Apr 23, 2019 19:38 Asia/Jakarta
  • Libya
    Libya

Bentrokan di Libya khususnya di Tripoli dan sekitarnya terus berlanjut dan semakin sengit. Dalam hal ini berbagai sumber militer yang berafiliasi dengan pemerintah Rekonsiliasi Nasional Libya menyatakan bahwa mayoritas bandara udara Tripoli berada di bawah kendali mereka. Sementara pasukan di bawah komando Khalifa Haftar mengklaim hanya berjarak 10 km dari pusat Tripoli.

Krisis di Libya sejak awal April memasuki fase baru. Ketika masyarakat internasional tengah bersiap-siap menggelar dialog damai untuk menyelesaikan krisis di Libya dan menciptakan peluang bagi penyelenggaraan pemilu di negara ini, serangan pasukan Khalifa Aftar pada 4 April ke Tripoli telah mengubah kondisi politik di negara ini.

Krisis Libya

Sudah 20 hari serangan dan bentrokan kedua pihak berlansung di Tripoli. Serangan Haftar ke Tripoli dilancarkan ketika ia menganggap dapat merebut kota ini dalam waktu singkat, namun perlawanan pasukan pemerintah nasional bersatu membuat konfrontasi bersenjata di Tripoli dan sekitarnya masih terus berlangsung.

Bentrokan di Libya menimbulkan kerugian besar materi dan nyawa manusia. Menuru laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah korban tewas dan terluka selama bentrokan di Tripoli mencapai lebih dari 1450 orang dan lebih dari 20 ribu lainnya terpaksa mengungsi.

Sementara itu, di bidang diplomatik, barisan global dalam menyikapi Libya dan krisisnya juga mengalami perubahan. Mayoritas negara Eropa masih tetap mendukung pemerintah nasional bersatu Libya dan menyeru diakhirinya perang serta solusi krisis melalui perundingan.

Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte mengatakan bahwa tidak ada kepentingan ekonomi maupun strategis yang mampu menjustifikasi eskalasi perang saudara di Libya, dan mengatakan, kita harus mengerahkan segenap upaya untuk mencegah terjadinya krisis kemanusiaan di Libya, karena krisis seperti ini bukan saja menimbulkan dampak buruk bagi Italia dan Eropa, tapi juga bagi rakyat Libya sendiri.

Di sisi lain, mayoritas pengamat menilai aksi militer Haftar dipicu oleh lampu hijau Amerika dan dukungan finansial serta militer Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Jeffrey D. Feltman mengkritik dukungan presiden AS terhadap Khalifa Haftar, dan menilai dukungan ini sebagai awal dariaksi  pengeboman membabi buta Tripoli oleh pasukan Haftar. Ia mengatakan, peristiwa ini bukan sebuah kebetulan setelah kontak telepon Trump dengan Haftar, kita menyaksikan pengeboman membabi buta di Tripoli oleh pasukan jenderal ini.

Bentrokan di Libya semakin meningkat di saat negara ini berubah menjadi arena perseteruan dan tuntutan saham berbagai negara. Dalam hal ini tuntutan rakyat Libya untuk memiliki sebuah negara yang aman dan demokratis diabaikan.

Mayoritas rakyat Libya khawatir jika Haftar berkuasa, diktatorisme akan kembali di negara ini dan sebagian lainnya khawatir akan intervensi asing dan bahkan disintegrasi Libya.

Dalam kondisi seperti ini sepertinya solusi tunggal bagi Libya untuk keluar dari krisis saat ini dan bergerak menuju stabilitas politik adalah diakhirinya bentrokan melalui pemutusan intervensi asing, dan dilanjutkannya perundingan untuk keluar dari krisis serta pengambilan keputusan bagi masa depan politik negara ini dengan melibatkan faksi-faksi dalam negeri. (MF)

 

 

Tags

Komentar