Sejumlah tema yang diulas dalam acara Amerika Tinjauan dari Dalam kali ini adalahTrump Cabut Izin Keamanan Mantan Pejabat Tinggi AS, Generasi Milenial Amerika Menentang Perang, Lawan Tehran, AS Bentuk Kelompok Aksi Iran dan Ratusan Media AS Lancarkan Kampanye Anti Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mencabut izin keamanan dari salah satu pengkritiknya yang paling vokal, mantan Direktur CIA John Brennan. Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan, "Secara historis, mantan kepala intelijen dan lembaga penegak hukum telah diizinkan untuk mempertahankan akses ke informasi rahasia setelah pengabdian mereka berakhir, sehingga mereka dapat berkonsultasi dengan penerus mereka mengenai hal-hal yang mungkin mereka punya wawasan khusus tentang itu."

Namun, lanjut Sanders, pada titik ini tidak ada satupun pembenaran yang mendukung bahwa Brennan harus tetap memiliki akses ke informasi rahasia. Dia menegaskan bahwa mantan pejabat intelijen itu menunjukkan "perilaku dan tingkah yang tidak menentu" sehingga objektivitas dan kredibilitasnya dipertanyakan. Jadi, tindakan ini dimaksudkan untuk melindungi informasi rahasia.

Sanders menandaskan bahwa kebohongan Brennan dan perilaku baru-baru ini yang ditandai dengan komentar yang semakin hingar-bingar, sepenuhnya tidak konsisten dengan akses ke informasi rahasia dan fasilitas yang paling dekat dengan negara.

Trump sendiri, tanpa menyebutkan komentar khusus yang dibuat oleh Brennan, mengatakan bahwa mantan pemimpin CIA itu telah terlibat dalam "komentar gaduh" dan berusaha untuk menabur perpecahan dan kekacauan tentang pemerintah. Dia mengatakan, "Brennan baru-baru ini memanfaatkan statusnya sebagai mantan pejabat tinggi dengan akses ke informasi yang sangat sensitif untuk membuat serangkaian tuduhan tak berdasar dan keterlaluan, semburan liar di internet dan televisi tentang pemerintahan ini."

Brennan menanggapi keputusan itu dengan mengkritik upaya pemerintahan Trump yang ingin mengekang kebebasan berbicara dan menghukum para kritikus. Ini harus benar-benar menjadi kekhawatiran semua orang Amerika, termasuk para profesional intelijen, tentang harga untuk berbicara. Prinsip saya lebih berharga daripada kelonggaran. Saya tidak akan menyesal."

Target tingkat tinggi lainnya dari keputusan itu adalah mantan Direktur FBI James Comey, mantan Direktur Intelijen Nasional James Clapper, mantan Direktur NSA Michael Hayden, mantan Penasihat Keamanan Nasional Susan Rice, mantan Wakil Jaksa Agung Sally Yates, mantan Wakil Direktur FBI Andrew McCabe, mantan Agen FBI Peter Strzok, mantan pengacara FBI Lisa Page dan pejabat Departemen Kehakiman Bruce Ohr.

Bendera Amerika

Pekan lalu, hasil riset baru yang diterbitkan oleh Dewan Urusan Global Chicago menunjukkan bahwa generasi milenial Amerika tidak mendukung perang dan intervensi militer, berbeda dengan generasi sebelum mereka. Masalah internasional mulai menjadi lebih penting. Lebih jauh lagi, generasi Milenial yang menganggap diri mereka sebagai bagian dari komunitas dunia, mereka lebih cenderung memilih isu-isu seperti perdagangan.

Menurut temuan Dewan Urusan Global Chicago, anak-anak muda mendukung perdagangan bebas dan kerjasama internasional. Itu berarti generasi milenial dapat diharapkan untuk memberikan suara pada kebijakan luar negeri AS, terutama mengenai perdagangan dan terorisme. Ketika generasi milenial mulai memegang kekuasaan politik, kebijakan luar negeri dapat menjadi lebih terfokus pada perdagangan dan bantuan, daripada intervensi dan perang. Ada alasan untuk optimis, karena masa depan terlihat cerah bagi mereka yang berjuang untuk perdamaian.

Namun, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini telah menandatangani anggaran militer 2019 dengan nilai fantastis 716 miliar dolar. Secara prinsip, Trump mengadopsi pendekatan keras dalam menyikapi isu-isu internasional, di mana pendekatan ini lebih menitikberatkan pada penggunaan kekuatan militer untuk mencapai kepentingan AS. Secara bersamaan, kebijakan luar negeri Trump secara nyata mengejar unilateralisme, yang berarti kembalinya negara itu ke era mantan Presiden George W. Bush. Pada waktu itu, AS menyerang Afghanistan dan Irak dengan alasan perang global terhadap terorisme.

Unilateralisme Trump bertumpu pada aspek militer dan keamanan, di mana AS memposisikan dirinya sebagai polisi global yang memberikan perintah dan larangan langsung kepada negara-negara lain. Di samping itu, AS juga mengandalkan kekuatan semi keras yaitu kekuatan ekonomi dalam bentuk penerapan sanksi terhadap pihak lain. Meski demikian, kekuatan militer dan ancaman serangan masih menjadi andalan AS untuk mengintimidasi negara-negara lain demi mencapai tujuannya di luar negeri.

Selain itu, peningkatan anggaran militer AS bertujuan untuk memenuhi kepentingan industri dan perusahaan persenjataan negara itu. Andrei Frolov, seorang pakar di Pusat Kajian Strategis dan Teknologi Rusia, mengatakan, "Kompleks industri militer AS selalu berada di bawah pengawasan kubu Republik, dan Trump telah memberikan kepuasan kepada mereka dengan anggaran seperti itu."

Dapat dikatakan bahwa anggaran baru militer AS adalah indikasi dari sikap agresif Gedung Putih untuk mengejar kepentingan regional dan global AS melalui kekuatan keras yaitu; kekuatan militer dan penggunaan kekerasan. Masalah ini telah menimbulkan banyak kekhawatiran di tingkat internasional tentang tindakan AS di masa depan untuk mendestabilisasi dan merusak tatanan global.

Pemerintahan Trump sedang melancarkan perang ekonomi besar-besaran terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada hari Kamis (16/8/2018) mengumumkan pembentukan Kelompok Aksi Iran untuk memandu dan mengkoordinasikan upaya melawan Tehran. Dia juga memperkenalkan Brian Hook sebagai ketua Kelompok Aksi Iran.

Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat

Dalam konferensi pers di Washington, Pompeo mengatakan, “Washington sedang mengejar strategi komprehensif melawan Tehran. Kelompok ini bertujuan untuk mencoba mengubah perilaku Iran di tingkat global. Jika Iran berkomitmen pada perubahan fundamental dalam perilakunya, kita dapat berbicara tentang perundingan dengan Tehran.”

Pada dasarnya, misi pembentukan kelompok itu adalah untuk membujuk negara-negara lain agar mengikuti AS dalam meningkatkan tekanan terhadap Iran. Sebuah tim dari Deplu dan Departemen Keuangan AS sudah melakukan perjalanan ke lebih dari 24 negara untuk mendorong mereka menerapkan sanksi dan menciptakan tekanan maksimum terhadap Iran. Tim tersebut juga akan melakukan kunjungan ke tempat lain pada bulan-bulan mendatang.

Sementara itu, lebih dari 340 media di Amerika Serikat akan melancarkan kampanye kebebasan pers untuk menanggapi rangkaian serangan Presiden Donald Trump. Sejak berkuasa di Gedung Putih, Trump telah melakukan upaya konstan untuk menyerang para kritikus dan lawan-lawannya. Dari perspektif Trump, media adalah para pembohong dan aktivis media adalah orang-orang yang paling curang di muka bumi, itulah sebabnya ia menyerang media pada setiap kesempatan.

Pada Februari 2017, Trump menulis di akun Twitter-nya bahwa media berita palsu seperti, The New York Times, NBC News, ABC, CBS, dan CNN, bukan musuh saya, tetapi mereka musuh rakyat Amerika. Sejak kampanye pemilu presiden AS, Trump sudah terlibat konflik dengan media dan konflik ini terus berlanjut setelah dia bertugas di Gedung Putih.

Kalangan pers AS akhirnya meluncurkan sebuah kampanye untuk melawan sikap negatif dan serangan rutin Trump terhadap media. Banyak surat kabar AS menuduh Trump melakukan serangan terus-menerus terhadap kebebasan pers. Pada Kamis lalu, 16 Agustus 2018, lebih dari 340 surat kabar dan media Amerika dalam sebuah aksi serentak menerbitkan berbagai artikel, yang mengkritik kebijakan bermusuhan Trump terhadap media.

Kepala editor koran The Guardian, Katharine Viner mendukung kampanye tersebut dan mengatakan, "Tugas pers bukan untuk menyelamatkan Amerika dari tangan Trump. Tugas pers adalah untuk melaporkan, menganalisis, dan menyelidiki berbagai masalah tanpa rasa takut."

Aug 21, 2018 14:28 Asia/Jakarta
Komentar