• Turki dan Amerika
    Turki dan Amerika

Menteri Perdagangan Turki mengabarkan dimulainya penerimaan pemasukan dari tarif impor baru barang-barang produk Amerika Serikat untuk negara itu senilai 533 juta dolar.

Menteri Perdagangan Turki, Ruhsar Pekcan menjelaskan bahwa keputusan penerapan tarif impor lebih besar atas barang-barang produk Amerika dilakukan sebagai langkah balasan terhadap perang dagang yang dilancarkan pemerintah Gedung Putih.

Menteri Perdagangan Turki menekankan upaya melindungi hak-hak perusahaan Turki dalam menghadapi langkah ilegal Amerika. Ia menuturkan, pemerintah Ankara tidak akan berdiam diri dalam melindungi hak-hak perusahaan Turki dan akan membalas langkah Amerika dengan balasan yang setara.

Ia menegaskan, dalam situasi seperti sekarang ini, langkah-langkah sepihak Amerika telah menyeret sistem bisnis global ke dalam bahaya serius.

Penerapan tarif impor 25 persen dan 10 persen untuk produk baja dan alumunium, bukan saja membangkitkan protes luas dari perusahaan-perusahaan Amerika sendiri, bahkan telah memicu aksi balasan dari sejumlah negara yang menerapkan tarif impor baru untuk produk Amerika.

Hubungan Turki dan Amerika memburuk setelah Ankara memenjarakan pastor Amerika, Andrew Brunson yang dituduh mata-mata, dan saling sanksi menteri dalam negeri dan kehakiman dua negara, lalu penambahan dua kali lipat tarif impor baja dan alumunium dari Turki oleh Amerika.

Recep Tayyep Erdogan

Meski sekarang dunia terjerumus ke dalam perang dagang yang disulut oleh Presiden Amerika, Donald Trump, namun kenyataannya masih ada sejumlah masalah yang membayangi hubungan Ankara-Washington dan menyebabkan perang tarif di antara kedua negara sehingga memperpanjang krisis dalam hubungan Turki dengan Barat.

Pasca kudeta militer gagal tahun 2016 lalu di Turki, pemerintah Ankara menuduh Amerika dan negara-negara Barat yang mendalangi kudeta tersebut. 

Jauh lebih penting dari semuanya adalah permintaan Turki agar Amerika mendeportasi Fethullah Gulen namun mendapat jawaban negatif dari Washington dan masalah inilah yang kemudian semakin memperburuk hubungan Turki dengan negara-negara Barat.

Sejak saat ini kita sudah menyaksikan penurunan level kerja sama Turki dan negara-negara Barat, sialnya hal ini ditambah dengan adu mulut dan saling lempar tuduhan di antara kedua belah pihak.

Salah seorang pengamat politik internasional, Paul Withers mengatakan, perang dagang antara Turki dan Amerika adalah sisi lain dari krisis dalam hubungan kedua negara yang muncul sejak tahun 2016 dan salah satu contohnya dapat kita saksikan di Suriah dan masalah terkait Fethullah Gulen.

Nilai ekspor barang Amerika ke Turki tahun lalu mencapai 12 milyar dolar, sementara ekspor barang Turki ke Amerika senilai delapan milyar dolar, namun sanksi yang diterapkan masing-masing negara terbukti memaksa keduanya untuk mengurangi nilai ekspor tersebut lebih cepat.

Akan tetapi yang jelas adalah, setiap negara yang mundur, terpaksa harus melakukan perubahan luas dalam kebijakannya terhadap pihak lain. (HS)

Aug 17, 2018 17:16 Asia/Jakarta
Komentar