Aksi teror bom terbaru di kota Surabaya, Jawa Timur merupakan tanda bahaya serius atas eskalasi pengaruh kelompok teroris Daesh di Indonesia dan seluruh negara kawasan Asia Tenggara. Jawa Timur bersama sejumlah wilayah Indonesia lainnya selama beberapa bulan terakhir mendapat serangan teror yang berujung pada tewasnya 27 orang dan 40 lainnya mengalami cidera.

Menurut laporan yang dirilis aparat keamanan Indonesia, anggota tiga keluarga tercatat sebagai pelaku aksi teror dan di antara mereka terdapat anak yang masih berusia 9 dan 11 tahun. Setelah terungkap kegagalan kelompok teroris Daesh di Timur Tengah sejak dua tahun lalu, muncul kekhawatiran relokasi anggota kelompok ini ke kawasan Asia Tenggara.

Serangan kelompok Maute yang juga dikenal sebagai Dawlah Islamiya Filipina ke kota Marawi Filipina dan pendudukan kota ini selama beberapa waktu, menunjukkan bahwa kehadiran kelompok teroris Daesh di kawasan Asia Tenggara sangat serius dan kondisi ini mendorong negara-negara kawasan termasuk Malaysia, Indonesia dan Filipina mengambil langkah serius dan kolektif untuk menangani terorisme.

Dennis Ignatius, mantan diplomat senior Malaysia percaya bahwa Wahabisme dan ekstremisme Islam pada umumnya menimbulkan masalah bagi masyarakat di Asia Tenggara. Jelas, ekstremisme yang berkembang ini tidak terjadi dalam ruang hampa dan akar-akarnya juga tidak berasal dari Asia Tenggara. Pakar keamanan semakin yakin bahwa ideologi Wahabi yang diekspor secara agresif oleh Arab Saudi merupakan satu-satunya penyebab ekstremisme terbesar di wilayah ini. Wahabisme adalah interpretasi Islam yang sangat ganas, sempit, dan militan.

Operasi penangkapan tersangka teroris di Indonesia

Namun apa yang membuat aparat keamanan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara sangat khwatir adalah perubahan taktik kelompok teroris Daesh untuk menebar ketakutan di antara rakyat Indonesia serta merusak keamanan. Pemanfaatan anasir pribumi dan penipuan terhadap keluarga serta mendorong mereka untuk melancarkan aksi teror dalam bentuk aksi teror keluarga di pusat-pusat publik dan agama termasuk program kelompok teroris Daesh di Indoneya yang baru-baru ini telah dilancarkan.

Kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) termasuk kelompok lokal di Indonesia di mana polisi negara ini baru-baru ini menangkap pemimpinnya beserta 18 anggotanya. Operasi teror yang dilakukan tiga keluarga di Indonesia telah memicu ketakutan besa di antara keluarga di negara ini. Pemanfaatan ibu beserta anak di serangan teror merupakan peringatan serius bagi dinas keamanan Indonesia bahwa betapa kelompok teroris meraih kesuksesan besar menebar pengaruhnya di tengah masyarakat. Kondisi ini membutuhkan kajian serius dari para pakar politik, sosial, psikologis dan ekonomi.

Operasi teror di Jawa Timur terjadi ketika sebelumnya komite operasi anti terorisme Dewan Keamanan PBB di laporannya memperingatkan pelarian milisi dan teroris Daesh dari Irak dan Suriah ke Asia Tenggara. Berdasarkan laporan ini, teroris berusaha memasuki kawasan ini dengan kedok pengungsi atau pencari suaka. Hal ini tentu saja menimbulkan ancaman serius bagi negara-negara Asia Tenggara dan masyarakat internasional.

Tiga kawasan Libya di utara Afrika, Afghanistan di Asia Barat dan negara Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia dan Indonesia menjadi tujuan dari kelompok teroris Daesh. Dengan merelokasi pasukannya ke wilayah-wilayah ini dan mengorganisirnya kembali, mereka mengumumkan kekhalifahan Khurasannya di Afghanistan dan kekhalifahan Timurnya di Asia Tenggara.

Meski demikian DPR Indonesia sepertinya tidak mengambil serius kehadiran dan pengaruh teroris Daesh dan peringatan presiden negara ini terkait isu terorisme ini, hingga terjadi serangan teror keluarga di Jawa Timur. Aksi teror ini kemudian menyadarkan parlemen Indonesia dan mereka dengan cepat meratifikasi  revisi RUU Anti-terorisme yang telah diperdebatkan di parlemen selama dua tahun.

Revisi RUU ini memungkinkan polisi dan dinas keamanan Indonesia menindak dan melawan teroris dengan wewenang dan kekuatan lebih besar. Mayoritas elit politik dan media Indonesia meyakini bahwa revisi RUU anti terorisme meski penting untuk mengontrol kelompok ini, tapi harus juga disertai dengan langkah-langkah pencegahan seperti meningkatkan tarap kesadaran dan pengetahuan warga terkait urusan agama, pengawasan lebih ketat kurikulum agama di pesantren serta sekolah agama.

Mengingat semakin besarnya pengaruh kelompok radikal yang berafiliasi dengan Wahabi di Indonesia, berbagai tokoh di  negara ini berulang kali memperingatkan dampaknya kepada pemerintah Jakarta. Arif Zamhari, para agama di Indonesia mengatakan, "Masalahnya di sini bahwa para ekstrimis dengan suara lantang menyebarkan ajaran Islam secara keliru, kita juga harus menyebarkan ajaran Islam yang benar dengan suara lantang pula dan mengajarkan ajaran Islam sejati."

Serangan teror ke gereja di Indonesia

Muhammad Amin Majumder, pengamat isu-isu politik meyakini,"Banyak dari masalah dan kendala yang ada di dunia Islam muncul akibat pandangan yang pendek, kepentingan pribadi dan serta mendahulukan kepentingan tersebut dari tujuan dan kemaslahatan dunia Islam. Para pemimpin negara-negara Islam dan ulama di kondisi seperti ini memiliki tanggung jawab yang besar."

Selain itu, media sosial termasuk sarana paling penting kelompok teroris untuk merekrut pemuda dan keluarga. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia di samping menindak para teroris dengan tegas melalui dinas keamanan juga harus memerikan porsi lebih besar bagi pengawasan terhadap isu dan pesan yang beredar di jejaring sosial serta memberikan kesadaran kepada masyarakat akan tujuan dari kelompok oportunis serta musuh rakyat Indonesia.

Sidney Jones, pengamat internasional di Indonesia mengatakan, "Pemerintah dan berbagai media dan organisasi keagamaan di Indonesia mulai condong ke media sosial untuk menolak dan mengusir radikalisme dan kelompok teroris dan dengan metodenya, mereka aktif melawan ideologi audiensnya."

Tapi begitu, Sidney Jones saat mereaksi serangan bom teror di Surabaya malah menilainya sebagai indikasi dari melemahnya kelompok ekstrimis di Indonesia. Ia menyebut ada kecenderungan bila pengaruh kelompok tersebut berkurang, maka ditanggapi dengan aksi yang muncul di depan umum agar terlihat superior.

"Yang terjadi di Surabaya menurut saya bukan sebagai indikasi kekuatan ekstremis tapi justru indikasi melemah. Kalau kita lihat pelaksanaan di daerah lain justru pada saat suatu kelompok mulai menurun pangaruhnya, mereka cari taktik yang spektakuler untuk muncul di depan umum," ujar Sidney, di Hotel Ashley, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Selasa (22/5/2018).

Dalam diskusi 'Menguak Fakta Aktual Radikalisme dan Terorisme di Indonesia' ini, Sidney juga menyebut dua alasan lain yang membuat jaringan terosisme melemah. Pertama yakni menurunnya rekrutmen anggota dan kedua yakni persaingan antar kelompok yang memicu aksi teror di daerah lain pula.Ucapannya ini merujuk pada kelompok yang menyerang Mapolda Riau. Diketahui, kelompok tersebut berbeda dengan kelompok yang melakukan teror di Surabaya.

"Saya kira yang menarik adalah kelompok yang ikut serang Mapolda Riau. Mereka bukan JAD, mereka ikut (beraksi) setelah melihat di Surabaya, karena ada semacam persaingan jika satu kelompok melakukan aksi, kelompok lain ingin aksi lebih besar," jelas Sidney.

Jul 12, 2018 03:15 Asia/Jakarta
Komentar