• pesawat Ilyushin-20 Rusia
    pesawat Ilyushin-20 Rusia

Rusia sejak September 2015 menempatkan pasukannya di Suriah untuk memerangi kelompok-kelompok teroris di negara itu atas permintaan resmi pemerintah Damaskus. Pangkalan udara Hmeimim yang terletak di Provinsi Latakia, dijadikan pangkalan pesawat-pesawat Rusia untuk operasi militer di Suriah.

Sejak awal, rezim Zionis Israel melakukan banyak upaya untuk melancarkan perang psikologis dan negosiasi politik guna melemahkan partisipasi Iran di Suriah dengan cara tertentu, dan berusaha mengajak Moskow bergabung menyudutkan Tehran.

Kegagalan upaya ini membuat Israel gelap mata dan melancarkan serangan ke sejumlah posisi di Suriah yang diklaim sebagai markas pasukan dan peralatan perang militer Iran dan Hizbullah Lebanon. 

Kasus terbaru, jet tempur Israel, Senin (17/9/2018) menyerang salah satu target di Latakia dengan memanfaatkan penerbangan salah satu pesawat mata-mata Rusia, sehingga unit pertahanan udara Suriah melakukan kesalahan dengan menembak jatuh pesawat Ilyushin-20 milik Rusia.

Insiden ini membangkitkan kemarahan besar dari Rusia atas Israel. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov mengatakan, Israel baru memberikan informasi soal serangan jet-jet tempur F-16-nya ke Suriah satu menit sebelum operasi itu dilakukan.

Menurut Jubir Kemenhan Rusia, pilot-pilot jet tempur Israel menggunakan pesawat Ilyushin 20 membawa 15 awak yang sedang kembali ke pangkalan udara Hmeimim, sebagai tameng untuk melindungi diri dari serangan balasan unit pertahanan udara Suriah. Aksi curang jet tempur Israel itu akhirnya menyebabkan unit pertahanan udara Suriah salah menembak pesawat Rusia.

jet tempur F-16 Israel

Serangan jet-jet tempur Israel ke Latakia, Suriah kali ini didukung oleh kapal perang Perancis. Menhan Rusia, Sergei Shoigu mengatakan, langkah provokatif Israel ini sepenuhnya melanggar semangat kerja sama Moskow-Tel Aviv, oleh karena itu Rusia menganggap langkah tersebut sebagai langkah permusuhan, dan Moskow berhak untuk membalasnya.

Sepertinya Rusia sekarang mulai menyadari dirinya telah dimanfaatkan oleh Israel. Moskow mengira, dengan tidak membalas serangan Israel ke beberapa lokasi di Suriah, dirinya telah mengambil kebijakan netral di tengah perseteruan Israel dan Iran di Suriah, dan Israel pun tidak akan pernah menyerang pasukan Rusia di negara ini.

Akan tetapi perkiraan tersebut terbukti keliru dan sekarang semuanya menjadi jelas, Israel tidak pernah menganggap penting hubungan bilateral dengan Rusia dan dengan mudah menjadikan Moskow sebagai korban aksi ambisiusnya.

Menhan Rusia terkait hal ini mengatakan, berulangkali kami meminta Israel untuk tidak melakukan serangan udara ke Suriah yang dapat mengancam keamanan pasukan Rusia di negara ini.

Sementara itu Kementerian Luar Negeri Rusia setelah bertemu duta besar Israel di Moskow mengumumkan, Rusia akan melakukan langkah apapun yang dianggap penting untuk melindungi pasukannya di Suriah.

Presiden Rusia, Vladimir Putin mereaksi jatuhnya pesawat Rusia di Suriah dan mengatakan, insiden ini tidak bisa dibandingkan dengan penembakan jatuh pesawat Rusia oleh Turki. Sikap saya dalam insiden ini sama dengan sikap kemenhan Rusia. Peristiwa ini harus dievaluasi secara serius dan reaksi Rusia adalah meningkatkan level keamanan pasukannya di Suriah.

Dengan begitu, insiden jatuhnya pesawat Rusia di Suriah ini harus dipahami sebagai dimulainya babak baru yang serius dalam hubungan Rusia dan Israel khususnya terkait masalah Suriah.

Saat ini, Rusia menyadari bahwa kebijakannya yang lama hanya menyebabkan Israel semakin lancang saja dan Moskow harus menunjukkan reaksi keras atas langkah-langkah militer Israel terhadap Suriah. Selain itu, peristiwa ini juga membuktikan substansi rezim Zionis sebagai rezim agresor dan tidak peduli atas komitmen serta hubungan bilateral dengan Rusia. (HS)

Tags

Sep 19, 2018 15:57 Asia/Jakarta
Komentar