• Sanksi pertama AS terhadap Iran dijatuhkan pada 22 Mei 1980.
    Sanksi pertama AS terhadap Iran dijatuhkan pada 22 Mei 1980.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova pada hari Rabu (23/5/2018) mengatakan, sebuah kampanye melawan Iran telah mendapatkan momentum di AS, karena Washington telah memilih kebijakan ultimatum dan ancaman terhadap Tehran.

Zakharova menuturkan AS telah mengajukan syarat yang sepenuhnya tidak dapat diterima ke Iran. Dia menegaskan, "Kami tidak pernah mendukung kebijakan sanksi sepihak dan tidak akan pernah melakukan itu, karena kami percaya mereka adalah ilegal. Kami bertekad untuk memajukan kerjasama komprehensif kami dengan Iran."

Dalam pandangan Moskow, pengumuman 12 syarat dalam konteks strategi baru Washington terhadap Tehran oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, adalah contoh lain dari unilateralisme AS yang ditekankan oleh Presiden Donald Trump.

Trump mengabaikan hukum dan lembaga-lembaga internasional demi mengejar kepentingan dan ambisi Amerika di bawah slogan "America First." Dia mulai mengubah dunia sebagai medan perang, di mana AS – dengan klaim sebagai kekuatan adidaya – berhak untuk memaksakan kebijakan dan pendekatannya kepada pihak lain.

Fenomena ini sangat mengkhawatirkan dan bahkan Eropa juga ketar-ketir dengan pendekatan Trump. Para anggota Parlemen Eropa telah menyerukan pertemuan bersama dengan Trump untuk membahas unilateralisme AS dalam isu-isu internasional. Seorang wakil Jerman di Parlemen Eropa, Elmar Brok mengatakan, persiapan untuk melakukan pertemuan bersama ini harus dilakukan secepat mungkin.

Contoh terbaru unilateralisme AS adalah pengumuman penarikan diri Washington dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada 8 Mei 2018. Kesepakatan ini dicapai pada Juni 2015 setelah bertahun-tahun perundingan, namun Trump secara sepihak menarik diri dengan alasan kesepakatan nuklir tidak memenuhi kepentingan AS.

Zakharova mengkritik langkah AS keluar dari kesepakatan nuklir dan mengatakan, "Kami akan terus bekerja untuk mempertahankan kesepakatan. Tehran telah mematuhi kewajibannya, sebagaimana ditegaskan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Langkah lain yang selalu menjadi andalan AS untuk mendukung unilateralismenya adalah menggunakan instrumen sanksi terhadap lawan-lawannya. Saat mengumumkan strategi baru Washington terhadap Tehran, Mike Pompeo juga mengancam Iran dengan sanksi terberat dalam sejarah.

Pada dasarnya, AS menggunakan sanksi sebagai instrumen untuk memaksa negara lain memenuhi tuntutan mereka. Pemerintah Rusia sudah sering mengecam pendekatan ini dan menganggapnya tidak dapat diterima.

Strategi baru AS terhadap Iran dan tuntutan ilegal yang disampaikan Pompeo, sebenarnya merupakan sebuah ekspresi dari keinginan dan hasrat, yang selalu menuntut untuk dipenuhi selama 40 tahun terakhir. Dalam hal ini, majalah Foreign Policy menulis bahwa 12 syarat yang diumumkan oleh menlu AS untuk Iran, hanya sebatas mimpi yang tidak akan pernah terwujud. (RM)

Tags

Mei 24, 2018 16:20 Asia/Jakarta
Komentar