• Donald Trump dan sanksi minyak Iran
    Donald Trump dan sanksi minyak Iran

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat pada 8 Mei 2018 menyatakan negaranya keluar dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan kemudian menerapkan kembali sanksi nuklir terhadap Iran pada bulan Agustus dan November 2018. Sanksi ini kembali diberlakukan dalam tenggat waktu 90 dan 180 hari, dimana putaran pertama pada 6 Agustus.

Putaran baru sanksi AS, termasuk sanksi minyak, diberlakukan pada 5 November. Tujuan utama Amerika Serikat adalah larangan total atas penjualan minyak, serta setiap interaksi keuangan, perbankan, perdagangan dan ekonomi antara Iran dan negara-negara lain yang berujung pada runtuhnya ekonomi Iran.

Meskipun Amerika Serikat telah berupaya penuh mengembargo minyak Iran, namun kampanye ini gagal. Kegagalan ini, karena faktor-faktor seperti sikap para pembeli minyak utama Iran yang gigih dalam menghadapi keinginan Amerika telah menjadi ketakutan Gedung Putih sebagai akibat dari penurunan pasokan minyak di pasar internasional dan dampaknya terhadap kenaikan harga minyak.

Minyak Iran

Namun demikian, kebijakan minyak dinamis Iran dan memang diplomasi minyak Iran telah sangat efektif. Dalam hal ini, Iran telah menandatangani kontrak untuk penjualan minyak ke Rusia, bersama dengan mengejar berbagai cara mengekspor dan menjual minyak, termasuk memasoknya ke bursa energi Iran dan menjual ke pembeli swasta.

Sekaitan dengan ini, perjanjian sedang ditandatangani antara Iran dan Rusia pada pembelian "minyak untuk pertukaran dengan barang", dimana volume ekspor minyak Iran ke Rusia mencapai lima juta ton per tahun. Pengiriman pertama minyak mentah Iran ke Rusia dalam kerangka perjanjian ini dimulai pada November 2017 dengan volume satu juta ton Moskow menekankan bahwa program minyak untuk pertukaran dengan barang akan terus berlanjut dengan Iran meskipun ada tekanan AS. Program ini akan berlanjut hingga 5 tahun ke depan.

Namun, kesepakatan minyak besar antara Iran dan Rusia ini tidak menghalangi Iran mengadopsi kebijakan minyak Iran yang independen dan melanjutkan pendekatan khusus Iran terhadap OPEC. Dalam hal ini, Menteri Energi Rusia Alexander Novak, menekankan kerjasama yang berkelanjutan dengan Iran di sektor energi dan mengingatkan bahwa Iran di masa depan akan terus secara mandiri mengekspor minyak dan berkontribusi untuk pembeli minyak di negara tersebut.

Menurut Novak, Iran siap secara mandiri mengekspor minyaknya di masa depan dan berkontribusi dengan pembeli minyaknya.

Pejabat Rusia ini menekankan bahwa bahkan di bawah kondisi saat ini, dimana Iran berada di bawah sanksi AS yang berat terkait minyak, tapi Iran telah mempertahankan kemandiriannya di bidang ekspor minyak dan kebijakan minyak khususnya.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak

Iran saat ini mendukung stabilitas pasokan minyak dan menentang peningkatan produksi dan pasokan ke pasar minyak. Dalam hal ini, pertemuan OPEC di Abu Dhabi yang dihadiri oleh anggota dan non-anggota OPEC, menekankan perlunya strategi baru berdasarkan peraturan produksi minyak, yang akan memungkinkan formula penawaran dan permintaan di pasar untuk disesuaikan dan menghadapi kurangnya keseimbangan penawaran-permintaan. Dalam pertemuan itu, dengan mencermati berkurangnya harga minyak, Arab Saudi akan memangkas sekitar 500.000 barel ekspor minyaknya pada November dan tentu saja ini akan menjadi pukulan bagi kebijakan sanksi AS terhadap Iran.

Menurut Morteza Bahroozifar, seorang pakar energi Iran, "Ketika sanksi Iran dimulai, kekosongan Iran diisi oleh Arab Saudi dan Rusia pada khususnya. Karena produksi kedua negara, harga minyak dunia jatuh dan satu-satunya cara untuk menaikkan harga adalah pemotongan produksi. Kedua negara adalah eksportir minyak terbesar dunia dan akan menjadi yang paling rentan terhadap penurunan harga minyak. Oleh karena itu, mereka tidak punya pilihan selain mengurangi produksi.

Gedung Putih mengharapkan boikot minyak Iran dan sebagian negara eksportir minyak untuk untuk mengimbangi kurangnya pasokan minyak ke pasar, tapi penantian itu telah berubah menjadi keputusasaan.

Tags

Nov 12, 2018 16:58 Asia/Jakarta
Komentar