• Donald Trump, Presiden Amerika Serikat
    Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Dalam dua tahun terakhir, militer Suriah bersama sekutunya telah meraih kemenangan di berbagai daerah Suriah dalam pertempuran dengan kelompok-kelompok teroris dan pembebasan berbagai daerah Suriah. Para teroris terpaksa menerima kekalahan dipindahkan ke provinsi Idlib, barat laut Suriah.

Sekarang, militer Suriah dan sekutunya telah mempersiapkan diri untuk melakukan operasi besar yang bertujuan membebaskan Idlib sebagai tempat aman terakhir teroris. Ini menjadi kekhawatiran besar Barat, terutama Amerika Serikat sebagai pendukung utama kelompok teroris di Suriah.

Dalam hal ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump hari Senin (03/9) dalam sebuah pesan yang menunjukkan kekhawatiran besar akan kekalahan total para teroris di Suriah menekankan bahwa militer Suriah tidak seharusnya menyerang Idlib. Trump di laman Twitternya menulis, Bashar Assad, Presiden Suriah seharusnya tidak perlu menyerang provinsi Idlib. Trump mengklaim bahwa serangan militer terhadap Idlib bisa menjadi bencana besar. Trump juga meminta Iran dan Rusia untuk tidak menjadi bagian dari kesalahan besar ini.

Image Caption

Amerika Serikat dan sekutunya telah mulai melakukan agitasi terkait serangan mendatang militer Suriah dan sekutunya ke Idlib. Mereka mengancam akan menyerang Suriah bila militer Suriah menggunakan senjata kimia saat menyerang ke Idlib. Dalam nada yang sama, kelompok-kelompok teroris mencoba memberikan dalih bagi serangan Barat ke Suriah dengan mempengaruhi opini publik ada serangan kimia yang dilakukan oleh militer Suriah.

Kementerian Pertahanan Rusia pada 25 Agustus menyatakan bahwa Amerika Serikat, Perancis dan Inggris berniat mempersiapkan alasan yang cukup untuk melakukan serangan baru ke Suriah dalam kerangka serangan senjata kimia. Ketiga negara ini pada April 2018 dengan alasan kosong atas penggunaan senjata kimia oleh militer Suriah telah menyerang sejumlah tempat di negara ini.

Tampaknya tuduhan terhadap militer Suriah menggunakan senjata kimia adalah upaya untuk mendistorsi opini publik dan menjustifikasi tindakan agresif Barat terhadap Suriah. Amerika Serikat dan sekutunya sangat prihatin dengan kegagalan para teroris di Suriah.

Krisis dan perang di Suriah telah diciptakan sejak 2011 dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat dan sekutu Eropa dan Arabnya dari kelompok-kelompok teroris. Tiga negara Barat telah memfokuskan upaya untuk membantu secara penuh kepada semua jenis kelompok teroris dan ini sejalan dengan tujuan umum koalisi Barat-Arab untuk menggulingkan pemerintah Suriah. Dengan begitu, mereka beranggapan kelompok-kelompok teroris ini yang akan merealisasikan keinginan mereka melengserkan pemerintah Suriah dan Bashar Assad, Presiden Suriah.

Kenyataannya, tujuan umum mereka dari tindakan ini adalah untuk menyerang inti perlawanan di kawasan, yaitu Suriah. Karena dengan tumbangnya pemerintah Suriah, jaringan Muqawama di kawasan akan terputus. Sekalipun demikian, perang di Suriah yang digelar telah meluluhlantakkan negara ini tetap tidak berhasil. Kini, perimbangan kekuatan di Suriah telah sepenuhnya berubah dan menguntungkan pemerintah Suriah.

Militer Suriah

Aron Lund, analis politik Swedia mengatakan, dari sisi strategi, Bashar Assad mampu mengalahkan para musuh yang ingin melengserkannya.

Kini, posisi kelompok-kelompok teroris benar-benar telah lemah dan pemerintah Suriah bersama sekutunya, yakni Rusia, Iran dan Hizbullah tengah menyempurnakan proses kemenangan mereka di provinsi Idlib. Jelas, lanjutan ancaman Barat terhadap Suriah tidak dapat menggoyahkan tekad Damaskus dalam hal ini.

Sep 04, 2018 15:17 Asia/Jakarta
Komentar