Masalah terorisme, tidak diragukan adalah salah satu perhatian utama dunia sekarang. Hal ini terutama disebabkan oleh penyalahgunaan isu perang melawan terorisme, yang saat ini tengah berubah menjadi sebuah masalah besar dunia.

Sungguh disesalkan, kebanyakan peristiwa menyedihkan yang setiap hari terjadi di seluruh penjuru dunia, dengan dalih perang melawan terorisme, adalah buah dari standar ganda dan ditutupinya motif politik di bawah kedok upaya memerangi terorisme.

Sehubungan dengan hal tersebut, muncul dua pertanyaan mendasar. Pertama, apakah tantangan terbesar perang melawan terorisme adalah tidak adanya komitmen internasional yang menyebabkan meluasnya terorisme, atau ada tantangan lain yang menghambat terlaksananya konvensi-konvensi internasional.

Jawabannya dapat ditemukan dalam pembahasan tentang konvensi-konvensi internasional perang melawan terorisme dan peran Iran di dalamnya. Dewasa ini, di era globalisasi, dunia dihadapkan dengan maraknya aksi-aksi teror yang sulit dikendalikan dan mengancam kehidupan umat manusia.

Realitasnya sekarang, sejumlah kelompok melanggar dan membatasi hak-hak asasi manusia, membahayakan hubungan persahabatan di antara negara dan mengancam integritas teritorial serta keamanannya. Hari ini, para teroris telah berubah menjadi agen internasional.

Tidak ada satu wilayah, pemerintahan, bangsa atau individu yang terlindungi dari aksi-aksi teroris. Padahal definisi terorisme sendiri sampai sekarang masih diperdebatkan dan belum mencapai kata sepakat. Mungkin kondisi inilah yang menjadi penghambat perang serius melawan terorisme dan ekstremisme di dunia saat ini.

Terorisme dan ekstremisme sekarang sudah menjadi masalah bagi seluruh umat manusia dan mengancam peradaban, kemajuan serta ketenteraman. Di era globalisasi dan teknologi maju ini, aksi-aksi teror sudah tidak terbatas di dalam wilayah-wilayah nasional atau regional tertentu.

Semakin luasnya jalur penerbangan, revolusi komunikasi, globalisasi ekonomi swasta dan dunia tanpa batas, menjadi fenomena-fenomena yang sangat rentan disalahgunakan oleh para teroris.

Dengan menarik bantuan dari sekutu-sekutu lintas teritorialnya atau dengan menjalin hubungan dan menciptakan jaringan aliran dana, para teroris bisa melakukan aksi-aksinya hampir di setiap tempat yang mereka inginkan.

Para teroris bisa mengorganisir aksi-aksi teror di manapun. Mereka mengalami kemajuan seiring dengan terjadinya globalisasi, namun tidak pernah terikat dengan aturan atau syarat-syarat internasional.

Berdasarkan data resmi sejumlah lembaga internasional, kelompok teroris Daesh pada tahun 2016 melancarkan 1.141 aksi bom bunuh diri, artinya setiap bulan dilakukan 95 kali aksi bunuh diri, di seluruh penjuru dunia. Sejumlah laporan menyebutkan, 30.000 anasir teroris asing dari 100 negara dunia berperang di Suriah dan Irak.

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa hari ini ekstremisme dan kekerasan tidak lagi mengenal batas teritorial atau hanya terjadi di dalam wilayah satu negara tertentu saja. Sekarang, terorisme dan ekstremisme sudah menjadi isu global.

Oleh karena itu, untuk memeranginya diperlukan tekad dan kehendak nasional bahkan internasional. Ini adalah perang yang harus mengesampingkan perbedaan ras, suku, mazhab, agama atau tanpa memandang siapa yang terjun di dalamnya.

Di satu sisi, kinerja Barat dalam perang melawan terorisme, meski dirinya sendiri berada di bawah ancaman terorisme, terjebak dalam sebuah kontradiksi akut. Kata dan perbuatan sebagian besar negara-negara Barat menyiratkan standar ganda yang mengandung banyak kerancuan.

Kondisi ini adalah indikasi bahwa perang melawan terorisme sudah dijadikan alat oleh Barat. Akan tetapi pihak-pihak yang mengklaim memerangi terorisme, menyembunyikan wajah aslinya dan menuduh pihak lain mendukung terorisme, sehingga bisa menampilkan diri sebagai pelopor perang melawan terorisme. Hal ini bertentangan dengan harapan masyarakat internasional dan tuntutan nyata dunia.

Sebagai contoh, langkah-langkah Barat di kawasan Timur Tengah. Beberapa negara kawasan yang mendukung intervensi agresor asing, dalam tiga dekade lalu menjadikan Asia Barat sebagai pusat ketegangan.

Intervensi ini memicu instabilitas di kawasan dan menyuburkan gerakan-gerakan teroris. Padahal dalam perang melawan terorisme, seluruh negara harus bekerjasama dan terlibat aktif.

Terkait hal ini, Republik Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir sudah memulai perang melawan terorisme. Laporan Institut untuk Ekonomi dan Perdamaian, IEP, tentang indeks terorisme global tahun 2016 menunjukkan, Iran berada di urutan ke-47 negara terkena dampak terorisme, sementara tahun sebelumnya berada di posisi 39. Hal itu membuktikan adanya kemajuan dan keseriusan Iran dalam menjaga keamanan dan memerangi terorisme.

Harapan masyarakat dunia sekarang lebih banyak disandarkan pada PBB karena lembaga itu dinilai dapat menggunakan seluruh kapasitas dan mekanisme internasional yang dimilikinya untuk memberantas terorisme.

Badan PBB pertama yang bertugas memerangi terorisme adalah Dewan Keamanan. Sampai saat ini, DK PBB tercatat telah merilis sejumlah resolusi untuk memerangi terorisme.

Di antaranya, resolusi 1267, 1373, 2178 dan 2179. Dari seluruh resolusi itu, resolusi nomor 1373 adalah yang paling penting. Dalam resolusi ini, dijelaskan solusi untuk memerangi terorisme. Solusi itu ditempuh melalui tiga langkah, menyita aset dan harta teroris, mencegah pasokan senjata bagi teroris dan mencegah keluar-masuknya teroris.

Ketiga poin ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan kedua dengan memperhatikan isi konvensi-konvensi internasional dan kerja keras masyarakat dunia dalam memerangi terorisme.

Aug 09, 2017 09:59 Asia/Jakarta
Komentar