Sejumlah tema yang dibahas di Iran Aktualita edisi 31 Agustus 2018, Pesan Haji Rahbar kepada para jemaah haji sedunia, Peringatan Hari Industri Pertahanan Iran, Doktrin Militer Iran komitmen pada moral dan aturan internasional dan Ghasemi: AS Tidak akan Mampu Terapkan Kebijakannya Sendirian.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar pada hari Senin lalu (20/8) menyampaikan pesan haji kepada para jemaah haji dari seluruh dunia. Dalam pesannya, beliau mengajak umat Islam untuk tetap waspada dan bersatu dalam menghadapi konspirasi Amerika.

Haji, di tempat dan pada durasi waktu ini, selalu dan setiap tahun, menyeru umat Muslim untuk bersatu dengan menggunakan bahasa yang lantang dan logika yang jelas. Dan ini adalah titik yang bertentangan dengan keinginan musuh Islam yang pada setiap periode khususnya di era saat ini, mereka telah mendorong umat Islam membentuk formasi untuk saling berhadapan dan sedang melakukannya.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran

Persatuan dan solidaritas umat Islam, menurut Rahbar, membawa banyak manfaat bagi Dunia Islam dan membangkitkan kemarahan musuh. Pasalnya, persatuan menyebabkan soliditas umat Islam dan membuat setiap Muslim saling mendukung dalam menghadapi tipu daya dan arogansi musuh.

Dalam pesannya beliau mengatakan,

Sekarang saksikan perilaku Amerika Serikat yang arogan dan kriminal! Politik utamanya di hadapan Islam dan umat Islam adalah pengobaran perang. Harapan dan upaya bengisnya adalah pembunuhan di antara umat Islam. Menggiring orang-orang zalim menyerang manusia-manusia tertindas, mendukung kubu zalim, menumpas kelompok mazlum secara beringas melalui kelompok zalim, dan secara berkesinambungan mengobarkan api fitnah mengerikan ini.

Dengan mencermati konspirasi Barat yang dipimpin oleh Amerika, Ayatullah Khamenei menyeru umat Islam harus waspada dan menggagalkan politik setan tersebut. Haji mendasari kewaspadaan tersebut, dan inilah filosofi di balik [manasik] bara'ah (lepas tangan) dari kaum musyrikin dan mustakbirin dalam haji.

Pekan lalu, tanggal 31 Mordad yang bertepatan dengan 22 Agustus, Republik Islam Iran memperingati Hari Industri Pertahanan yang dihadiri Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran. Bersamaan dengan peringatan Hari Industri Pertahanan, dipamerkan pula jet tempur canggih pertama Iran. Pesawat tempur pertama Iran itu diberinama "Kowsar" dan merupakan prestasi terbaru industri pertahanan negara ini.

Hassan Rouhani, Presiden Republik Islam Iran

Hassan Rouhani pada acara peresmian jet tempur supersonik Kowsar menjelaskan, tidak memiliki kesiapan dan kemampuan pertahanan yang memadai sama saja dengan memberikan lampu hijau kepada musuh untuk menyerang. Semua upaya dan belanja Republik Islam Iran dalam meningkatkan kemampuan pertahanan ditujukan untuk mencegah pemaksaan perang dan agresi yang berbiaya besar.

Rakyat Iran, lanjut Rouhani, selalu mencari kehidupan yang damai dan berinteraksi dengan negara-negara lain, dan kesiapan pertahanan memiliki makna sebagai perdamaian yang abadi. Dijelaskannya, tidak memiliki kesiapan dan kemampuan pertahanan yang memadai sama saja dengan memberikan lampu hijau kepada musuh untuk menyerang.

Di antara karakteristik unggul jet tempur Kowsar adalah peningkatan daya tepur dan pelatihan pilot angkatan bersenjata Iran, nasionalisasi sistem avionik dan sistem mekanik dan hidrolik. Dengan dipamerkannya jet tempur yang seratus persen diproduksi dalam negeri, Republik Islam Iran berada dijajaran negara dengan teknologi canggih dan memiliki kemampuan memproduksi jet tempur mulai dari desain hingga produksinya.

Kebijakan Republik Islam Iran didasarkan pada penguatan kekuatan pertahanan dan penghapusan ancaman dari Iran. Lembaga-lembaga pertahanan Iran telah menunjukkan kepada agresor bahwa mereka memiliki alat pencegah yang diperlukan untuk menghadapi ancaman. Institut Hudson, sebuah lembaga penelitian Amerika, dalam laporan yang dirilis beberapa waktu lalu, memperkenalkan kemampuan pertahanan dan pencegahan Iran sebagai kekuatan terbesar kedelapan terbesar di dunia.

Salah satu elemen penting dalam doktrin militer Iran adalah perhatian pada moralitas dan kepatuhan pada aturan internasional. Untuk alasan ini, ada batasan dalam gerakan maju Iran dalam hal memperkuat kemampuan pertahanan, termasuk produksi atau penggunaan senjata pemusnah massal, seperti kimia dan nuklir. Karena berdasarkan prinsip agama itu dilarang di Iran. Dengan menekankan pertimbangan ini, para ahli di industri pertahanan memasok kebutuhan pertahanan Iran sesuai dengan ancaman dengan kualitas dan kemampuan tertinggi.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, sekaligus Panglima Tertinggi Jajaran Angkatan Bersenjata Iran saat melakukan kunjungan melihat teknologi modern, produk-produk dibuat oleh ahli-ahli dalam negeri dan berbasis pengetahuan menkankan, langkah ini harus dilanjutkan dengan kekuatan. Karena kemajuan di setiap bidang adalah pondasi perkembangan baru di bidang yang lain.

Amir Hatami, Menteri Pertahanan Iran di peringatan Hari Industri Pertahanan Nasional Iran mengatakan, industri pertahanan adalah kedalaman strategis pasukan bersenjata Republik Islam Iran dan jaminan bagi upaya mempertahankan kemerdekaan, martabat nasional dan simbol kepercayaan diri rakyat Iran.

Amir Hatami, Menteri Pertahanan Iran

Di bagian lain dari sambutannya, Amir Hatami menuturkan, para pakar industri pertahanan berusaha untuk memaksimalkan kekuatan pertahanan dengan strategi yang didasarkan pada doktrin pertahanan agar bisa mewujukan tujuan-tujuan dan kebijakan pertahanan.

Amerika masih ingin mendominasi dunia. Untuk memenuhi keinginannya, Amerika semakin tamak dan tidak ada batasan bagi ketamakannya. Tapi yang berbahaya adalah ketamakannya harus dibayar oleh negara lain dan dengan melecehkan semua aturan perdagangan bebas global. Nicola Casarini, anggota senior dan kepala riset untuk Asia Timur di Roma dalam Konferensi Keamanan di Shanghai kepada Wall Street Journal mengatakan, kepentingan bersama kita semua ada pada tetap menghidupkan kesepakatan dengan Iran.

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran Bahram Ghasemi mengatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara sendirian tidak akan bisa melakukan apapun sesuai dengan seleranya, sebab, dia menghadapi serangkaian negara dunia dengan perspektif yang beragam.

Ghassemi menambahkan, pasca keluarnya AS dari JCPOA, kebijakan-kebijakan Trump semakin terisolasi , sebab, dia melanggar sebuah perjanjian internasional tanpa musyawarah dan bahkan mengabaikan resolusi PBB dan pandangan sekutu-sekutunya.

Menurutnya, harus ada perombakan serius di antara elit AS dan pemerintah negara ini. Ghasemi menuturkan, negara-negara lain terutama anggota Uni Eropa dan negara-negara seperti Rusia, Cina dan yang lainnya bisa berpengaruh terhadap perilaku AS atas Iran dan juga di arena internasional.

Ghassemi menegaskan, yang penting adalah para negarawan AS harus mengerti bahwa kondisi terbaik untuk AS adalah kembali kepada JCPOA dan komitmen-komitmen negara itu, serta berhenti dari kebiasannya untuk menerapkan sanksi dan kebijakan sanksi yang biasanya gagal.

Sep 01, 2018 14:34 Asia/Jakarta
Komentar