• Rusia dan Cina mulai mendobrak dominasi dolar di dunia.
    Rusia dan Cina mulai mendobrak dominasi dolar di dunia.

Tindakan dan kebijakan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk penarikan negaranya dari perjanjian ekonomi, perang dagang dengan mitra dan rival, serta penerapan sanksi terhadap musuh-musuh AS, telah mendorong banyak negara mencari cara untuk mengurangi dampak dari tindakan arogan itu. Mereka sedang mencoba menghapus dolar dari transaksi perdagangan dan menggunakan mata uang lain atau dengan mata uang nasionalnya sendiri.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan, Rusia yang sedang menghadapi sanksi AS, harus menghapus dolar dari sistem pembayarannya sehingga peran dolar dan sistem keuangan AS dalam perekonomian global akan berkurang.

“Sekarang saatnya untuk mengubah ucapan menjadi tindakan dan dengan mencari cara-cara lain, dolar AS sebagai sarana pembayaran timbal balik harus dikesampingkan,” tambahnya.

Dunia menentang sanksi sepihak AS terhadap negara lain dan politisasi dolar untuk menekan perekonomian pihak lain. Saat ini sekutu dan rival Washington mulai melakukan perlawanan terhadap unilateralisme Amerika.

Asisten Menlu AS untuk Urusan Eropa dan Eurasia, Aaron Mitchell mengatakan, sanksi adalah instrumen strategis dan Amerika sekarang menerapkan total 4.190 sanksi di seluruh dunia. Dari jumlah itu, 580 sanksi diterapkan terhadap Rusia.

Sanksi-sanksi itu telah memicu reaksi internasional, di mana pengucilan AS di kancah global terus meningkat. Negara lain dan bahkan mitra AS telah memilih menggunakan mata uang lain dalam transaksi perdagangan mereka.  

Berlanjutnya tren ini akan mengurangi penggunaan dolar AS, dan pada akhirnya semakin memperlemah posisinya dalam perdagangan internasional dan pertukaran mata uang global.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam sebuah laporan mengabarkan penurunan peran dolar dalam cadangan devisa negara-negara dunia. Menurut IMF, pangsa dolar dalam cadangan devisa mereka telah turun selama tiga bulan pertama tahun 2018, dan mereka lebih tertarik untuk menyimpan euro, yuan, dan pound sterling. Posisi dolar sebagai alat pembayaran utama di dunia semakin tergerus.

Data menunjukkan bahwa posisi dolar dalam cadangan devisa negara-negara dunia telah melemah dan mencapai tingkat terendah selama empat tahun terakhir. Laporan negara-negara dunia kepada IMF memperlihatkan bahwa 62 persen dari cadangan devisa dunia disimpan dalam bentuk dolar pada kuartal pertama 2018, sementara euro berada di posisi berikutnya. Simpanan mata uang bersama Uni Eropa ini telah mencapai 20 persen dari cadangan devisi dunia.

Jelas bahwa tindakan dan kebijakan Trump memainkan peran penting dalam hal ini. Banyak pemerintah berkesimpulan bahwa mereka harus mengurangi ketergantungannya pada Amerika dan dolar.

Pada dasarnya, AS sudah sering menyalahgunakan dolar sebagai mata uang utama internasional dan menjadikannya alat untuk menekan negara lain. Pendekatan semacam ini mendorong dua rival internasional AS yaitu; Cina dan Rusia menggunakan mata uang yuan dan rubel dalam transaksi perdagangan dan kegiatan bisnis mereka. (RM)

Tags

Aug 26, 2018 11:42 Asia/Jakarta
Komentar