12 Agustus (21 Mordad) hari titik balik di sejarah kerja sama lingkungan hidup Laut Kaspia. Di tahun 2003 (1382 HS) lima negara pesisir Laut Kaspia menandatangani konvensi regional untuk melindungi lingkungan hidup di laut Kaspia yang dikenal dengan Konvensi Tehran.

Konvensi ini secara resmi diberlakukan pada 12 Agustus 2006 (21 Mordad 1385 HS) dan semua negara pesisir kawasan ini merayakan perjanjian ini sebagai sebuah kesepakatan penting lingkungan serta kemudian mereka menamakan hari ini sebagai Hari Laut Kaspia.

Laut Khazar atau Laut Kaspia merupakan danau terbesar di dunia yang memiliki ciri-ciri laut seperti air asin. Laut Kaspia juga disebut Laut Perdalaman, yaitu laut yang letak atau posisinya di tengah-tengah benua atau dikelilingi daratan. Laut ini terletak di sebelah selatan berbatasan dengan Republik Islam Iran, di utara berbatasan dengan Rusia, di barat berbatasan dengan Rusia serta Republik Azerbaijan dan di timur berbatasan dengan Turkmenistan serta Kazakhstan.

Laut Kaspia terkadang disebut sebagai danau terbesar di dunia dan juga laut berdikari terkecil di dunia. Luas laut Kaspia sekitar 43800 kilometer persegi dan permukaannya lebih rendah dari laut bebas. Sekitar 130 danau mengalir ke laut Kaspia. Di antaranya adalah danau Volga, Sefīd-Rūd, dan Haraz.

Karakteristik unggul ekonomi Kaspia adalah minyak dan gas. Minyak Kaspia ditemukan tahun 1923 di Baku. Cadangan minyak yang tercatat dan telah dibuktikan di Laut Kaspia sekitar 32 miliar barel atau empat persen dari total cadangan minyak di Timur Tengah. Sementara prediksi cadangan minyak di Laut Kaspia sekitar 163 miliar barel.

Karakteristik lain Laut Kaspia adalah sifat tertutupnya dan ekosistemnya yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Laut ini memiliki 575 jenis tumbuhan dan 1332 jenis hewas serta 850 jenis ikan. Kawasan laut Kaspia menjadi lingkungan tepat bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan paling digemari di dunia, khususnya ikan Kaviar. Di laut Kaspia juga hidup salah satu mamalia air langka di dunia Pusa caspica.

Karakteristik tertutup yang dimiliki Laut Kaspia juga memiliki sisi negatif, yakni kawasan ini sangat rentan dengan polusi pertanian dan industri serta minyak. Dewasa ini, polusi merupakan kendala serius dan berbahaya bagi Laut Kaspia. Polusi terbesar ditimbulkan oleh manusia, industri dan racun pertanian serta minyak. Polusi ini mengancam 5580 km pantai Laut Kaspia serta danau yang berhubungan dengan laut ini.

Selain itu, kapal dagang juga menyumbangkan polusi besar bagi Laut Kaspia dan bahkan membawa polusi ke wilayah lain di perairan ini. Masuknya polusi sebesar 122.350 ton setiap tahun dari negara-negara pesisir Laut Kaspia, khususnya polusi akibat aktivitas eksplorasi dan pengeboran minyak telah mencemari lingkungan laut ini serta beragam spesies di kawasan ini menghadapi ancaman serius.

Setiap tahun ribuan ton minyak tumpah di laut Kaspia. Ini adalah ancaman serius bagi lingkungan hidup di sepanjang pantai Kaspia. Dampak terpenting dari pencemaran air yang ditimbulkan minyak adalah polusi yang mengurangi akuakultur atau budidaya perikanan serta matinya ikan. Minyak akan lengket di kulit ikan dan sebagiannya mengendap serta mengakibatkan pencemaran air laut.

Sejumlah minyak juga berubah menjadi lapisan tipis di permukaan laut dan menghalangi sinar matahari. Riset menunjukkan bahwa Republik Azerbeijan dengan produksi sekitar satu juta minyak perhari memiliki saham terbesar di polusi minyak air laut Kaspia. Ladang minyak Azeri (Azeri–Chirag–Gunashli ACG), Absheron, Nakhchivan, Mugan, Shah Deniz, dan kilang minyak serta pabrik petrokimia Baku menjadi sumber polusi laut Kaspia.

Tak hanya itu, laut Kaspia juga menjadi tempat pembuangan limbah air kota Baku, ibukota Republik Azerbaijan. Limbah warga kota Baku dan tumpahan minyak merupakan polusi paling stabil dan paling sulit diurai yang terbentuk di pantai kawasan ini.

Sementara itu, meski tidak ada catatan mengenai besarnya saham Rusia di polusi laut Kaspia, namun begitu peran Moskow di pencemaran laut ini tidak dapat diabaikan. Hal ini karena selain emisi biasa seperti negara-negara kawasan pantai, kanal pelayaran Volga yang memiliki panjang 101 km dan menyambungkan laut utara dengan Laut Kaspia telah membawa polusi perairan bebas ke kawasan ini serta mengancam beragam spesies di Laut Kaspia.

Proses ini juga membuat spesies di Laut Kaspia terancam musnah. Di sisi lain, tumpahan jutaan ton liter air dari kapal-kapal dagang dan transportasi dengan sendirinya membuat organisme berbahaya dari laut bebas memasuki Laut Kaspia. Salah satunya adalah Mnemiopsis leidyi, jeli sisir jeli atau kenari laut,  adalah spesies ctenophore tentakulata (sisir jelly), aslinya berasal dari perairan pantai Atlantik barat. Tiga spesies telah disebutkan dalam genus Mnemiopsis, namun sekarang mereka diyakini merupakan bentuk ekologi spesies tunggal yang berbeda M. leidyi oleh sebagian besar ahli zoologi.

Predator bersayap dan mirip ubur-ubur ini mengancam ekosistem laut Kaspia setelah sebelumnya dengan ganas memakan plankton dan sumber makanan ikan di laut Hitam. Uniknya predator ini cukup kuat di saat kelangkaan sumber makanan dan minimnya oksigen. Predator ini juga mampu bertahan di suhu panas antara 1,3 hingga 32 derajat celcius dan memiliki reproduksi yang cepat. Populasi cepat predator ini di laut Kaspia menghabiskan cadangan makanan ikan Common Kilka. Musnahnya ikan Common Kilka secara bertahap mengancam keberlangsungan ikan yang lebih besar di laut Kaspai seperti Kaviar.

Kekhawatiran lima negara pantai Kaspia atas kerusakan lingkungan di perairan ini mendorong mereka untuk melakukan perlindungan dan menghidupkan sumber alam ini bagi generasi sekarang dan masa depan. Dalam hal ini, sejak tahun 1998, gencar dilakukan upaya dan langkah bersama untuk melindungi dan menyelamatkan lingkungan laut Kaspia serta tahun 2003 konvensi regional melindungi lingkungan Laut Kaspia atau dikenal dengan Konvensi Tehran ditandatangani.

Konvensi ini akhirnya resmi diberlakukan mulai tahun 2006 dan lima negara pesisir laut Kaspia harus melaksanakannya. Selama beberapa tahun lalu bagian dari Konvensi Tehran menyusun empat protokol dengan menggandeng Program Lingkungan PBB (UNEP). Protokol tersebut dikaji dan direvisi oleh para pakar dalam beberapa pertemuan.

Protokol kesiapan, reaksi dan kerja sama regional dalam menanggulangi bencana polusi minyak termasuk protokol yang mengharuskan negara kawasan pesisir laut Kaspia melakukan persiapan tepat untuk menanggulangi bencana tumpahan minyak serta menciptakan sistem nasional untuk melawan pencemaran minyak. Sementara protokol melindungi laut Kaspia dari pencemaran akibat aktivitas daratan, protokol melindungi keragaman spesies Laut Kaspia, dan protokol analisa dampak lingkungan lintas teritorial juga termasuk protokol yang diratifikasi seluruh negara pesisir kawasan ini.

Mengingat pemerintah bukan satu-satunya pemain yang aktif dalam mengontrol pesisir, pengelolaan lingkungan di pantai Kaspia membutuhkan berbagai sektor. Dalam hal ini, harus diciptakan peluang bagi keterlibatan sektor swasta di tingkat nasional dan regional. Manajemen terpadu zona pesisir sebagai strategi baru yang diwacanakan, dapat membantu mereduksi krisis lingkungan di laut Kaspia. Strategi ini bertumpu pada prinsip pembangunan berkelanjutan yang akan menciptakan keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan pelestarian lingkungan hidup di zona pesisir.

Bagaimana pun juga ancaman lingkungan yang semakin intens terhadap laut Kaspia dengan sendirinya mendorong setiap perundingan antara negara pesisir Kaspia memperhatikan kekhawatiran atas kondisi lingkungan di daerah ini. Mencapai kesepakatan penuh di antara negara pesisir Kaspia dalam pemanfaatan sumber bersama dan melawan setiap ancaman akibat krisis lingkungan juga sangat diperlukan.

Aug 12, 2017 12:52 Asia/Jakarta
Komentar