Dec 18, 2018 21:07 Asia/Jakarta
  • Senjata Jerman yang dipasok ke Arab Saudi
    Senjata Jerman yang dipasok ke Arab Saudi

Berlanjutnya kebijakan konfrontatif Arab Saudi di kawasan, terutama perang Yaman memicu reaksi dari sejumlah negara Eropa berkaitan dengan kerja sama penjualan senjata dengan Riyadh.

Steffen Seibert, Juru Bicara Pemerintah Jerman menyatakan, Jerman setelah ini bukan hanya tidak akan memasok senjata ke Saudi, tapi juga mencabut izin pengiriman senjata sebelumnya.

Keputusan Berlin menghentikan pengiriman senjata ke Arab Saudi sebagai langkah signifikan karena Jerman merupakan salah satu negara pemasok senjata dan alutsista terbesar untuk Arab Saudi. 

Selama ini, AS dan negara-negara Eropa merupakan pemasok terbesar senjata dan alutsista ke Arab Saudi.

Di tahun 2017, Arab Saudi bertengger di jajaran 10 negara yang paling boros membelanjakan dananya untuk membeli senjata dan alutsista.

Belanja senjata jor-joran yang dilakukan rezim Al Saud menyulut peningkatan suhu militerisme di kawasan Asia Barat. Mengenai masalah ini, analis politik internasional, Pieter Wezemen mengatakan, kebijakan keamanan dan militerisme asing menimbulkan ancaman besar di bidang keamanan nasional dan regional, perdamaian, pembangunan dan penegakkan hak asasi manusia. Oleh karena itu, negara-negara dunia harus mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang ekspor senjata ke Arab Saudi.

Mesin perang yang disulut Arab Saudi di Yaman yang berlanjut hingga kini telah menewaskan ribuan orang tak bersalah, termasuk perempuan dan anak-anak. Oleh karena itu, para aktivis sipil dan HAM berbagai negara dunia harus melancarkan tekanan terhadap para politisi dan pemangku kepentingan di negaranya masing-masing supaya menghentikan ekspor senjata ke Arab Saudi dengan tujuan untuk memaksa Riyadh menghentikan perang di Yaman.

Dewan HAM dan Keadilan Jenewa menyerukan supaya Eropa mengambil keputusan bersama untuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi. Lembaga internasional ini menilai berlanjutnya penjualan senjata ke Arab Saudi sejatinya merupakan bentuk dukungan terhadap aksi tidak berperikemanusiaan negara ini, terutama di Yaman.

dampak destruktif serangan udara rezim Al Saud di Yaman

Di sisi lain, kasus pembunuhan Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, dan berbagai kasus pelanggaran HAM  lainnya menunjukkan wajah sebenarnya rezim Al Saud.

Fakta-fakta ini menyebabkan publik dunia, termasuk sekutu barat Riyadh menyerukan penghentian perang Yaman dan investigasi independen terhadap kasus pembunuhan Khashoggi.

Meskipun demikian, Riyadh hingga kini masih melanjutkan kebijakan konfrontatifnya di Yaman. Oleh karena itu, sebagian sekutu Arab Saudi mulai mempertimbangkan untuk menghentikan pengiriman senjata ke negara ini.

Wakil Jerman di Parlemen Eropa, Sabine Losing mengatakan, kita harus menghentikan kegilaan militer Uni Eropa dan juga perdagangan berlaba besar yang mengabaikan tewasnya banyak orang akibat penggunaan senjata yang dipasok dari Eropa.

Walaupun negara-negara Barat seperti  Jerman, Norwegia, Finlandia, dan Swiss mengabarkan penghentian ekspor senjata ke Arab Saudi, dan Kanada juga meninjau ulang kontrak penjaualan senjata dengan rezim Al Saud, tapi hingga kini mereka masih menjalankan kebijakan standar ganda terhadap Riyadh.

Motif penghentian ekspor senjata yang dilakukan Jerman dan negara Eropa lainnya lebih banyak dipengaruhi oleh tuntutan publik dalam negerinya sendiri, bukan sebuah keseriusan untuk menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian regional dan global.(PH)

 


 

Tags

Komentar