• Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia
    Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia

Hubungan AS-Rusia telah berfluktuasi selama era pasca-Perang Dingin. Sejak 2011, Amerika Serikat telah memberi sanksi kepada Rusia karena berbagai alasan. Namun, dengan terjadinya krisis Ukraina pada tahun 2014 dan kemudian selama empat tahun terakhir, hubungan Moskow-Washington terus mengalami penurunan, sementara proses sanksi terhadap Moskow telah dipercepat.

Sanksi-sanksi ini telah diterapkan pada berbagai dimensi politik, diplomatik, perdagangan, ekonomi, militer, persenjataan dan energi. Jumlah paket sanksi AS terhadap Rusia mencapai 62. Dalih Amerika untuk menjatuhkan sanksi pada Rusia sejak 2014 adalah krisis Ukraina dan khususnya terkait aneksasi Krimea ke Rusia, meskipun sanksi CAATSA telah dilaksanakan dengan dalih keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2017 melawan Moskow pada bulan Agustus 2017.

Amerika Serikat kemudian memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia dengan dalih keracunan Sergei Skripal di Inggris dan sekali lagi memboikot sejumlah tokoh asli dan hukum Rusia dengan mengangkat isu Krimea.

Bendera Rusia dan Amerika Serikat

Langkah-langkah sanksi ini telah direaksi tajam para pejabat senior Rusia. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut tujuan Amerika Serikat menekan Moskow untuk mengusir perusahaan-perusahaan Rusia dari pasar dunia dan akhirnya untuk mencegah proses pembangunan ekonomi Rusia.

Para pejabat Moskow telah berulang kali menekankan bahwa target AS menerapkan sanksi terhadap Rusia, terutama di sektor energi, membatasi kehadiran ekonomi Rusia di pasar gas Eropa yang kini menguasai lebih dari 30 persen saham di sana. Pendekatan Amerika Serikat bahkan mendapat penentangan dari mitra Eropa Washington seperti Jerman. Sekarang Jerman berada di bawah tekanan kuat Amerika Serikat untuk menghentikan proyek pipa gas Nord Stream 2, yang seharusnya membawa gas Rusia melalui Laut Baltik ke Jerman.

Menurut Lavrov, "Berbagai metode pemaksaan tekanan ekonomi, seperti peringatan, ancaman dan tenggat waktu yang dikenakan oleh Gedung Putih, tidak hanya digunakan untuk Rusia, tetapi bahkan diterapkan dalam kasus sekutu AS."

Tujuan Amerika adalah untuk memaksa Moskow menerima tuntutan Washington. Inilah yang ditekankan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sementara dari sudut pandang pejabat Kremlin, sanksi AS terhadap Rusia tidak hanya menarget negara ini, tetapi juga memiliki konsekuensi negatif bagi dunia.

Vladimir Putin, Presiden Rusia menyebut penerapan segala bentuk sanksi dan hambatan apa pun terhadap perdagangan global adalah mengorbankan semua negara seraya mengatakan, "Mereka yang menerapkan sanksi-sanksi ini, termasuk Amerika Serikat, tidak kebal dari konsekuensinya."

Vladimir Putin dan Donald Trump

Jelas, tujuan nyata sanksi Washington terhadap Moskow adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Rusia telah mengambil banyak tindakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar untuk mengurangi kerugian ekonomi terhadap sanksi baru AS. Dalam hal ini, Moskow telah membentuk SWIFT Rusia dan perluasan pertukaran perdagangan antara Rusia dan Cina juga telah dipertimbangkan.

Elvira Naiullina, Gubernur Bank Sentral Rusia dengan mencermati kemungkinan meluasnya tekanan sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia mengatakan, "Semua kondisi telah dipersiapkan untuk bank-bank Rusia tetap beroperasi jika Rusia dihapus dari sistem SWIFT."

Sementara itu, Rusia berusaha mengatur hubungan keuangan dan perdagangan dengan negara lain, seperti Turki, India dan Iran berdasarkan ketentuan non-dolar. Tujuan keseluruhan dari Moskow adalah untuk mengurangi kerentanan dalam ekonomi Rusia, sementara juga menciptakan mekanisme dan struktur baru dengan mitra bisnis dan ekonomi.

Tags

Nov 18, 2018 13:05 Asia/Jakarta
Komentar