Arab Saudi hingga tahun 2030 akan melakukan perubahan mendasar dan para pemimpin saat ini selain memodernisasi Saudi juga menetapkan permusuhan dan persaingan dengan Republik Islam Iran sebagai agenda utama kinerja mereka.

Pemerintah Riyadh selama puluhan dekade menerapkan kebijakan konservatif dan untuk melakukan perubahan mendasar, mereka cenderung memilih kudeta dan serangan rahasia atau terang-terangan terhadap negara lain, kini ingin melakukan perubahan terencana dan mendasar bagi negara ini.

Mohammad bin Salman, putra mahkota Arab Saudi yang semakin dekat dengan singgasana kerajaan dan juga putra raja saat ini, Salman bin Abdulaziz memulai perubahan ini dengan persahabatan dengan Donald Trump, presiden AS dan pertemuan rutin dengan para pemimpin Eropa. Upayanya tersebut kemudian dilanjutkan dengan menciptakan friksi di antara para pemimpin Liga Arab dengan dalih persabahatan dan kedekatan dengan Iran serta menolak tunduk pada kebijakan Arab Saudi.

Mohammad bin Salman dan Benjamin Netanyahu

Kebijakan baru Arab Saudi tidak berhenti sampai di sini. Invasi dan agresi tanpa alasan ke Yaman, pemutusan mendadak hubungan dan blokade total terhadap Qatar, menjalin hubungan diplomatik dengan pemerintah Irak dan upaya menjalin hubungan dengan elit politik Syiah Irak setelah 20 tahun, di permukaan seluruhnya menunjukkan citra lain kebijakan luar negeri Arab Saudi yang berbeda dengan sebelumnya. Padahal di dalamnya, kebijakan ini hanya dimaksudkan untuk melawan pengaruh Republik Islam Iran di kawasan.

Kini dan di kondisi ketika mayoritas pangeran oposisi Saudi serta bagian dari konglomerat dunia juga berada di penjara Bin Salman mencicipi berbagai penyiksaan dan aset mereka disita. Hal ini membuat kondisi internal Arab Saudi sangat rentan dan panas. Di sisi lain, masyarakat internasional sampai saat ini masih bungkam menyaksikan kejahatan Saudi. Tapi, baru-baru ini PBB dan Dewan HAM terkait isu Yaman, menekan keras Arab Saudi.

Arab Saudi juga gagal meraih ambisinya di Yaman dengan membantai warga sipil dan merusak infrastruktur negara Arab miskin ini. Tak hanya itu, Saudi juga gagal memaksa Qatar bertekuk lutut meski telah memberi tekanan keras kepada Doha. Ketidakmampuan politik Al Saud semakin terkuak di mata dunia dengan sikapnya memanggil Saad Hariri, Perdana Menteri Lebanon dan memaksanya mengundurkan diri di Riyadh.

Peristiwa penting lain adalah pengakuan Yuval Steinitz, Menteri Energi Rezim Zionis Israel yang mengatakan, Israel dan Arab Saudi memiliki kekhawatiran kolektif terkait Iran dan juga memiliki kontak rahasia di antara mereka. Kami memiliki hubungan dengan mayoritas negara Islam dan Arab. Hubungan ini bersifat rahasia dan biasanya kami bukan pihak yang merasa malu. Justru pihak lain yang ingin hubungan tersebut tetap bersifat rahasia...

Ia menambahkan, "...kami biasanya tidak memiliki masalah, namun ketika menjalin hubungan, baik itu dengan Arab Saudi atau negara Arab serta Islam lainnya mulai mengalami kemajuan, maka kami menghormati keinginan pihak seberang dan tetap merahasiakan hubungan ini. Untuk mencegah terbentuknya pangkalan militer Iran di perbatan utara, kami mulai menerapkan represi dan dunia Arab dalam hal ini membantu kami. Ketika kami berusaaha merevisi kesepakatan nuklir dengan Iran, sejumlah negara Arab moderat juga membantu kami.

Ilustrasi Zionis Israel dan Arab Saudi

Terkait hal ini, Reuters menulis, "Ini pengakuan pertama terkait kontak seperti ini oleh seorang petinggi Israel." Ini poin sangat penting, bahkan ditekankan pula oleh Moshe Yaalon, mantan Menteri Peperangan Israel. Ia mengatakan, ini bukan kebetulan di mana kami mendengar segala sesuatu dari mulut Adel al-Jubair dengan bahasa Arab, kami juga mengatakannya dengan bahasa Ibrani.

Pertanyaannya di sini adalah, keuntungan apa yang bakal diraih Israel ketika menjalin hubungan dengan Arab Saudi? Menurut keterangan petinggi Zionis, hubungan dengan negara-negara Arab moderat termasuk Arab Saudi dapat membantu Tel Aviv menghentikan Iran. Mereka juga meyakini bahwa dewasa ini, ketika kekuatan global ditekan untuk menolak pembentukan pangkalan militer Iran di Suriah, negara-negara Arab akan membantu Israel dalam hal ini. Dan hal ini juga bukan sesuatu yang tidak masuk akal, karena koalisi tersebut selain mencakup Arab Saudi juga melibatkan sekutunya di kawasan yakni Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA). Kedua negara ini memainkan peran aktif dan sejumlah negara Arab lainnya juga memberi bantuan.

Menurut Kepala Staf Gabungan Militer Israel, Gadi Eizenkot saat diwawancarai sebuah koran online Arab (Elaph), Israel siap memberi data intelijennya kepada Arab Saudi. Ia menekankan bahwa Tel Aviv dan Riyadh memiliki kepentingan bersama dalam melawan Iran.

Televisi al-Mayadeen di laporannya mengutip media Israel menyatakan, "Mohammad bin Salman, putra mahkota Arab Saudi meyakini bahwa untuk melawan penyebaran pengaruh Iran, tidak ada jalan kecuali memajukan negosiasi dengan Israel. Perwira tinggi Sepah Pasdaran Iran dan generasi baru komandan Hizbullah Lebanon merupakan ancaman paling berbahaya bagi militer Israel."

Mengkaji transformasi di Asia Barat, khususnya negara-negara Arab dan hubungannya dengan Amerika serta Israel menunjukkan bahwa mereka menarget poros muqawama di kawasan. Dengan demikian anasir paling berpengaruh poros ini, yakni Republik Islam Iran dan Hizbullah Lebanon mendapat serangan paling gencar.

Bendera Hizbullah

Namun begitu, kemenangant erbaru poros muqawama di kawasan dan terusirnya kelompok teroris Daesh (ISIS) dari Irak dan Suriah yang terjadi berkat persatuan dan upaya langsung kekuatan muqawama mendorong poros Ibrani-Barat dan Arab semakin lemah. Bahkan anggota poros ini yang sebelumnya lebih dari 50 negara dan organisasi kini hanya tinggal AS, Israel dan Arab Saudi.

Poin penting yang patut diperhatikan adalah dua dari pilar utama koalisi AS, Israel dan Arab Saudi, yakni Trump dan Mohammad bin Salman kinerjanya diprotes keras di dalam negeri. Bahkan sesama partai Trump sendiri melontarkan kritik pedas terhadap presiden Amerika ini. Sejatinya kini musuh utama poros muqawama adalah rezim Zionis Israel yang berhasil memanfaatkan AS dan Arab Saudi sebagai tamengnya di kawasan dan memajukan ambisinya merampok lebih besar wilayah Palestina di bawah konfrontasi regional.

Sepertinya menurut analisa para pakar politik, jika Arab Saudi tetap menempuh jalur normalisasi dan koalisi dengan Israel maka negara yang menamakan dirinya poros dunia Islam ini akan kehilangan segalanya. Bahkan kebungkaman para pemimpin Arab, tidak akan mampu menyelamatkan harga diri Arab Saudi. Di sisi lain, Riyadh juga gagal di permaian ini dan mulai mengalami perpecahan. Dengan demikian hanya Israel yang akan keluar sebagai pemenang di permaian Saudi dan mampu menciptakan zona aman bagi dirinya sehingga mampu melanjutkan kebijakan penjajahannya.

Laman koran al-Ahed Lebanon menulis, "Menteri Peperangan Israel, Avigdor Lieberman meminta para pemimpin Arab untuk mengunjungi bumi Palestina pendudukan seperti Mohammad Anwar Sadat, mantan Presiden Mesir yang melawat Israel pasca ditandatanganinya kesepakan Camp David empat dekade lalu."

Lieberman menekankan Israel semakin dekat dengan penyelesaian sengketa regional dengan negara-negara Arab dan Timur Tengah semakin membutuhkan koalisi dari negara-negara moderat untuk menentang Republik Islam Iran.

Kondisi Arab Saudi tidak seperti yang dibayangkan saat ini. Negara ini mengalami kondisi yang semakin kritis. Kedekatan Israel dengan Arab Saudi bahkan dengan dalih melawan Iran tidak akan mampu menyembunyikan kondisi yang ada, baik itu mereka ingin mengungkapkannya atau tetap menutup rapat.

Dec 05, 2017 11:14 Asia/Jakarta
Komentar