Sejumlah tema yang diulas dalam acara Amerika Tinjauan dari Dalam kali ini adalah Ancaman Trump terhadap NATO. Politik stick and carrot Trump terhadap Iran. Rencana sanksi AS terhadap Rusia. Trump Terima Surat kedua Kim. Drama penghentian dukungan AS kepada Saudi

Donald Trump, sejak masa kampanye pilpres Amerika pada tahun 2016 dan setelah melenggang ke Gedung Putih, berulangkali dan dalam berbagai kesempatan, memperingatkan ketidakpedulian sejumlah negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam mencapai tujuan pakta tersebut, termasuk alokasi dua persen dari produk domestik bruto mereka untuk sektor pertahanan dan militer serta rendahnya tingkat partisipasi mereka dalam mendanai NATO.

 

Trump, dalam pernyataan terbarunya, menuduh NATO memanfaatkan Amerika Serikat. Trump mengatakan, "Kami telah membayar biaya menjaga Eropa dan hingga kini kami belum menerima apapun. Sementara itu, sistem di Amerika Serikat untuk menentang pendekatan keras Trump terhadap NATO, dalam hal ini, sekelompok senator Demokrat dan Republik, menggelar pertemuan dengan sembilan perwakilan negara NATO dan menekankan komitmen Washington terhadap NATO.

 

Dick Durbin, senator senior Demokrat, mengakui dilakukannya pertemuan khusus sekelompok senator Republik dan Demokrat dengan perwakilan dari sembilan negara NATO Eropa dan non-Eropa untuk meyakinkan mereka tentang komitmen Senat AS terhadap aliansi militer Barat ini. Durbin mengatakan, "Semua orang tahu bahwa dia (Trump) adalah aktor hebat dalam pertemuan itu, dan tujuan dari pertemuan itu adalah untuk mengatasi beberapa hal yang dia katakan dan lakukan, dan pernyataan dan tindakan ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan."

Dick Durbin, senator senior Demokrat

 

Richard Shelby, senator Republikan dalam hal ini mengatakan, "Tujuan dari pelaksanaan pertemuan tersebut adalah untuk memberikan kepastian soal komitmen Senat AS terhadap NATO." Disebutkan bahwa sembilan negara Eropa dan non-Eropa NATO dalam pertemuan tersebut termasuk di antaranya Duta Besar Polandia untuk Amerika Serikat.

 

Presiden Amerika Serikat dengan mengulangi sikap liciknya terhadap Iran mengklaim bahwa siap memperbaiki hubungan kedua negara.Trump pekan lalu kembali mengritik Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan menekankan keputusannya untuk keluar dari kesepakatan ini serta berharap semua ini akan baik untuk Amerika dan Iran.

 

Menjelang pemilu sela 2018 Kongres Amerika Serikat, Trump dalam rangka kampanye untuk partai Republik melakukan kunjungan ke kota Wilkes-Barre, di negara bagian Pennsylvania dan mengatakan bahwa Amerika telah keluar dari kesepakatan nuklir mengerikan, berbiaya besar dan tidak efektif dengan Iran.Trump kembali mengulangi ilusi sebelumnya dan mengklaim bahwa Iran saat ini sangat berbeda dengan Iran empat bulan sebelumnya.

 

Beberapa hari sebelumnya, Trump dalam sebuah konferensi pers menyatakan kesiapannya untuk melakukan pembicaraan denga Iran tanpa prasyarat. Keinginan Trump untuk berunding itu mengemuka di saat Washington akan segera memberlakukan sanksi ilegal terhadap Iran tiga bulan mendatang. Pemerintah Amerika Serikat berharap bahwa dapat mengancam Iran untuk berunding dengan menodongkan senjata ke arah bangsa Iran. Namun politik tersebut telah terbukti tidak efektif di hadapan bangsa Iran.

 

Trump mengatakan, "Jadi saya meyakini pertemuan, saya pasti akan bertemu jika mereka ingin bertemu, saya tidak tahu jika mereka siap atau tidak, mereka sedang dalam kondisi sulit saat ini. Tapi saya mengakhiri kesepakatan dengan Iran yang sangat konyol, saya percaya bahwa pada akhirnya mereka akan bertemu dan saya siap bertemu dengan mereka kapan saja mereka menginginkannya. Saya tidak melakukannya dari kekuatan atau kelemahan,  saya pikir itu adalah hal yang tepat dilakukan."

 

Wendy Sherman, mantan wakil menteri luar negeri AS dan pemimpin delegasi perunidng AS pada masa perundingan nuklir JCPOA mengatakan, "Orang-orang Iran memiliki budaya perlawanan dan segala bentuk pengabaian hak akan mereka artikan sebagai penyerahan diri."

 

Pekan lalu, sekelompok senator Amerika dari dua kubu; Demokrat dan mengajukan rancangan yang isinya selain menetapkan sanksi baru terhadap Rusia juga mewajibkan pemerintah Amerika untuk membahas kemungkinan memperkenalkan Moskow sebagai "pendukung terorisme".

 

Rancangan yang disponsori oleh perwakilan dari kedua partai besar AS yang memungkinkan penarikan diri negara itu dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) jika mendapat dukungan dua pertiga anggota Senat.

Senator Lindsay Graham

 

Salah satu sponsor dari rancangan tersebut, adalah Lindsay Graham, yang menilainya sebagai upaya untuk menghentikan kebijakan Rusia dan mengatakan, "Tujuan kami adalah untuk mengubah situasi saat ini dan menerapkan sanksi yang lebih ketat terhadap Rusia di bawah pemerintahan Vladimir Putin." Langkah-langkah ini akan berlanjut sampai Moskow berhenti mencampuri pemilu AS, menghentikan serangan cyber terhadap infrastruktur negara, mundur dari Ukraina, dan mengakhiri upayanya untuk mengakhiri krisis di Suriah.

 

Bob Menendez, Cory Gardner, Ben Cardin, John McCain, dan Jeanne Shaheen adalah di antara pendukung rancangan tersebut. RUU itu dirilis hanya selang beberapa bulan sebelum pemilihan Kongres AS dan meningkatnya spekulasi tentang upaya Moskow untuk mencampuri pemilu Amerika.

 

Duta Besar AS untuk Rusia, John Huntsman bulan lalu mengklaim bahwa Moskow sedang bersiap-siap campur tangan dalam pemilu Kongres mendatang. Huntsman mengatakan, "Kami memperingatkan mereka dalam hal ini." Kami akan menggelar pemilu pada bulan November dan jika ada gangguan seperti pada tahun 2016, kami tidak akan banyak berurusan dengan Rusia." Pemilu Kongres AS akan digelar pada 6 November 2018, di mana seluruh 435 kursi di DPR dan sepertiga dari kursi di Senat akan diperebutkan.

 

Juru bicara Gedung Putiih mengkonfirmasikan pengiriman surat kedua pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, untuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Menurut Sarah Sanders, penulisan surat semacam ini ditujukan untuk menindaklanjuti pertemuan puncak kedua pemimpin AS dan Korea Utara di Singapura dan komitmen yang telah disebutkan dalam pernyataan bersama kedua pihak.

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada 12 Juni 2018, bertemu di Singapura dan menandatangani perjanjian berisi empat poin, di mana dari perspektif kedua pihak dapat membuka jalan bagi perluasan hubungan antara Washington dan Pyongyang di masa depan.

 

Pemimpin Korea Utara mengirim surat keduanya kepada Trump, setelah berulang kali menyatakan ketidakpuasannya atas pernyataan terbaru para pejabat AS, terutama Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. Bhakan dalam kunjungan Pompeo ke Korea Utara baru-baru ini, pemimpin negara tuan rumah enggan menemuinya. Surat pemimpin Korea Utara untuk Trump tidak dipublikasikan, namun tampaknya Kim Jong-un lebih memilih Trump sebagai audien utamanya dalam hal upaya détente di Semenanjung Korea.

Donald Trump dan Kim Jong un

 

Isu lainnya di Amerika Serikat adalah sejak dimulainya perang koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap Yaman pada Maret 2015, Amerika Serikat merupakan pendukugn penting bagi perang brutal tersebut dengan menyediakan berbagai bantuan logistik, intelijen, dan bantuan militer untuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Baru-baru ini terungkap bahwa penasihat militer AS terlibat langsung dalam pertempuran al-Hudaydah di barisan koalisi pimpinan Saudi.

 

Sekarang Kongres AS berlagak mengutuk tindakan anti-hak asasi manusia tersebut dan Senat ingin membatasi dukungan Amerika Serikat untuk operasi koalisi Saudi-Emirat dalam perang di Yaman dalam kerangka rancangan anggaran Departemen Pertahanan AS (Pentagon). Pada Mei 2018, Senat AS juga mengajukan RUU untuk membahas penghentian dukungan AS kepada Arab Saudi dalam perang Yaman.

 

Namun para pengamat menilai langkah-langkah tipu muslihat tersebut tidak akan mampu mengelabuhi opini publik dunia bahwa pemerintah AS dan Pentagon, memainkan peran penting dalam kejahatan Arab Saudi di Yaman.

 

Tags

Aug 07, 2018 18:57 Asia/Jakarta
Komentar