Dec 16, 2018 21:50 Asia/Jakarta
  • Rudal jarak menengah
    Rudal jarak menengah

Presiden AS, Donald Trump pada 20 Oktober lalu mengumumkan bahwa negaranya keluar dari Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF). Trump mengambil keputusan tersebut dengan dalih pihak Rusia terlebih dahulu telah melanggarnya.

Tidak lama setelah itu, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo pada 4 Desember menyatakan bahwa Washington akan membekukan komitmennya terhadap traktat INF selama 60 hari untuk memberikan waktu supaya Moskow menunjukkan komitmennya terhadap perjanjian bilateral nuklir dua arah itu.

AS mengklaim Rusia selama beberapa tahun terakhir mengembangkan sistem rudah baru yang bertentangan dengan isi perjanjian INF. Moskow membantah tudingan tersebut dan menegaskan komitmennya terhadap traktat INF. 

Deputi Menteri Pertahanan Rusia, Alexander Fomin mengatakan, Moskow sangat memperhatikan secara akurat implementasi traktat INF, oleh karena itu tudingan AS terhadap Rusia tidak berdasar.

Ancaman AS ini mengemuka di saat Rusia sebelumnya berulangkali menyatakan bahwa pihaknya mematuhi perjanjian nuklir tersebut.

Masalah ini tidak hanya menjadi perhatian kedua negara besar ini saja tapi juga publik internasional. Pasalnya, AS di masa kepemimpinan Trump berulangkali melanggar berbagai perjanjian internasional dari level bilateral hingga multilateral seperti perjanjian iklim Paris dan JCPOA.

Sementara itu, Rusia sudah menyampaikan rancangan resolusi mengenai dukungannya terhadap INF. AS dan Uni Soviet menandatangani INF di Washington pada 1987, dan perjanjian tersebut mulai diimplementasikan pada Juni 1988. Sejak itu, Washington dan Moskow melarang penggunaan rudal balistik dan cruise.

Traktat bilateral ini bertujuan untuk menghalangi penggunaan rudal balistik dan cruise dengan daya jelajah 500 hingga 1000 kilometer, dan 1000 hingga 5500 kilometer.

 

Jika AS benar-benar keluar dari perjanjian nuklir bilateral ini, maka dampaknya bukan hanya menimpa kedua negara ini saja, tapi lebih luas lagi. Keputusan ini akan menyulut kompetisi rudal, sebagaimana terjadi sebelumnya. Diprediksi, AS akan menempatkan rudalnya di Eropa, dan Rusia juga akan mengambil keputusan serupa sebagai aksi balasan. Langkah tersebut akan menjadikan Eropa sebagai lahan kompetisi senjata.

Sebaliknya, langkah Rusia menyerahkan rancangan resolusi dukungan terhadap INF ke PBB menunjukkan itikad baik Moskow untuk menjaga INF. Dalam pandangan Moskow, pemerintahan Trump berupaya memaksakan doktrin nuklirnya dengan menuding pihak lain melanggar kesepakatan yang telah dicapai bersama.

Mskow mengatakan, pihaknya tidak akan menerima alasan apapun untuk memberikan izin bagi investigator INF yang dilakukan secara sepihak. Direktur non-proliferasi nuklir kementerian luar negeri Rusia, Vladimir Ermakov mengatakan, jika AS jadi keluar dari INF, maka Rusia tidak lagi bertanggung jawab atas implementasi perjanjian nuklir internasional ini.(PH)

 

 

Tags

Komentar