Sejumlah tema yang diulas dalam acara Amerika Tinjauan dari Dalam kali ini adalah Ancaman Trump untuk keluar dari NATO, Pembeberan skandal baru Trump oleh mantan pengacaranya, Lobi anti-Iran John Bolton dalam kunjungannya ke Tel Aviv, 16 Senator AS menyiapkan penghapusan nama Iran dari SWIFT dan Implementasi  kenaikan tarif impor produk Cina

Ancaman Trump untuk NATO

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak masa kampanye pilpres pada 2016, dan setelah melenggang ke Gedung Putih, berulangkali dan dalam banyak kesempatan memperingatkan ketidakpedulian para anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pada realisasi tujuan yang diacu lembaga tersebut termasuk alokasi dua persen dari produksi bruto dalam negeri untuk sektor pertahanan dan militer, serta partisipasi tidak seimbang mereka dalam menjamin kebutuhan finansial NATO.

Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa dari 29 anggota NATO, 23 di antaranya belum merealisasikan alokasi dua persen PDB untuk sektor militer dan pertahanan. Presiden AS memperingatkan bahwa jika komitmen mereka tidak terlaksana, maka akan diambil tindakan tegas. Trump dalam KTT G7 di Kanada juga kembali mencecar NATO dan bahkan menilainya sebagai sebuah lembaga buruk dengan beban biaya sangat besar bagi Amerika Serikat.

Pada kesempatan terbaru, di hadapan para pendukunya di Charleston, Virginia, Trump mengancam Amerika Serikat akan keluar jika negara-negara anggota NATO tidak segera merealisasikan tujuan lembaga itu. Dikatakannya, "Saya katakan, coba lihat masalahnya sangat sederhana, kalian harus meningkatkan belanja pertahanan dan militer kalian dan kalian mengeluarkan lebih banyak dana, kepada para anggota NATO saya katakan jika mereka tidak menyumbang, maka kami [AS] akan keluar dari pakta ini."

Image Caption

Kasus Terbaru Trump dan Ancaman Impeachment

Sejak orang nomor satu di Amerika Serikat, Trump menghadapi banyak tantangan di dalam negeri. Akan tetapi kasus terbaru yang dihadapinya berdampak negatif sangat serius bagi masa depan politiknya. Pengacara mantan pengacara pribadi Presiden Amerika Serikat, Michael Cohen mengatakan, Presiden Donald Trump pernah memerintahkan kliennya untuk melakukan perbuatan melanggar hukum.

Pengacara Michael Cohen, Lanny Davis mengungkap pengakuan kliennya di pengadilan dan menuturkan, Trump sendiri terlibat tindakan melanggar hukum, namun ia tidak menandatangani cek yang dikeluarkan untuk memaksa dua perempuan yang mengaku pernah menjalin hubungan gelap dengan presiden Amerika itu, demi menutupi keterlibatannya.

Trump menyebut Cohen "mengigau" di pengadilan dan melalui cara ini dia berharap dapat mereduksi hukuman dan vonis yang akan diterimanya. Jika Donald Trump tidak menjabat sebagai presiden, maka klaim Cohen akan membuka sebuah kasus hukum terhadapnya.

Pernyataan Trump menunjukkan bahwa dia sangat mengkhawatirkan dampak dari pengakuan Cohen terhadap masa depan politiknya. Trump mengklaim bahwa impeachment dirinya akan menimbulkan gejolak di pasar keuangan dan jika dia dilengserkan maka perekonomian Amerika Serikat akan mengalami pukulan telak sehingga kemiskinan meningkat.

Donald Trump dan ancaman impeachment

File suara:

"Saya pikir itu seperti kejahatan tingkat tinggi... saya tidak berpikir Anda dapat melengserkan seseorang yang telah melakukan pekerjaan besar. Saya katakan kepada Anda, jika saya terlengserkan, saya pikir pasar akan ambruk, saya pikir semua orang akan sangat miskin, karena tanpa pemikiran ini, Anda akan melihat angka-angka yang Anda tidak akan percayai...."

Kunjungan Bolton ke Israel

Transformasi penting lain di Amerika Serikat adalah kunjungan penasehat keamanan nasional AS ke Palestina pendudukan (Israel). Dalam pertemuannya dengan para pejabat rezim Zionis, Bolton merundingkan berbagai isu regional termasuk krisis Suriah serta pengaruh regional dan aktivitas rudal Iran. Amerika Serikat sebagai sekutu strategis Israel, selalu melangkah mengiringi Israel dalam kebijakan anti-Iran oleh Israel. Namun makar dan propaganda kolektif keduanya anti-Iran selalu gagal.

Israel sebagai musuh regional terbesar Iran telah berulangkali memprovokasi Barat khususnya Amerika Serikat untuk mengambil langkah-langkah anti Iran dan mengimplementasikan sanksi anti-Iran. Upaya tersebut semakin meningkat pasca tercapainya kesepakatan nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Bolton dalam pertemuan dengan PM Israel, Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa program nuklir dan rudal balistik Iran adalah tantangan prioritas Amerika Serikat dan Israel. Meski berbagai makar Washington dan Tel Aviv untuk menggulingkan Republik Islam, Bolton mengklaim bahwa politik AS di hadapan Iran bukan dalam rangka perubahan rezim.

Dalam pernyataannya pada seminar yang digelar koran Jerusalem Post, Bolton mengatakan, "Amerika Serikat selain sanksi ekonomi, akan melakukan banyak langkah lain untuk mendaratkan tekanan lebih besar terhadap Iran. Kami tidak sedang mengupayakan perubahan rezim melainkan perubahan perilaku Iran."

Dialog Bolton dan Netanyahu dalam hal ini terfokus pada mekanisme pengusiran Iran dari kawasan dan apa yang diklaim dengan "kepastian bahwa Iran tidak menggapai senjata nuklir."

John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih

Upaya Senator AS Mencoret Iran dari SWIFT

Para anggota parlemen dari Partai Republik menyerukan agar Iran dikeluarkan dari sistem keuangan utama yang mengawasi transfer bank internasional, setelah pemerintahan Trump memberlakukan sanksi terhadap negara itu pasca penarikan AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran.

Sebanyak 16 Senator Republikan AS yang dipimpin oleh Ted Cruz dari Texas mendesak Menteri Keuangan Stephen Mnuchin pekan lalu untuk mengambil "semua langkah yang diperlukan" guna ntuk memutus hubungan Iran dari jaringan SWIFT, yang memungkinkan lembaga keuangan untuk mengirim dan menerima informasi tentang transaksi perbankan.

SWIFT adalah singkatan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication. Sistem ini berbasis di Belgia, tetapi dewannya direksinya termasuk para eksekutif dari bank-bank AS dan hukum federal memberikan wewenang untuk bertindak terhadap Bank Sentral Iran dan bank-bank lain yang mendukung oleh terorisme dan pencucian uang sanksi.

Namun upaya 16 Senator Republikan itu mendapat reaksi negatif. JP Morgan dan Citibank, dua lembaga keuangan utama Amerika, menyatakan tidak akan berkomitmen untuk memutus akses Iran ke pasar internasional. Tentu sikap tersebut akan menambah kekhawatiran para pejabat AS tentang upaya negara-negara Eropa dan sekutu regional Tehran untuk mengurangi dampak sanksi baru AS menjelang tenggat waktu implementasi sanksi hingga 4 November mendatang.

SWIFT

Tarif 25 Persen untuk Produk Cina

Pemerintah Amerika memulai penerapan tarif dagang baru terhadap produk impor dari Cina. AFP melaporkan, penerapan tarif 25 persen senilai 16 miliar dolar terhadap produk dan jasa dari Cina mulai diberlakukan Kamis (23/8). Ketika pemerintah Amerika secara resmi mulai menerapkan tarif baru terhadap produk Cina, Beijing juga telah memulai persiapan langkah balasan terhadap produk impor dari Washington.

Sebelumnya Departeman Perdagangan Cina mengumumkan, langkah Amerika merupakan pelanggaran nyata terhadap undang-undang perdagangan global. Pemerintah Trump baru-baru ini berencana membatasi investasi perusahaan Cina di sektor teknologi Amerika.

Gedung Putih sebelumnya juga merilis statemen dan menuding Cina mencuri kekayaan intelektual dan teknologi dari perusahaan Amerika. Eskalasi tensi perdagangan antara Amerika dan Cina memiliki dampak negatif yang cukup besar bagi pasar finansial dan saham dunia, nilai valuta dan perdagangan global berbagai produk.

Tags

Aug 28, 2018 13:51 Asia/Jakarta
Komentar