• Tahap pertama sanksi AS terhadap Iran diberlakukan pada 7 Agustus 2108.
    Tahap pertama sanksi AS terhadap Iran diberlakukan pada 7 Agustus 2108.

Amerika Serikat telah mengadopsi pendekatan tertentu untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran setelah Washington meninggalkan kesepakatan nuklir.

Pada 8 Mei 2018, Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan nuklir dan akan mengembalikan sanksi-sanksi nuklir dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan.

Tahap pertama sanksi AS terhadap Iran diberlakukan pada 7 Agustus 2108, yang mengundang kecaman internasional. Tahap kedua sanksi yang menargetkan sektor minyak dan perbankan, akan dimulai pada 4 November mendatang.

Tujuan utama AS saat ini adalah mencegah penjualan minyak, memblokir transaksi perbankan Iran dengan dunia, dan melarang hubungan perdagangan antara Iran dan negara-negara lain, dan pada akhirnya membuat perekonomian Iran runtuh.

AS sedang melancarkan perang ekonomi besar-besaran dengan Iran. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada hari Kamis (16/8/2018) mengumumkan pembentukan Kelompok Aksi Iran untuk memandu dan mengkoordinasikan upaya melawan Tehran. Dia juga memperkenalkan Brian Hook sebagai ketua Kelompok Aksi Iran.

Brian Hook adalah direktur perencanaan kebijakan Departemen Luar Negeri AS, dan pernah ditunjuk oleh Presiden Donald Trump untuk membujuk Uni Eropa melakukan perubahan dalam kesepakatan nuklir.

“Washington sedang mengejar strategi komprehensif melawan Tehran. Kelompok ini bertujuan untuk mencoba mengubah perilaku Iran di tingkat global. Jika Iran berkomitmen pada perubahan fundamental dalam perilakunya, kita dapat berbicara tentang perundingan dengan Tehran,” ujarnya dalam konferensi pers di Washington.

Mike Pompeo.

Pada dasarnya, misi pembentukan kelompok itu adalah untuk membujuk negara-negara lain agar mengikuti AS dalam meningkatkan tekanan terhadap Iran. Mereka ingin meyakinkan Tehran untuk menerima 12 syarat yang pernah diumumkan Pompeo sehingga dengan cara ini, perubahan perilaku Iran akan terwujud.

AS ingin agar Iran menghentikan program nuklirnya secara penuh, mengakhiri program rudal, dan meninggalkan kebijakan regionalnya. Pada intinya, AS sedang berupaya menggulingkan sistem Republik Islam Iran.

Sebuah tim dari Deplu dan Departemen Keuangan AS sudah melakukan perjalanan ke lebih dari 24 negara untuk mendorong mereka menerapkan sanksi dan menciptakan tekanan maksimum terhadap Iran. Tim tersebut juga akan melakukan kunjungan ke tempat lain pada bulan-bulan mendatang.

Para pejabat AS mengklaim telah melakukan pembicaraan positif dan berharap bahwa negara-negara pembeli minyak Iran akan membantu Washington untuk menghentikan ekspor minyak Iran ke titik nol.

Namun, perkembangan saat ini menunjukkan bahwa harapan AS terkait sanksi minyak Iran akan sia-sia, karena beberapa pelanggan utama seperti Cina dan Turki, terus membeli minyak dari Iran, dan India juga ingin melakukan hal yang sama dengan meminta pengecualian dari AS. Selain itu, klaim para pejabat Washington bahwa pasar tidak akan bergejolak dengan menghapus minyak Iran, adalah tidak benar.

Para pelaku pasar minyak memprediksi bahwa sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran bisa menaikkan harga minyak menjadi 150 dolar per barel. Pengamat pasar minyak, Pierre Andurand mengatakan, "Surplus OPEC sekarang telah mencapai level terendah dalam sejarah, ini akan menjadi sebuah tantangan besar dan harga minyak akan naik menjadi 150 dolar per barel dalam dua tahun ke depan.”

Kondisi ini akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi global dan tidak akan diterima oleh banyak negara. Di samping itu, AS sedang bergerak sendirian dalam menerapkan babak baru sanksi terhadap Iran, tanpa didukung oleh sekutu Eropa dan negara-negara lain. Washington sedang menggunakan kekuatan untuk memaksa negara lain mematuhi sanksi mereka. (RM)

Tags

Aug 17, 2018 14:22 Asia/Jakarta
Komentar