Sep 11, 2019 16:09 Asia/Jakarta

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya memecat Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton di tengah gencarnya spekulasi tentang ketidakcocokan kedua pihak.

"Saya memberi tahu John Bolton tadi malam bahwa pengabdiannya tidak lagi diperlukan di Gedung Putih. Saya sangat tidak setuju dengan banyak sarannya, seperti orang-orang lain di pemerintah dan karena itu saya meminta John untuk mengundurkan diri dan (suratnya) telah diberikan kepada saya pagi ini. Saya berterima kasih banyak kepada John atas pengabdiannya. Saya akan menunjuk Penasihat Keamanan Nasional baru pekan depan," tulis Trump di akun Twitter-nya.

Dengan demikian, salah satu sosok yang paling kontroversial dan pendukung utama perang di pemerintahan Trump telah dipecat dari Gedung Putih.

Bolton menjadi penasihat keamanan nasional untuk Trump selama 2,5 tahun lalu. Sejak berdinas di Gedung Putih, ia mengarahkan kebijakan luar negeri AS untuk merongrong lembaga-lembaga internasional dan juga banyak negara dunia.

Salah satu keputusannya yang paling kontroversial adalah mendorong Trump untuk keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran. Langkah ini membuat AS terkucil secara politik, sementara Iran mampu menggagalkan kebijakan tekanan maksimum Trump dengan mengambil langkah perlawanan maksimum.

Tentu saja blunder-blunder yang dibuat Bolton tidak hanya terkait Iran dan perjanjian nuklir JCPOA. Ia sejak dulu memiliki sikap ekstrem dalam melawan lembaga-lembaga internasional termasuk PBB.

Bolton membawa AS untuk melawan lembaga-lembaga dunia, dan sikapnya terhadap Pengadilan Kriminal Internasional dianggap sebagai deklarasi perang terhadap aturan internasional dan hak asasi manusia.

Ia juga telah memantik krisis dalam hubungan Amerika-Venezuela, sementara saran-sarannya dalam hubungan dengan Korea Utara, Cina, dan Rusia tidak membawa hasil apapun.

Dengan memecat Bolton, Trump tampaknya sedang berusaha untuk memperbaiki kerusakan yang muncul di ranah kebijakan luar negeri dan keamanan pemerintah AS.

Kasus undangan rahasia kepada para pemimpin Taliban untuk datang ke Camp David, fasilitas musim panas Kepresidenan AS, telah menciptakan sebuah skandal politik bagi Trump.

"Dua sumber memberi tahu saya bahwa John Bolton dan Donald Trump berdebat sengit tadi malam tentang rencana presiden untuk menjamu para pemimpin Taliban di Camp David," tulis wartawan CNN di Gedung Putih, Kaitlan Collins di akun Twitter-nya.

Terlepas dari siapa yang akan ditunjuk untuk menggantikan Bolton, sebuah perubahan sepertinya akan terjadi dalam pemerintahan Trump menjelang pemilu presiden 2020. Perubahan ini tentu akan membawa pengaruh secara global dengan syarat Trump harus menyingkirkan para politisi pengobar perang dari lingkarannya. (RA)

Tags

Komentar