Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, berulangkali menekankan pentingnya pengokohan infrastruktur ekonomi dan perhatian pada masalah ini sesuai dengan strategi jangka menengah dan panjang.

Untuk menggapai tujuan ini, Rahbar menetapkan slogan-slogan seperti "Islah Pola Konsumsi", "Semangat dan Kerja Ganda", "Tahun Jihad Ekonomi", "Ekonomi dan Budaya dengan Tekad Nasional dan Manajemen Global", di awal tahun kalender Persia. Adapun untuk tahun ini, Rahbar menetapkan slogan "Ekonomi Muqawama; Pelaksanaan dan Implementasi."

 

Konsep-konsep tersebut dalam ilmu ekonomi merupakan pondasi kemajuan ekonomi dan pengokohan infrastruktur serta pembangunan. Itu juga merupakan bagian dari sebuah proses yang akan menjamin perkembangan, menajemen dan gerakan maju ekonomi sebuah negara. 

 

Dengan menguasai strategi perang ekonomi musuh dan tujuan mereka meningkatkan tekanan dan sanksi terhadap Iran, Rahbar berulangkali menekankanbahwa salah satu cara untuk melalui masa sulit, sensitif dan determinan saat ini adalah mewujudkan keamanan ekonomi dan menindaklanjuti ekonomi muqawama (resistensi) secara serius. Keamanan ekonomi dan memiliki wawasan yang benar dalam masalah ini, merupakan dua faktor penting dalam mengokohkan ekonomi menghadapi berbagai tekanan dan shock.

 

Dewasa ini terdapat berbagai macam ancaman di sektor keamanan nasional. Dalam hal ini dapat disinggung beberapa contoh seperti perang lunak; perang ekonomi melalui penghancuran pasar valuta, pelumpuhan pasar bursa, pemanfaatan sarana sanksi untuk menciptakan ketidakamanan ekonomi atau perusakan untuk menjegal proses kemajuan ekonomi yang berbasis sains serta pencegahan akses pada teknologi moderen.

 

Ancaman ekonomi kerap muncul dalam bentuk perang lunak dengan cara semi-terselubung termasuk membuat negara-negara tetap bergantung di sektor ekonomi terkontrol. Mekanisme ini selalu berubah mengikuti berbagai transformasi dan kondisi perekonomian dunia serta tuntutan masyarakat. Sebagai contoh, jika di masa lalu negara-negara akan meningkatkan produksi dalam negerinya secara konvensional untuk menutupi permintaan pasar. Namun seiring peningkatan populasi serta keragaman tuntutan, maka volume kebergantungan mereka pada perekonomian industri juga semakin besar.

 

Kebergantungan tersebut semakin meningkat pasca Perang Dunia II dan khususnya pasca pembagian dunia menjadi dua kutub Barat dan Timur. Pada praktiknya negara-negara dibagi menjadi dua kelompok, kaya dan miskin. Pada pembagian ini, perampasan sumber di negara-negara lemah semakin nyata khususnya pada sumber minyak di Timur Tengah yang bakal menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi negara-negara industri. Hasil dari kemajuan industri tersebut adalah banjir produk-produk  dari negara-negara maju ke pasar negara-negara dunia ketiga dengan perbedaan harga yang kian menimbun kekayaan negara-negara industri. 

 

Terjunnya Barat secara sepihak di pasar konsumen negara-negara target pada hakikatnya merupakan sebuah strategi untuk membuat negara-negara tersebut bergantung di sektor ekonomi. Dengan berlalunya waktu dan semakin kompleksnya tuntutan dan keragaman masyarakat, maka volume, tingkat dan kualitas ancaman tersebut akan semakin meningkat pula. Dalam kondisi seperti itu, keamanan berarti mengantisipasi ancaman yang memiliki lingkup lebih luas meliputi ancaman di sektor militer, ekonomi, pertanian dan pangan.  

 

Secara keseluruhan, struktur ekonomi muqawama berhadapan dengan berbagai tekanan dan bahkan shosk ekonomi serta akses kemajuan ekonomi yang dibarengi dengan pengokohannya. Dua faktor ini merupakan urgensi perlawanan dan ketahanan di hadapan berbagai tekanan ekonomi. Dalam koridor ini, politik ekonomi muqawama terfokus pada sejumlah target termasuk di antaranya pengokohan produk ekonomi yang berbasis teknologi dan dapat bersaing dengan produk serupa dari luar negeri.

 

Mengingat pentingnya masalah ini, salah satu poin yang perlu ditekankan dalam strategi ekonomi muqawama adalah pengandalan ekonomi berbasis sains dan pelaksanaan peta jalan komprehensif ilmiah serta manajemen inovasi nasional untuk mendongkrak posisi negara di tingkat global, menambah volume produksi dan ekspor produk serta layanan berbasis sains, serta menggapai posisi teratas dalam perekonomian berbasis sains di kawasan.

 

Berbagai indeks terkait volume dalam produksi ilmu pengetahuan Iran di dunia menunjukkan bahwa para ilmuwan Republik Islam telah menyabet 1,58 persen produksi ilmu pengetahuan di dunia. Ini mengindikasikan potensi besar SDM Iran dalam memproduksi ilmu pengetahun. Akan tetapi, disadari pula bahwa Iran masih harus menempuh jalan sangat jauh hingga mencapai tahap ekonomi berbasis sains dan inovatif.

 

Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahun dan ekonomi berbasis sains menjadi fokus banyak negara. Infrastruktur perangkat keras ekonomi dengan cepat tergeser oleh inovasi dan terobosan berbagai produk baru serta aset-aset perangkat lunak. Pada hakikatnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan sains serta pengembangannya di berbagai sektor ekonomi akan menciptakan kemampuan dan kekuatan.

 

Oleh karena itu, negara-negara yang memiliki porsi produksi ilmu pengetahuan di dunia memiliki kemampuan ekonomi dan politik ayng lebih besar di tingkat global. Dengan kata lain, di dunia dewasa ini, investasi dalam riset dan produksi ilmu pengetahuan memiliki hubungan langsung yang sangat erat dengan kemampuan ekonomi dan politik negara. Oleh karena itu, kemajuan ekonomi dunia saat ini bergantung pada pengembangan pusat-pusat produksi ilmu pengetahun, teknologi dan keterampilan teknis.

 

Dewasa ini teknologi merupakan salah satu asas utama kemajuan dan perkembangan ekonomi negara-negara. Sementara keamanan dan kemampuan ekonomi menjadi indeks kemajuan ekonomi negara. Hasil riset komprehensif dari banyak masyarakat menunjukkan bahwa kemajuan seimbang dan berkesinambungan ekonomi dan sosial, berpijak pada perkembangan ilmiah dan tekonologi. Oleh karena itu dapat dikatakan, dalam sistem ekonomi berbasis sains, perhatian pada sains lebih tinggi dibanding masa lalu dari sisi kuantitas dan kualitas.

 

Banyak ekonom yang berpendapat bahwa dewasa ini volume investasi dan ukuran dimensi pasar tidak sedemikian berpengaruh dalam kemajuan ekonomi negara-negara, melainkan peran determinan itu dipegang oleh ilmu pengetahuan dan sains. Poin yang harus selalu diperhatikan bahwa untuk menggapai ekonomi berbasis sains, tidak cukup hanya dengan produksi dan distribusi informasi atau pembelajaran dan riset saja, melainkan implementasi dan pemanfaatannya pada sumber-sumber ekonomi secara berkesinambungan.

 

Selain kemajuan ekonomi berbasis sains dalam ekonomi muqawama, salah satu tuntutan dalam stabilitas dan keamanan ekonomi adalah keragaman dalam hubungan ekonomi dan perluasan hubungan yang seimbang di berbagai sektor serta pengokohan interaksi ekonomi regional.

 

Konvergensi ekonomi akan mampu menciptakan pasar kolektif, menghapus hambatan kerjasama ekonomi, mengakses zona baru untuk investasi dan produksi bersama. Oleh karena itu, kerjasama dan konvergensi di bidang ekonomi sangat penting bagi kepentingan jangka panjang dan juga untuk menciptakan keamanan ekonomi.

 

Salah satu pengalaman konvergensi ekonomi pernah terjadi di Eropa Barat. Proses konvergensi di Eropa dimulai dengan perkapalan di sungai Danube pada tahun 1856 yang berlanjut hingga Perang Dunia II. Selama Perang Dunia II, proses tersebut bergerak semakin cepat dan pada 1947, menyusul implementasi program Marshall, terbentuklah lembaga kerjasama ekonomi Eropa. 

 

Institut untuk Studi Keamanan Nasional (INSS), dalam laporannya terkait ekonomi muqawama Iran, menyebutkan bahwa berlanjutnya politik ekonomi muqawama pasca pencabutan sanksi, merupakan strategi ekonomi yang bukan hanya mampu menetralisir sanksi bahkan mampu mereduksi berbagai besarnya dampak akibat berbagai masalah dan kondisi sulit yang dihadapi masarakat.

 

Sementara itu, American Enterprise dalam bertajuk "Ekonomi Muqawama Iran; Pesan untuk Sanksi-Sanksi Mendatang" berpendapat bahwa pelaksanaan poiltik ekonomi muqawama membuat Iran dalam perundingan terkait Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), hadir dengan penuh kepastian, karena bila seandainya perundingan gagal, maka Iran tetap memiliki opsi lain yaitu ekonomi muqawama.

 

Secara keseluruhan harus dikatakan bahwa ekonomi muqawama adalah strategi untuk memajukan tujuan dan kepentingan nasional dalam kerangka memperkokoh ekonomi namun tetap berkembang dan dinamis, yang akan menjamin keamanan di berbagai sektor.

Jan 05, 2017 13:18 Asia/Jakarta
Komentar