Apr 24, 2019 14:17 Asia/Jakarta

Negara-negara Eropa hanya menunjukkan sikap pasif atas keputusan pemerintah AS, yang tidak akan memperpanjang keringanan sanksi terhadap para importir minyak Iran.

Uni Eropa hanya menyatakan penyesalan atas keputusan baru Presiden Donald Trump terhadap Iran.

Juru bicara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Maja Kocijancic mengatakan Brussels menyesalkan pengumuman Washington yang tidak memperpanjang keringanan sanksi terkait pembelian minyak dari Iran, karena langkah ini akan semakin memperlemah pelaksanaan perjanjian nuklir JCPOA.

Uni Eropa seharusnya mengecam tindakan sepihak AS yang bertentangan dengan perjanjian nuklir dan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB, bukan sebatas mengeluarkan penyesalan.

Kementerian Luar Negeri Inggris juga menyatakan penyesalannya atas langkah AS yang mengakhiri periode keringanan sanksi terhadap para importir minyak Iran.

"Perjanjian nuklir JCOPA adalah kesepakatan yang signifikan dan pemerintah Inggris akan tetap berkomitmen untuk itu," kata pernyataan Kemenlu Inggris pada Selasa (23/4/2019) malam.

Ketika AS secara sepihak meninggalkan JCPOA pada Mei 2018, negara-negara Eropa juga tidak mengambil tindakan praktis untuk menekan Washington, tetapi hanya sebatas mengeluarkan kecaman.

Tentu saja dukungan Uni Eropa dan Troika Eropa – Inggris, Perancis, dan Jerman – sejalan dengan kepentingan Benua Biru itu. Eropa memandang JCPOA sebagai sebuah contoh dari perjanjian multilateral yang mampu menyelesaikan masalah nuklir Iran. Mereka juga menganggap JCPOA sebagai contoh dalam memecahkan sengketa lain di kancah internasional.

Oleh karena itu, Maja Kocijancic menekankan bahwa Uni Eropa tetap akan berkomitmen terhadap JCPOA, karena perjanjian ini telah disahkan oleh Dewan Keamanan dengan suara bulat serta sangat penting bagi keamanan kawasan dan dunia.

Rusia – anggota lain perjanjian nuklir JCPOA – mengambil sikap tegas terhadap keputusan AS menjatuhkan sanksi atas sektor minyak Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan, konfrontasi dan tekanan terhadap Iran adalah sebuah kebijakan yang dikejar Washington sejak dulu.

Moskow percaya bahwa Washington mengejar beberapa tindakan untuk menekan Tehran dan salah satunya adalah pengetatan sanksi minyak.

"Keputusan AS terhadap Iran tidak boleh dilihat secara terpisah, dan penetapan Korps Garda Revolusi Islam (Pasdaran) sebagai organisasi teroris juga bagian dari langkah komprehensif AS untuk menekan Iran. Semua tindakan ini menargetkan pemerintah dan rakyat Iran," ungkap Zakharova.

Pada dasarnya, AS selalu mencari cara dan alasan agar bisa meningkatkan tekanan terhadap Iran. Pada 2018 lalu, Washington menuntut Tehran untuk menerima 12 syarat yang ditetapkan oleh AS. Namun, Iran secara tegas menolak tuntutan tersebut. (RM)

Tags

Komentar