• Angela Merkel dan Donald Trump
    Angela Merkel dan Donald Trump

Hari pertama konferensi tingkat tinggi NATO di Brussels berakhir dengan munculnya perang mulut keras antara Presiden AS, Donald Trump dengan pemimpin Jerman sebagai anggota terpenting Pakta Pertahanan Atlantik Utara.

Tampaknya, KTT NATO kali ini menjadi ajang sengketa antara Angela Merkel dengan Donald Trump. Setelah bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg di Brussels, Trump menyebut Jerman berada dalam pengaruh total Rusia. Tentu saja, pernyataan presiden AS tersebut menyulut reaksi keras dari kanselir Jerman.

"Kami di NATO menggelontorkan biaya besar untuk keamanan Jerman dan Perancis serta negara lain dari potensi ancaman Rusia. Tapi ironisnya mitra kami justru menjalin kontrak terpentingnya dengan Rusia. Jerman menggantungkan kebutuhan energinya kepada Rusia," ujar Trump.

Statemen Trump tersebut menjadi sindiran pedas yang dilemparkan terhadap Eropa Barat, terutama Jerman sebagai anggota penting NATO yang masih menjalin hubungan hangat dengan Rusia, terutama kerja sama di bidang energi. Bahkan saat ini kedua negara tersebut sedang bekerja sama dalam proyek pipa gas Nord Stream yang melalui laut utara ke Jerman.

Merkel mereaksi statemen Trump dengan mengatakan bahwa Jerman tidak akan mengekor kebijakan Gedung Putih. Ditegaskannya, Jerman akan mengambil tindakan yang independen.

 Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg 

 

Selain Merkel, para pejabat Jerman lainnya juga melemparkan kritikan keras terhadap Trump. Menlu Jerman, Heiko Maas menegaskan bahwa Berlin tidak akan pernah bersedia menjadi sandera bagi Rusia dan AS, oleh karena itu, senantiasa bertindak secara bebas.

Masalah penting yang menjadi pangkal perselisihan antara Washington dan Berlin mengenai isu anggaran militer negara-negara Eropa anggota NATO.

Di tahun 2014, anggota NATO bersepakat untuk mengalokasikan dua persen dari produksi domestik brutonya untuk mendukung anggaran militer organisasi keamanan internasional ini hingga tahun 2024. Menurut Trump, hanya delapan negara yang mematuhinya.

Sebelum digelar KTT NATO terbaru, Trump meminta negara-negara anggota NATO mengalokasikan empat persen dari produk domestik brutonya untuk mendukung anggaran organisasi keamanan ini.

Trump juga pernah berkicau di Twitternya mengenai kekecewaan dirinya atas keputusan final anggota NATO yang mengalokasikan anggaran sebesar dua persen dari PDB hingga tahun 2024.

Trump menyinggung dana yang dikeluarkan Jerman untuk membiayai proyek pipa gas dari Rusia, yang dinilainya besar. Menurut Presiden AS ini, anggota NATO harus membayar kewajiban iuran anggaran militer saat ini, bukan tahun 2025. tentu saja, pernyataan Trump menyulut kemarahan para pejabat tinggi Jerman.

Merkel mengkritik keras statemen Trump yang mengklaim AS mendanai anggaran NATO. Kanselir Jerman ini menegaskan, Jerman juga telah banyak bekerja untuk NATO.  Menurutnya, Jerman adalah penjamin pasukan terbesar kedua di NATO dan bagian terbesar dari potensi pasukan Jerman berada di NATO, dan hingga kini sudah berpartisipasi besar dalam operasi yang berkaitan dengan Afghanistan. Apa yang kami lakukan juga demi membela kepentingan AS.

Statemen Merkel didukung Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk yang menyatakan bahwa Eropa tidak pernah melalaikan masalah kewajiban finansialnya. Bahkan dana yang digelontorkan negara-negara Eropa yang dialokasikan untuk NATO lebih besar dari anggaran militer negara besar seperti Cina.(PH)

 

    

Jul 12, 2018 18:08 Asia/Jakarta
Komentar