Sep 07, 2019 17:17 Asia/Jakarta
  • Kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Indonesia
    Kunjungan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif ke Indonesia

Dinamika Asia Tenggara pekan ini akan menelisik sejumlah isu di antaranya, Kunjungan Zarif ke Bangladesh dan Indonesia. Tanggapan Mahathir Mohamad terkait Hong Kong.

Agenda Kunjungan Menlu Iran ke Bangladesh

Republik Islam Iran memiliki banyak pilihan untuk menghadapi perang ekonomi AS, salah satunya dengan menggunakan kapasitas domestik untuk pembangunan ekonomi sambil mendiversifikasi hubungan ekonomi yang seimbang, serta memanfaatkan peluang dan kerja sama regional.

Dalam hal ini, berbagai pendekatan telah dipertimbangkan Iran termasuk mengusung diplomasi ekonomi menghadapi sanksi AS.

Zarif di Bangladesh

Dari perspektif ekonomi-politik, tampaknya Iran perlu mengaktifkan kapasitas domestik untuk pembangunan ekonomi, memanfaatkan peluang dan kapasitas regional seperti  kawasan Eurasia, ASEAN, Organisasi Kerjasama Ekonomi ECO dan Asosiasi Negara-Negara Samudera Hindia (IORA).

Kunjungan delegasi politik dan ekonomi Iran selama beberapa pekan terakhir, termasuk kunjungan terbaru Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif ke Bangladesh.

Selain menghadiri pertemuan puncak IORA, Menlu Iran juga menemui pejabat tinggi Bangladesh, dan menyampaikan pidato dihadapan para pemimpin perusahaan besar negara asia selatan ini.

Dijadwalkan, Zarif akan melanjutkan perjalanannya dari Bangladesh ke Indonesia untuk berdiskusi dengan para pejabat senior dan cendikiawan negara ini tentang isu-isu bilateral dan perkembangan dunia Islam.

Kehadiran Zarif di KTT IORA yang dilanjutkan dengan mengunjungi Indonesia dipandang penting setidaknya dari dua hal. Aspek pertama dari lawatan ini mengenai dialog dalam kerangka hubungan bilateral antara Iran dengan kedua negara Muslim ini  dalam kerangka hubungan zona Asia. Oleh karena itu, lawatan Zarif tersebut merupakan peluang untuk mengejar tujuan ekonomi dan komersial bersama antara Tehran dengan Dhaka dan Jakarta.

Aspek penting kedua dari perjalanan Zarif ini adalah kehadiran Menteri Luar Negeri Iran pada pertemuan IORA. KTT IORA yang akan digelar Kamis 5 September, dihadiri para pejabat senior dari negara-negara di wilayah geografis yang luas ini hadir. IORA dengan 19 negara anggota dari tiga benua Asia, Afrika, dan Pasifik terdiri lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia.

Profesor Hubungan Internasional Universitas Tehran, Ali Sabaghian menegaskan urgensi IORA.

"Asosiasi ini, pada dasarnya dikenal sebagai Prakarsa Perbatasan Samudra Hindia yang berfokus  untuk mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan pembangunan yang seimbang di kawasan ini dan antar sesama anggotanya.Oleh karena itu, IORA  memperluas liberalisasi perdagangan dan menghilangkan hambatan terhadap arus perdagangan. Modal dan teknologi memainkan peran penting di kawasan Samudra Hindia," ujar Sabaghian.

Kini, Republik Islam Iran sedang berada dalam situasi kritis,  rumit dan menentukan. Sanksi dan tekanan lalim internasional yang diciptakan untuk menjegal kemajuan Republik Islam Iran dalam meraih tujuan-tujuannya yang sah, telah menghambat proses pembangunan ekonomi negara itu.

Penggunaan alat sanksi, intensifikasi tekanan internasional, dan upaya luas untuk mengisolasi Iran menjadi tiga strategi utama AS yang dilancarkan terhadap Tehran. Tentu saja tidak mudah untuk melewati kondisi sulit saat ini. Namun tetap saja ada beberapa alternatif bagi Iran untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Pengembangan hubungan luar negeri dan ekonomi yang seimbang sekarang menjadi agenda kebijakan luar negeri Iran.

Tujuan strategis diplomasi ekonomi Iran dengan menggunakan kapasitas domestiknya yang dilakukan bersamaan dengan langkah peningkatan posisi ekonomi Iran di tingkat regional dan internasional. Kini, Republik Islam Iran, dengan mengadopsi kebijakan luar negerinya yang proaktif, tetap bisa mempertahankan hak-haknya di arena internasional, dan pada saat yang sama berdiri tegar melawan kekuatan dominasi global.

Sementara itu, saat bertemu dengan sejawatnya dari Bangladesh, Menteri Luar Negeri Iran mereaksi sanksi Amerika Serikat terhadap Badan Antariksa Iran, ISA dan mengatakan, penggunaan ekonomi sebagai senjata oleh Amerika, sudah sangat ekstrem yang perlahan-lahan mengancam kemampuan ekonomi negara itu sendiri.

Departemen Keuangan Amerika, Selasa (3/9/2019) memasukkan Badan Antariksa Iran, ISA ke dalam daftar sanksinya.

IRNA (4/9) melaporkan, Mohammad Javad Zarif, Rabu (4/9) setelah bertemu sejawatnya dari Bangladesh, Abul Kalam Abdul Momen, di hadapan wartawan menegaskan bahwa Amerika sudah kecanduan sanksi.

Ia menuturkan, Amerika menyanksi semua kecuali dirinya, dan setiap hari melakukan apapun terhadap sebuah negara, dan sanksi semacam ini tidak efektif bagi Iran.

Zarif juga menjelaskan, langkah Iran menurunkan komitmen nuklirnya adalah balasan atas kelalaian Eropa dalam menjalankan komitmennya.

Menurut Zarif, kapanpun Amerika kembali menghentikan sanksi dan pelanggaran kesepakatan nuklir JCPOA, mereka dapat kembali ke perundingan.

Pertemuan Menlu Iran dan Indonesia

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif bertemu dengan mitranya di Republik Indonesia, Retno Marsudi di Gedung Pancasila, kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jumat (6/9/2019).

Pertemuan Zarif dan sejawatnya dari Indonesia, Retno Marsudi di Jakarta

Sebelumnya, Zarif dan delegasi yang menyertainya tiba di Bandara Halim Perdanakusuma pada Kamis sore dan dijadwalkan bertemu dengan Retno Marsudi untuk membicarakan sejumlah isu di kawasan dan internasional, dan peningkatan kerja sama bilateral antara Iran dan Indonesia.

Juru bicara Kemlu Iran Sayid Abbas Mousavi pada akhir pekan lalu mengatakan bahwa Menlu Zarif akan mengunjungi Indonesia dalam rangkaian lawatan Asia.

Mousavi menuturkan, setelah berkunjung ke sejumlah negara Eropa, Cina, Jepang dan Malaysia, Menlu Iran bersama rombongan dijadwalkan melawat Indonesia.

Menurutnya, agenda kunjungan Zarif ke Indonesia adalah melakukan pertemuan dan perundingan dengan para pejabat tinggi Indonesia terkait hubungan bilateral dan transformasi dunia Islam.

Dia menjelaskan, pandangan seimbang Republik Islam terhadap berbagai kawasan dunia mendorong Iran melakukan diplomasi aktif dan adil dengan seluruh negara sahabat.

Zarif: Iran dan Indonesia Miliki Kesamaan Pandangan soal Palestina

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif seraya mengisyaratkan pandangan bersama Tehran-Jakarta terkait isu Palestina mengatakan, Baitul Maqdis kiblat pertama umat Muslim dunia.

Mohammad Javad Zarif Jumat (06/09) di jumpa pers bersama sejawatnya dari Indonesia, Retno Marsudi di Jakarta menambahkan, Iran dan Indonesia mengejar tujuan bersama di isu Palestina.

Seraya mengisyaratkan transformasi kawasan Asia Barat, Zarif menjelaskan, keamanan kawasan Teluk Persia akan terjamin dengan interaksi dan kerja sama negara-negara kawasan.

Sementara itu, Menlu Indonesia Retno Marsudi seraya menekankan penyelesaian friksi di kawasan Asia Barat melalui dialog mengatakan, perdamaian dunia tidak dapat diraih tanpa perdamaian di kawasan Asia Barat.

Seraya mengisyaratkan isu Palestina, Retno Marsudi menambahkan, Indonesia menuntut pembentukan negara independen Palestina dengan ibukota Quds.

Menlu Indonesia juga menilai penting implementasi penuh JCPOA oleh seluruh negara yang tersisa di perjanjian nuklir ini.

Retno Marsudi juga menyatakan dukungan Jakarta atas kerja sama Indonesia dan Iran di bidang kesehatan khususnya peralatan medis dan farmasi.

Menlu Iran Kamis (05/09) malam bersama delegasi tinggi meninggalkan Dhaka, Bagladesh menuju Jakarta untuk bertemu dengan petinggi Indonesia.

Mahathir Ragu Satu Negara Dua Sistem di Hong Kong Bertahan Lama

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad meragukan keerangka satu negara dengan dua sistem yang diterapkan Cina di Hong Kong akan sungguh bekerja untuk waktu yang lama.

PM Malaysia Mahathir Mohamad

Mahathir menyatakan prihatin Cina tidak akan mentoleransi ekskalasi di Hong Kong sehingga Beijing akan mengerahkan pasukan untuk mengakhiri kebuntuan jika unjuk rasa terus berlanjut dan situasi Hong Kong memburuk.

"Saya tidak pernah berpikir bahwa negara dengan dua sistem berbeda dapat sungguh-sungguh bekerja untuk jangka lama, dan cukup yakin ini telah terjadi," kata Mahathir di Kyoto, Jepang pada hari Jumat, 6 September 2019.

Menurut laporan South China Morning Post, Mahathir mengatakan, unjuk rasa yang terus berlanjut di Hong Kong menunjukkan keterbatasan dari penerapan satu negara dengan dua sistem di Hong Kong.

"Jika mereka tidak mampu mengatasi ini dan ini tidak berhenti dan tuntutan otonomi atau merdeka bertambah dan bertambah, maka saya kira Cina tidak akan mentoleransi itu," ujar Mahathir.

Warga Hong Kong tetap melanjutkan unjuk rasa meski pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam telah menarik dan membatalkan RUU Ekstradisi tersangka kriminal ke Cina sesuai tuntutan pengunjuk rasa.

Mahathir Mohamad berada di Jepang untuk menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Doshisha dan berkunjung ke sejumlah perusahaan berteknologi mutakhir

 

Tags

Komentar