• Rekaman Khashoggi ketika Memasuki Konsulat Saudi di Istanbul
    Rekaman Khashoggi ketika Memasuki Konsulat Saudi di Istanbul

Turki dilaporkan memberi ultimatum kepada diplomat dan konsuler Arab Saudi di Istanbul, jika mereka menolak mengijinkan tim penyidik negara ini memasuki konsulat dan tempat tinggal mereka, maka para diplomat tersebut harus segera meninggalkan Istanbul.

Petinggi Ankara memberi tenggat waktu hingga Ahad (14/10) kepada pemerintah Riyadh untuk mengijinkan tim penyidik Turki memasuki konsulat Riyadh dan tempat tinggal para diplomatnya. Jika tidak maka diplomat dan konsuler Saudi harus keluar dari Istanbul.

 

Menyusul ultimatum Turki, Pemimpin Arab Saudi Raja Salman bin Abdulaziz dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam kontak teleponnya membicarakan kasus Jamal Khashoggi, wartawan dan kritikus pemerintah Saudi yang dikabarkan raib. Kepala Dinas Intelijen Arab Saudi juga dilaporkan tiba di Turki untuk menyelidiki kasus Khashoggi.

 

Kontak Raja Salman dan Erdogan digelar di tengah-tengah eskalasi represi internasional kepada Riyadh yang menuntut kejelasan nasib Khashoggi. Di antara reaksi masyarakat internasional adalah statemen mantan kandidat presiden AS. Bernei Sanders, Senator dari negara bagian Vermont hari Ahad (14/10) menekankan, "Jika Arab Saudi terbukti terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi, wartawan dan kritikus Riyadh, maka Washington harus keluar dari perang Yaman."

Jamal Khashoggi

 

Arab Saudi dengan dukungan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab (UEA) dan sejumlah negara lain melancarkan agresi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan memblokade negara ini dari darat, udara dan laut. Langkah Riyadh ini mengakibatkan tewasnya puluhan ribu orang, cideranya puluhan ribu serta jutaan lainnya terpaksa mengungsi.

 

Sementara itu, PBB saat mereaksi berita pembunuhan Khashoggi merilis statemen dan menyatakan, "Pembunuhan Jamal Khashoggi berarti bahwa kritikus Raja Arab Saudi tidak memiliki keamanan meski hidup di luar negara ini."

 

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu di London menuding Arab Saudi tidak bekerja sama dengan Turki terkait berkas Khashoggi.

 

Sepertinya pemerintah Turki yang gagal meraih konsesi dari Amerika dengan membebaskan Pendeta Andrew Brunson, berusaha memanfaatkan berkas Khashoggi untuk merealisasikan sejumlah ambisinya. Padahal hubungan Turki dan Arab Saudi serta Amerika selama beberapa tahun ini mengalami pasang surut dan sepertinya petinggi Ankara berniat memperbaiki hubungannya dengan Washington dan Riyadh.

 

Tak diragukan lagi petinggi Ankara, tanpa mengindahkan realita berkas hilangnya Khashoggi, sekedar ingin meraih konsesi dari Amerika dan Raja Arab Saudi. Dalam hal ini, petinggi Turki berusaha membesar-besarkan kasus Khashoggi untuk merealisasikan keinginannya seputar hubungan dengan AS dan Arab Saudi.

 

Akhirnya dapat disimpulkan, badai yang luncurkan terkait pembunuhan Jamal Khashoggi selama 48 jam lalu telah berubah alurnya dan bukan sekedar isu dua negara Timur Tengah dengan catatan kelamnya dalam menyikapi para wartawan. Arab Saudi masih tetap menolak bertanggung jawab atas raibnya Khashoggi. Namun pembunuhan seseorang di lokasi diplomatik tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. (MF)

 

 

Tags

Oct 15, 2018 18:23 Asia/Jakarta
Komentar