Mei 13, 2019 19:53 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump.
    Presiden AS Donald Trump.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini mengungkapkan harapan agar pejabat Republik Islam Iran menelpon dirinya dan bersedia berunding dengan AS guna mencapai kesepakatan "yang adil".

Apakah keinginan Trump itu serius? Sebelum pemerintahan Trump, AS dan Iran beserta Rusia, Cina, Inggris, Perancis, ditambah Jerman telah mencapai kesepakatan nuklir JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama), bahkan perjanjian internasional ini telah disetujui Dewan Keamanan PBB. Namun Trump dengan sombong dan secara sepihak keluar dari perjanjian yang dicapai melalui proses yang sangat panjang dan lama tersebut.

Setelah keluar dari JCPOA, Trump juga memulihkan sanksi terhadap Iran di berbagai bidang dengan harapan Iran akan menyerah di hadapan tekanan Amerika. Setelah mengambil langkah-langah tersebut, Trump mengungkapkan keinginannya kepada pejabat Tehran untuk menghubunginya.

Jika perjanjian yang dicapai sebelumnya saja tidak dilakukan, bahkan AS keluar dari perjanjian tersebut, lalu untuk apa Trump sekarang berharap pejabat Iran akan menghubunginya untuk berunding? Tampaknya harapan Trump tersebut hanya sebuah keputusasaan karena hingga detik ini, AS tidak mampu membuat Iran bertekuk lutut meski berbagai cara telah dilakukan.

Pada dasarnya, AS hanya mengenal bahasa tekanan, intimidasi dan ancaman. Trump mengajak berunding namun di sisi lain dia mengerahkan pasukannnya. Trump mengajak berunding tetapi dia menutup semua jalur perundingan yang adil. Trump mengajak berunding tetapi dia memulihkan sanksi penuh terhadap Iran.

Mungkin Trump mengira bahwa setelah keluar dari JCPOA dan pemulihan sanksi penuh terhadap Iran dan juga pengambilan langkah menakut-nakuti negara ini dengan mengirim armada angkatan laut ke Teluk Persia, Republik Islam akan ketakutan, lalu menelpon dia dan mengharap belas kasih darinya.

Rupanya Trump belum mengenal dengan baik Republik Islam Iran. Republik Islam adalah negara yang tidak pernah tunduk terhadap dikte, tekanan dan intimidasi kekuatan-kekuatan arogansi dunia, dan akan terus melawan penindasan mereka. Hal itu telah dibuktikan bangsa Iran selama 40 tahun terakhir. Meski diembargo di berbagai bidang, bahkan diagresi secara militer, namun bangsa Iran tetap kokoh berdiri dan bahkan mencapai berbagai kemajuan di banyak bidang.

Sebelumnya, pemerintah Amerika telah menyerahkan sebuah nomor telepon kepada Swiss agar pemerintah Republik Islam Iran bisa menggunakannya untuk menghubungi Presiden Donald Trump.

Informasi itu disampaikan oleh seorang diplomat Amerika yang berbicara kepada televisi CNN. Kedutaan Besar Swiss untuk Iran mewakili kepentingan AS di Tehran.

Kedubes Swiss menangani kepentingan diplomatik AS setelah hubungan Tehran-Washington terputus menyusul peristiwa pendudukan Kedubes AS di Iran pada 1979. Ratusan staf diplomatik AS sempat disandera oleh para mahasiswa Iran.

"Swiss kemungkinan tidak akan memberikan nomor tersebut kepada Iran, kecuali ada permintaan resmi dari para pejabat Tehran," kata diplomat AS itu seperti dikutip Farsnews, Sabtu (11/5/2019).

Trump dalam sebuah konferensi pers pada 9 Mei 2019 mengusulkan perundingan dengan Iran. Dia mengatakan, pekerjaan yang harus dilakukan para pejabat Iran adalah menghubungi saya dan duduk berunding.

"Saya ingin mereka menelepon saya. Kita bisa mencapai kesepakatan yang adil," kata Trump.

AS baru-baru ini menerapkan sanksi baru terhadap sektor baja, aluminium dan tembaga Iran. Sektor energi, otomotif, dan keuangan Iran juga tidak luput dari sanksi.

Washinton juga tidak memperpanjang pengecualian sanksi terhadap negara-negara eksportir utam minyak Iran sejak 2 Mei 2019.

Trump sebelum ini juga mengusulkan perundingan dengan Iran ketika dia secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir JCPOA dan memulihkan sanksi-sanksi nuklir terhadap Republik Islam.

Wakil Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran untuk Urusan Politik Sayid Abbas Araqchi menolak menghubungi Trump. Dia mengatakan, menghubungi Trump via telepon tidak akan menyelesaikan masalah dalam hubungan antara kedua negara.

Araqchi menambahkan, AS memiliki informasi kontak para pemimpin Iran jika diperlukan.

Hubungan antara Iran dan AS kian memanas. Amerika telah mengirimkan kapal induk bersama satuan tugas pembom ke Teluk Persia.

Pemberangkatan armada kapal perang dan pesawat pembom itu disebut sebagai bentuk pesan kepada Republik Islam Iran.

Kelompok serang yang diberangkatkan AS ini melputi kapal induk USS Abraham Lincoln, kapal jelajah rudal USS Leyte Gulf dan kapal perusak dari Skuadron 2.

AS pada Selasa, 7 Mei 2019 juga mengirim beberapa pesawat pembom B-52 ke Teluk Persia untuk mencegah serangan apa pun yang diklaimnya bermungkinan sedang dipersiapkan oleh Iran.

Pembom B-52 adalah pesawat berukuran besar dengan jarak terbang yang jauh serta mampu membawa rudal jelajah dan bom nuklir. (RA)

Tags

Komentar