Untuk masuk ke dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, dibutuhkan pembangunan infrastruktur, interaksi dan dukungan atas output iptek yang berlandaskan nilai-nilai moral dan kemanusiaan, sehingga dampak positifnya bisa dirasakan di setiap sendi kehidupan. Dengan penekanan atas urgensitas peran iptek dalam pembangunan, KTT OKI (Organisasi Kerjasama Islam) pertama di bidang iptek, digelar pada Ahad (10/9/2017) di kota Astana, Kazakhstan.

"Dunia Islam adalah bagian penting dari sistem global. Oleh karena itu kemampuan, kemajuan dan stabilitas Dunia Islam, mempengaruhi kemampuan, kemajuan dan stabilitas dunia. Jelas, bahwa ketika Dunia Islam lemah, terbelakang dan terpecah-pecah, maka perdamaian permanen, pembangunan di segala bidang dan solidaritas yang efektif di dunia, tidak mungkin tercapai. Karenanya, kerja sama setiap anggota Dunia Islam untuk menjadi bagian dari negara-negara maju, pada kenyataannya adalah upaya bersama untuk membangun dunia yang terbebas dari kebodohan, kemiskinan, perang dan kekerasan."  

Realitas di atas disampaikan Presiden Iran dalam pertemuan OKI di Astana. Ia berharap, hasil-hasil KTT OKI kali ini yang mengusung tema "Iptek dan Modernisasi Dunia Islam", di samping upaya-upaya bernilai lainnya, dapat meningkatkan kerja sama konstruktif di antara negara-negara Muslim, di berbagai bidang.

Kerja sama di bidang iptek merupakan hal penting, setidaknya dilihat dari dua sisi. Pertama, karena kerja sama ini memberikan pengaruh pada percepatan pembangunan di berbagai bidang ekonomi. Kedua, kemajuan ini memberikan dampak positif pada terbukanya atmosfir harapan, pembangunan dan lapangan kerja di tengah masyarakat.

Mengingat pentingnya kedua masalah tersebut, maka pertemuan petinggi negara-negara Islam di Astana dapat membuka peluang terciptanya rekonstruksi mendasar dalam hubungan negara-negara Islam. Akan tetapi lompatan ini juga membutuhkan dukungan struktur sosial dan budaya.

Sebagaimana disampaikan Presiden Iran, kemarin Dunia Islam pernah mengalami masa keemasan di bidang budaya dan peradaban, apakah tidak mungkin hari ini bergerak ke arah inovasi, kreativitas dan pertumbuhan, dan dengan rasionalitas serta akhlak, mewujudkan dunia yang bersih dari kekerasan dan ekstremisme? Iran adalah negara dengan pengalaman masa lalu yang gemilang. Negara ini pernah memegang panji ilmu pengetahuan dan kebudayaan dalam sejarah umat manusia, di era peradaban pra-Islam dan pasca Islam.

Bangsa Iran, dengan bersandar pada semangat menyuburkan ilmu pengetahuan, pemikiran dan peradaban Islam, pernah mencapai masa keemasan. Iran sempat mengalami kemajuan yang cukup pesat di berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti kedokteran, farmasi, astronomi, matematika, fisika, kimia, geografi, filsafat, teologi, irfan, sastra dan kesenian. Bahkan Eropa dianggap berhutang jasa kepada Iran di beberapa bidang ilmu pada adab pertengahan hingga abad ke-16.

Namun kenyataan pahit yang harus diterima adalah, masa keemasan dan kemajuan itu tidak berlangsung lama dan langkah maju Dunia Islam dalam beberapa abad terakhir, terhenti. Realitasnya, Dunia Islam sekarang tertinggal jauh di bidang iptek dari Barat.

Apa yang menyebabkan kemajuan peradaban baru Islam bergerak lambat dan kadang terhenti, adalah penjajahan politik dan budaya para penguasa Barat. Mereka menjadikan Dunia Islam sebagai sasaran serangan militer dan menyebabkan kemunduran sehingga mengalami keterbelakangan sejarah. Tapi tidak diragukan bahwa lemahnya pemerintahan di satu sisi dan hilangnya kepercayaan diri kelompok terdidik Islam di sisi lain, mempercepat proses itu.

Dewasa ini, Dunia Islam kembali dihadapkan kepada dua pilihan bersejarah. Presiden Iran di KTT OKI Astana mengatakan, daripada panik atas perkembangan pesat iptek dan berusaha lari darinya, kita justru harus meningkatkan kepercayaan diri Muslimin. Salah satu prasyarat terpenting perkembangan iptek baru bagi kita adalah menjamin stabilitas kondisi politik, sosial, budaya dan ekonomi sehingga seluruh ilmu pengetahuan dan teknologi bisa diserap dan dicerna.

Dapat dipastikan, iklim kerja sama di berbagai bidang iptek adalah satu-satunya jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan ini. Iran dalam beberapa tahun terakhir, mengalami sejumlah kemajuan penting di bidang iptek dan inovasi. Dalam lima tahun ke belakang, peringkat Iran dalam produksi makalah-makalah ilmiah di dunia meningkat dari 34 menjadi 16. Lulusan 1.100 universitas di Iran bertambah dari 2,4 juta orang menjadi 4,8 juta, dan Iran termasuk di antara lima negara dengan mahasiswa teknik terbanyak.

Sumbangan Iran dalam pembangunan teknologi baru seperti bioteknologi, nanoteknologi, ilmu kognitif, energi terbarukan, ilmu antariksa, mikroelektronika dan sel punca, cukup signifikan. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan perusahaan-perusahaan berbasis ilmu pengetahuan di bidang teknologi baru, maka ekspor produk-produk berteknologi menengah dan tinggi di Iran, juga mengalami kemajuan luar biasa.

Kebijakan Iran adalah mengubah ekonomi berbasis sumber alam menjadi ekonomi berbasis produktivitas dan inovasi, meski negara ini memiliki sumber minyak dan gas yang melimpah. Salah satunya dengan mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Teknologi nuklir di Iran sudah berubah menjadi teknologi dalam negeri. Meski negara ini terus dihimpit sanksi, namun impelementasi kesepakatan nuklir, JCPOA, membuat aktivitas nuklir Iran berlanjut dalam kerangka kesepakatan dengan Badan Energi Atom Internasional, IAEA di berbagai bidang teknologi dan riset.

Iran, untuk mewujudkan tujuannya dan mengejar pertumbuhan di bidang kuantum, sudah mendirikan pusat penelitian foton dan teknologi kuantum di badan energi atomnya. Para ilmuwan dan peneliti dari berbagai bidang, bisa melakukan aktivitas risetnya di pusat ini.

Presiden Iran dalam KTT OKI yang menekankan kerja sama iptek negara-negara Islam di Astana menuturkan, kami datang dan mengatakan bahwa kami bisa, dan atas nama iptek serta bersandar pada diplomasi ilmu pengetahuan, kita harus membuka lebar peluang bersama demi meningkatkan kemampuan dan menciptakan kapasitas-kapasitas penyempurna di Dunia Islam.

Walaupun sekarang persaingan di tingkat regional dan internasional di bidang ini sudah memasuki fase baru dan teknologi terbarukan mengalami pertumbuhan yang mencengangkan, namun Dunia Islam masih memiliki banyak peluang berharga yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Namun langkah ini bersyarat.

Pertemuan Astana memiliki kapasitas yang bisa menjadi titik balik dalam sejarah kerja sama ilmu pengetahuan Dunia Islam. Dengan syarat, pemerintah negara-negara Islam dan kalangan terdidiknya, terbebas dari upaya perpecahan musuh dan kekuatan-kekuatan haus perang yang kepentingannya hanya bisa terjamin dengan menciptakan perpecahan dan menjaga Dunia Islam tetap terbelakang.

Bidang-bidang baru untuk menjalin kerja sama iptek dan memodernisasi negara-negara Islam, harus dibuka, sehingga iklim bersama di bidang politik, ekonomi dan budaya Dunia Islam bisa dikembangkan.

Pengalaman membuktikan, salah satu alasan lemahnya kinerja iptek di negara-negara Islam adalah, tidak adanya program kerja dan strategi yang ditetapkan dalam peta menyeluruh ilmu pengetahuan.

Penyusunan strategi iptek di Dunia Islam membutuhkan tiga langkah asasi,

Pertama, penyelesaian tantangan dan masalah-masalah penting pembangunan ekonomi dan sosial di negara-negara Islam harus menjadi pusat perhatian.

Kedua, masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi iptek harus diperjelas, untuk membantu mewujudkan target dan strategi nasional setiap negara Islam.

Ketiga, strategi yang digunakan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi iptek di Dunia Islam, harus segera disusun.

Diharapkan ketiga langkah tersebut dapat membantu menjaga kelangsungan pembangunan Dunia Islam dalam meningkatkan kemampuan keilmuannya. Sehingga dalam hal ini, negara-negara anggota kelompok D-8 (delapan negara Islam yang sedang berkembang) termasuk Iran, dapat mencapai kemajuan yang diharapkan di bidang iptek.

Sep 12, 2017 18:43 Asia/Jakarta
Komentar