Mar 21, 2019 21:02 Asia/Jakarta
  • Presiden AS, Donald Trump
    Presiden AS, Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, selama ini dikenal sangat agresif dalam melancarkan serangan terhadap Iran, terutama dengan statemen-statemen verbalnya yang menusuk, sejak masa kampanye dan setelah terpilih sebagai Presiden AS.

Ia menggunakan apa saja sebagai alat untuk mewujudkan kepentingannya termasuk dengan menyampaikan pesan Nowruz kepada rakyat Iran yang diselipi kepentingan besar Washington. Sejak Trump mengumumkan AS keluar dari JCPOA, Washington memasuki perang baru dengan Tehran di ranah ekonomi dengan menjatuhkan sanksi nuklir terhadap Iran. Tujuannya untuk menciptakan kemiskinan dan menyulut instabilitas di Iran. Selain itu, di level kawasan, pemerintahan Trump berupaya menciptakan aliansi regional dalam konteks Pakta Strategi Keamanan Nasional 2017 dengan tujuan meredam pengaruh Iran, dan berusaha mengubah kebijakannya di tingkat Timur Tengah.

Di tengah gencarnya aksi konfrontasi Trump terhadap Iran, Presiden AS ini dalam pesan Nowruz 1398 Hs, kembali lagi melancarkan tuduhan palsu terhadap Republik Islam Iran. Presiden Amerika Serikat dalam pesannya mengungkapkan solidaritasnya terhadap rakyat Iran, dan mengklaim pihaknya tidak akan tinggal diam dalam mendukung terwujudnya tuntutan mereka.

Trump mengatakan bahwa rakyat  Iran masih belum dapat sepenuhnya berbagi kegembiraan pada hari raya Nowruz. Presiden AS mengklaim dirinya merasa kasihan terrhadap nasib rakyat Iran yang saat ini menderita akibat sanksi paling keras dan paling luas dalam sejarah Iran sehingga Republik Islam Iran menyerah terhadap Gedung Putih. Trump mengatakan bahwa rakyat Iran ingin meraih kembali kecemerlangan sejarah dan kebudayaannya yang pernah bersinar terang, dan kedudukannya yang sebenarnya di dunia. Presiden AS ini mengungkapkan bahwa  kehidupan sehari-hari rakyat Iran saat ini bertentangan dengan konsep Nowruz, yang berarti hari baru.

Presiden Amerika Serikat menyampaikan pesan tersebut seolah-olah dirinya tidak berperan apapun terhadap penderitaan yang dialami rakyat Iran akibat sanksi. Padahal sanksi sepihak Amerika Serikat setelah keluar dari JCPOA mengincar seluruh aspek, termasuk secara efektif menargetkan sektor farmasi dan medis yang dibutuhkan rakyat Iran. Sanksi juga mengincar maskapai penerbangan komersial Iran, bahkan mencegah perusahaan penerbangan Iran memperoleh suku cadang dan layanan penting lainnya, sehingga menempatkan rakyat Iran sebagai korban utamanya.

 

Donald Trump

Meskipun menghadapi gelombang sanksi yang mengalir deras dari AS selama 40 tahun terakhir, rakyat Iran telah membuktikan bahwa mereka tidak pernah berada di bawah pengaruh propaganda dan tekanan AS untuk melepaskan dukungannya terhadap Republik Islam demi mengikuti dikte Washington. Faktanya, Iran telah terbukti berhasil mengatasi sanksi AS dan menghadapi kebijakan permusuhan Trump.

Barbara Slavin, seorang ahli Iran di Dewan Atlantik yang berbasis di Washington mengatakan, "Komunitas internasional tidak lagi bersama AS. Kita berada dalam situasi ketika pemerintah Trump berusaha memaksa masyarakat internasional supaya mematuhi kebijakannya, tapi sebagian besar negara dunia tidak menerima kebijakan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah Iran telah menang di tahap pertama, dan memegang kartu kemenangan yang dihasilkan dari kesepakatan nuklir. Kini Iran dilihat sebagai aktor penting di arena internasional,".

Amerika Serikat mengira akan bisa memaksa Iran menyerah terhadap tuntutannya melalui perang propaganda dan tekanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rakyat negara ini. Sejatinya, kebijakan Amerika tersebut sebagai bentuk nyata campur tangan dalam urusan internal Iran, yang merupakan tindakan yang  melanggar hukum internasional, serta bertentangan dengan aturan internasional dan Piagam PBB.

Pendekatan Trump terhadap Tehran membuktikan bahwa ia tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang Iran. Pengalaman lebih dari empat puluh tahun telah menunjukkan bahwa semakin banyak tekanan asing terhadap Iran, maka persatuan dalam negeri akan semakin kuat.(PH)

 

 

Tags

Komentar