuk meredam kekhawatirannya selama ini terhadap potensi serangan PKK.(PH) 

 

Tags

Mar 20, 2018 18:30 Asia/Jakarta
Komentar