• Cina-AS
    Cina-AS

Departemen Pertahanan Cina saat merespon kebijakan arogan Amerika setelah membatalkan perundingan perdagangan, juga memberi balasan dengan membatalkan perundingan militer dengan Washington.

Dialog militer Beijing dan Washington rencananya digelar hari Senin hingga Rabu di Beijing. Shen Jinglong, Komandan Angkatan Laut Cina yang bertolak ke Amerika untuk mengikuti simposium internasional angkatan laut, dipanggil kembali ke Beijing.

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump Kamis (20/9) memilih memberi pelajaran kepada militer Cina karena negara ini membeli sistem S-400 dan jet tempur dari Rusia.

 

Deplu Cina Sabtu (22/9) menyampaikan pengaduan resmi Beijing terkait sanksi Amerika anti Cina soal pembelian senjata dari Rusia oleh negara ini kepada Terry Branstad, Dubes AS di Beijing.

 

Tindakan Amerika ini menunjukkan bahwa tensi di hubungan Amerika dan Cina menunjukkan dimensi baru dan Washington berencana menarget mitra ekonomi dan militer Beijing.

 

Meski alasan AS adalah meningkatkan sanksi terhadap Cina, namun Washington juga menarget Moskow dan berusaha membatasi level hubungan militer negara ini. Eskalasi sanksi AS terhadap Cina mengindikasikan bahwa kekhawatiran Washington atas berlanjutnya laju pertumbuhane konomi dan militer negara ini serta berubahnya Beijing menjadi kekuatan dunia meningkat tajam serta kebijakan tarif perdagangan AS terhadap Cina juga tidak mampu menahan pertumbuhan ekonomi Beijing.

Image Caption

 

Steve Banne, pengamat politik di Amerika mengatakan, "AS bertekad menghadapi perkembangan ekonomi Cina, karena Beijing akan menjadi satu-satunya negara di masa depan yang akan memimpin perkonomian global. Oleh karena itu, perang ekonomi dengan Cina adalah segala-galanya. Dengan demikian AS dengan segenap kekuatannya fokus pada isu ini. Jika kekalahan AS di bidang ini terus berlanjut, pada akhirnya dalam 10 tahun kedepan negara ini akan sampai pada titik tidak ada jalan keluarnya."

 

Selain itu, kecondongan kerjasama militer Cina dengan Rusia juga menjadi kekhawatiran Gedung Putih jika suatu hari kerjasama bilateral dan multilateral Cina dan Rusia atau dengan pihak lain di kawasan semakin kuat. Dengan demikian pengaruh AS di berbagai kawasan akan terancam.

 

Meski Cina dalam koridor hubungan bilateral militer membeli senjata dari Rusia, namun pemerintah Beijing selama beberapa tahun terakhir meraih prestasi cukup besar di bidang pembuatan senjata yang membuat Washington khawatir jika Beijing akan bergabung dengan Moskow.

 

Lee Jieh, pengamat angkatan laut di Beijing mengatakan, "Kekuatan persenjataan, kemampuan tempur, koordinasi dan konsolidasi militer Cina khususnya setelah parade militer September 2015 mengalami pertumbuhan yang cukup pesat."

 

Bagaimanapun juga, eskalasi sanksi terhadap Cina oleh Amerika dengan tujuan menghentikan pembelian senjata canggih oleh Beijing dari Moskow mengindikasikan eskalasi kebijakan intervensif Washington di urusan internal berbagai negara.

 

Oleh karena itu, jika Cina dan Rusia sebagai anggota penting Dewan Keamanan tidak melawan intervensi Gedung Putih maka di masa depan, intervensi ini akan mencakup lebih besar di hubungan dan kerjasama Moskow-Beijing dan mereka akan menghadapi kendala lebih banyak. (MF)

 

 

Tags

Sep 23, 2018 16:37 Asia/Jakarta
Komentar