• Pada 8 Mei 2018, Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan nuklir dan akan mengembalikan sanksi terhadap Iran.
    Pada 8 Mei 2018, Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan nuklir dan akan mengembalikan sanksi terhadap Iran.

Selama 40 tahun terakhir sejak berdirinya Republik Islam Iran, Amerika Serikat dalam konteks sikap bermusuhan, selalu mengangkat tuduhan tertentu terhadap Iran. Salah satu tuduhan itu adalah klaim dukungan Iran terhadap terorisme, dan dengan alasan ini pula, Washington telah mengambil banyak tindakan anti-Tehran.

Pada 8 Mei 2018, Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan AS dari kesepakatan nuklir dan akan mengembalikan sanksi terhadap Iran. Pada tahap berikutnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menetapkan 12 tuntutan sebagai syarat untuk berunding dengan Tehran.

Tuntutan ini adalah titik balik dalam berinteraksi dengan Iran terutama terkait isu nuklir, dan awal keretakan dalam hubungan AS dengan Kelompok 5+1. Di sini, AS selain mengajukan tuntutan yang berlebihan dalam masalah kemampuan nuklir Iran, juga mulai menyuarakan tuntutan baru yang keluar dari kerangka kesepakatan nuklir.

AS ingin agar Iran menghentikan program nuklirnya secara penuh, mengakhiri program rudal, dan meninggalkan kebijakan regionalnya, termasuk apa yang mereka sebut memutuskan dukungannya kepada kelompok teroris.

Mike Pompeo.

Pompeo pada Kamis lalu kembali menuduh Iran mendukung terorisme dan mengklaim bahwa Tehran mendorong destabilisasi dan proliferasi senjata di wilayah Timur Tengah dan dunia. Dia juga menyatakan dukungan terhadap kebijakan agresif Trump dalam melawan Iran.

"Kebijakan ini merupakan hasil rekomendasi dari sebuah tim yang berfokus pada Iran," tambahnya. Pompeo meminta sekutu untuk membantu AS dalam menjalankan skenario Trump yaitu menerapkan tekanan maksimum terhadap Iran.

AS menuduh Iran mendukung terorisme ketika negara itu menjadi sponsor terbesar terorisme di Timur Tengah. Kelompok teroris Daesh adalah produk langsung dari kerjasama AS dengan mitra regionalnya, terutama Arab Saudi. Sementara Iran telah memainkan peran kunci dalam melawan terorisme dan ekstremisme selama beberapa tahun terakhir di kawasan.

Daesh dan kelompok teroris lainnya di Suriah dan Irak telah menyebar luas dengan bantuan langsung AS dan Arab Saudi sebagai sekutu utamanya di Timur Tengah. Dukungan ini telah menciptakan kejahatan yang mengerikan di seluruh kawasan dan dunia.

Trump sendiri mengakui dukungan AS terhadap kelompok-kelompok teroris. Pada Januari 2018, Trump mengkritik Barack Obama dan mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton atas kemunculan Daesh. Dia mengatakan, "Mereka membentuk Daesh. Hillary dan Obama telah menciptakan Daesh."

Negara-negara regional, termasuk Irak dan Suriah menyaksikan serangan bersenjata, kekacauan, dan pembantaian orang-orang tak berdosa setelah AS memberikan dukungan penuh kepada kelompok-kelompok teroris. Misi AS dan sekutunya mendukung terorisme Takfiri adalah untuk menghancurkan poros perlawanan, di mana Suriah menjadi salah satu pilar utamanya.

Pada Desember 2017, sekelompok pakar intelijen AS dalam sebuah surat kepada Trump, menyatakan keprihatinan atas pernyataan pemerintahnya yang menyebut Iran sebagai sponsor utama terorisme. Mereka menekankan para pendukung terorisme saat ini adalah Arab Saudi, bukan Iran.

Iran secara aktif memerangi terorisme dan ekstremisme, serta menyediakan bantuan konsultatif kepada pemerintah Irak dan Suriah untuk menumpas kelompok teroris, yang didukung oleh AS dan sekutunya. Tindakan Iran ini ternyata memicu kemarahan AS, rezim Zionis Israel, dan Arab Saudi. (RM)

Tags

Aug 18, 2018 16:00 Asia/Jakarta
Komentar