• Presiden Cina dan Rusia
    Presiden Cina dan Rusia

Presiden Cina mengunjungi Rusia untuk menghadiri konferensi Forum Ekonomi Timur yang berlangsung di kota Vladivostok.

Xi Jinping mengunjungi Rusia kali ini atas undangan resmi Valdimir Putin.

Forum ekonomi timur dibentuk pada tahun 2015 , dan untuk pertama kalinya pada pertemuan yang berlangsung tahun ini dihadiri oleh presiden Cina.

Forum ekonomi ini didirikan dengan tujuan untuk mendorong investasi asing di kawasan timur jauh. 

Kehadiran Xi Jinping dalam pertemuan Vladivostok kali ini tidak jauh dari agenda ekonomi yang sedang didorong Beijing dan Rusia yang saat ini sedang menghadapi tekanan politik dan ekonomi AS.

Selama beberapa tahun terakhir, Rusia menghadapi sanksi AS. Pada saat yang sama, Cina juga menghadapi tekanan AS akibat perang dagang yang dikibarkan Donald Trump. Kondisi tersebut menyebabkan Bejing dan Moskow semakin mempererat hubungan demi meredam dampak destruktif tekananan politik dan ekonomi Washington terhadap mereka.

Presiden AS, Donald Trump

 

Kunjungan Presiden Cina di Rusia kali ini membawa pesan jelas mengenai kesiapan Bejing untuk menanamkan investasi dalam perekonomian Rusia. Masalah ini semakin menunjukkan pengaruh besar Cina di Rusia, terutama di sektor ekonomi.

Sanksi ekonomi barat terhadap Rusia menyebabkan negara ini mengalami masalah perekonomian, terutama kesulitan untuk mendapatkan investasi asing. Oleh karena itu, tawaran Cina untuk berinvestasi di negaranya disambut sangat antusias oleh Moskow. Di sisi lain Cina juga membutuhkan Rusia dalam memenuhi kebutuhan energinya yang besar. 

Kepala Kerja Sama Internasional badan Energi Nasional Cina, Nori Bekri mengatakan, Moskow dan Beijing sedang berdialog untuk membahas jalur pipa gas alam dari Rusia ke Cina. Jika proses ini berlanjut, maka Moskow secara bertahap akan menjadi pemasok gas terbesar bagi Cina.

Tampaknya, kerja sama antara Cina dan Rusia tidak hanya di sektor energi saja. Selain itu, kedua negara juga menjalin kerja sama di berbagai bidang termasuk dalam isu internasional seperti krisis nuklir Korea Utara. Selama ini Cina dan Rusia menjadi negara aktif dan berpengaruh di Dewan Kerja Sama Ekonomi Shanghai.

Meskipun demikian, ada sejumlah masalah yang bisa menyulut friksi antara Beijing dan Moskow. Salah satunya mengenai kerja sama militer dan keamanan antara Cina dengan negara-negara zona Asia Tengah dan Afghanistan. Untuk meredam munculnya masalah kemudian hari, Beijing mengantisipasinya dengan menarik kepercayaan dari Moskow.

Mengenai masalah ini, pengamat politik Rusia, Dimitry Aleksandrov menjelaskan bahwa peningkatan kerja sama militer antara Cina dan negara-negara Asia Tengah hasil dari peningkatan kerja sama ekonomi di negara tersebut.

Beijing berencana untuk memperluas kerja sama tersebut di sektor militer. Masalah ini bisa menyulut protes dari Rusia.

Di luar berbagai masalah tersebut, Cina dan Rusia saat ini sedang meningkatkan hubungan bilateral untuk menghadapi gelombang tekanan dan sanksi ekonomi AS.

Kehadiran Xi Jinping dalam pertemuan Vladivostok tahun ini menunjukkan keseriusan Cina untuk memperluas hubungan bilateral dengan Rusia demi meredam dampak destruktif perang dagang AS terhdapa Beijing, dan sanksi ekonomi negara-negara barat, terutama AS terhadap Rusia.(PH)  

 

 

 

   

Sep 11, 2018 18:34 Asia/Jakarta
Komentar