Dec 14, 2018 21:56 Asia/Jakarta
  • PM Tunisia dan Raja Salman bin Abdulaziz
    PM Tunisia dan Raja Salman bin Abdulaziz

Perdana Menteri Tunisia Youssef Chahed Kamis (13/12) tiba di Riyadh dalam rangka kunjungan tiga hari ke Arab Saudi.

Hubungan Arab Saudi dan Tunisia selama beberapa tahun terakhir mengalami pasang surut. Arab Saudi salah satu negara anti revolusi tahun 2011 di Tunisia. Zine El Abidine Ben Ali, mantan diktator Tunisia pada tahun 2011 setelah aksi demo memuncak, melarikan diri ke Arab Saudi dan sampai saat ini masih tinggal di negara tersebut. Sementara itu, meski pengadilan dan rakyat Tunisia menuntut ekstradisi Ben Ali dan proses hukum bagi dirinya, namun Al Saud masih menolak memulangkan mantan diktator Tunsia ini.

Image Caption
Image Caption

 

Hal lainnya adalah pemerintah Tunisia selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu kritikus utama kebijakan luar negeri Arab Saudi khususnya terkait krisis Suriah. Pemerintah Tunisia selain menentang intervensi asing di urusan internal Suriah, senantiasa menekankan urgensitas dimulainya hubungan dengan Damaskus. Hal ini tentu saja bertentangan dengan strategi Riyadh terkait Damaskus.

 

Di sisi lain, Arab Saudi selama beberapa tahun terakhir selalu mengawasi dengan ketat transformasi dalam negeri Tunisia. Bahkan Riyadh berusaha mengembalika Ben Ali ke tampuk kekuasaan atau mendukung kubu yang dekat dengan Arab Saudi untuk mencapai kekuasaan. Dengan kata lain, Riyadh ingin merusak demokrasi di Tunisia.

 

Dalam hal ini, Johar Ben Mubarak, pengamat Tunisia meyakini, Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab awal tahun 2018 berupaya mendukung Lotfi Brahem, mantan menteri dalam negeri Tunisia untuk melakukan kudeta. Lawatan mencurigakan Lotfi Brahem awal tahun ini ke Arab Saudi pada akhirnya membuat ia dicopot dari posisi menteri dalam negeri Tunisia.

 

Mujtahid, aktivis Arab Saudi di akun twitternya menulis, Lotfi Brahem sebelum diangkat sebagai menteri dalam negeri pernah menjabat sebagai komandan pasukan garda nasional, unit yang bertanggung jawab atas perang kontra terorisme di Tunisia. Pemimpin Arab Saudi optimis dengan kembalinya Ben Ali ke tampuk kekuasaan.

 

Mengingat kondisi ini, kini muncul pertanyaan apa tujuan dari kunjungan Youssef Chahed ke Arab Saudi?

 

Sepertinya alasan terpenting kunjungan Youssef Chahed ke Riyadh berkaitan dengan kondisi ekonomi Tunisia. Krisis ekonomi merupakan salah satu kendala utama pemerintah Tunis. Baru-baru ini kelompok rompi merah di Tunisia, mengikuti kelompok rompi kuning Perancis, mulai terbentuk. Gerakan Rompi Merah terbentuk sebagai respon atas kendala ekonomi mulai dari kenaikan harga dan inflasi, melejitnya angka pengangguran dan kebijakan ekonomi keliru pemerintah Tunisia.

 

Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman dalam kunjungan tiga jam ke Tunisia pada 27 November berjanji memberi bantuan dua miliar dolar kepada negara ini dan menanam investasi di sektor infrastruktur Tunisia. Kini dengan terbentuknya kelompok Rompi Merah di Tunisia, perdana menteri negara ini berkunjung ke Riyadh untuk menerima kontan bantuan yang dijanjikan MBS.

 

Sejatinya perdana menteri Tunisia menyadari posisi rentan MBS di Arab Saudi dan berusaha memanfaatkan kondisi ini untuk meraih konsesi ekonomi darinya.

 

Selain itu, Tunisia tahun depan (2019) akan menghadapi pemilu parlemen dan presiden.  Youssef Chahed menjabat perdana menteri setelah didukung Partai Nidaa dan sekaligus menantu Beji Caid Essebsi, presiden negara ini, berusaha meraih dukungan finansial dan media Al Saud di pemilu mendatang dengan kampanye anti kubu Islam Ennahda sebagai rival utama Partai Nidaa. (MF)

 

 

 

Tags

Komentar