Tanggal 16 Azar dalam kalender Iran adalah hari nasional untuk mengenang serangan brutal rezim Shah ke Universitas Tehran dan penumpasan para demonstran mahasiswa oleh rezim diktator Pahlevi pada tahun 1332 HS atau tahun 1953.

Protes para mahasiswa di Iran pada masa perjuangan revolusi melawan rezim Shah, memiliki berbagai tujuan bernilai dan merupakan motor gerakan revolusioner di Iran dalam melawan politik konfrontatif Amerika Serikat. Meski pengaruh gerakan tersebut, dengan mempertimbangkan kondisi saat ini yang terjadi dalam mayarakat politis Iran, tidak mampu tampil secara sempurna, namun pada masa yang tepat seperti pada peristiwa 16 Azar, akan menciptakan sebuah gelombang determinan

Di Republik Islam Iran, setiap tanggal 16 Azar atau 7 Desember diperingati sebagai awal pecahnya sebuah gerakan revolusioner mahasiswa terhadap rezim tirani dan sebagai simbol penentangan atas intervensi Amerika Serikat di Iran. Gerakan besar ini dilatari oleh ideologi politik yang benar-benar mengenal esensi perilaku AS di Iran. Kebangkitan ini diawali dengan aksi protes sekelompok mahasiswa Iran, yang menentang kunjungan Wakil Presiden AS Richard Nixon ke Tehran. Lawatan Nixon dilakukan 3,5 bulan setelah pemerintahan Doktor Mohammad Mosaddegh yang mengantongi dukungan rakyat Iran, digulingkan lewat sebuah kudeta yang didalangi CIA

Doktor Mohammad Mosaddegh

Tanggal 16 Azar 1332 (7 Desember 1953) telah menjadi simbol pekikan historis bangsa Iran terhadap kebijakan konfrontatif AS dan dikenang sebagai Hari Mahasiswa Iran. Untuk mengetahui esensi peristiwa tersebut, ada baiknya kita membuka kembali lembaran sejarah tentang perlawanan bangsa Iran terhadap rezim Shah Reza Pahlevi pasca penggulingan pemerintahan nasional Mosaddegh pada tahun 1953. Salah satu peristiwa penting politik Iran pada dekade 1950 ditandai dengan aksi kudeta bersama AS-Inggris terhadap pemerintahan konstitusional Iran. Kejadian ini membawa pengaruh langsung terhadap transformasi politik Iran dan rentetan peristiwa-peristiwa setelahnya.

Setelah kudeta tersebut, Presiden AS Dwight David Eisenhower dalam sebuah pidato di Kongres, mengabarkan tentang rencana kunjungan wakilnya, Richard  Nixon ke Iran. Dia mengatakan, "Nixon akan mengunjungi Iran untuk membahas dari dekat hasil-hasil kemenangan politik yang telah memberi harapan yang diraih oleh para pendukung stabilitas dan para penuntut kebebasan."

Pernyataan itu mengindikasikan bahwa perkembangan politik Iran pasca kudeta perlu dikelola agar AS dapat meningkatkan pengaruhnya di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya di Iran. Masalah ini telah memantik kemarahan rakyat khususnya mahasiswa Iran. Selama beberapa tahun pasca kudeta, para penasihat ekonomi dan militer Amerika dikirim ke Iran untuk mengawal kepentingan ilegal negara itu dan melaksanakan kebijakan-kebijakan Washington.

Pasca kudeta, Shah Pahlevi mengirim sepucuk surat ke Gedung Putih yang disebutnya sebagai "penyelamatan Iran dari kekacauan ekonomi dan finansial" dan meminta AS untuk segera memberikan bantuan. Menanggapi permintaan itu, Presiden Eisenhower langsung mengucurkan bantuan cuma-cuma sebesar 45 juta dolar. Bantuan itu didorong oleh ambisi AS untuk secara penuh menguasai Iran dan sekaligus mendukung despotisme politik di tengah masyarakat Iran. Pada masa itu, hubungan rezim Shah dengan Washington mengalami peningkatan drastis dan mereka memberi lampu hijau kepada AS untuk melebarkan pengaruhnya di Iran.

Mahasiswa Universitas Tehran menggelar unjuk rasa untuk memprotes kunjungan Nixon dan kabar tentang normalisasi hubungan Iran dengan Inggris, yang sudah putus menyusul nasionalisasi industri minyak Iran. Akan tetapi, aksi itu disikapi dengan represif oleh pasukan rezim dan mereka menyerang mahasiswa dengan senjata. Pasukan rezim mengejar mahasiswa sampai ke gedung Fakultas Teknik Universitas Tehran. Bentrokan antara kedua kubu semakin memanas dan pasukan rezim mulai mengeluarkan tembakan ke arah demonstran. Tiga mahasiswa dengan nama, Azar Shariat Razavi, Mostafa Bozorgnia, dan Ahmad Ghandchi, gugur dalam peristiwa itu.

Peristiwa 16 Azar

Pada tanggal 17 Azar dan bersamaan dengan kedatangan Nixon di Tehran, semua universitas di ibukota meliburkan diri dan ketika ia tiba di Fakultas Hukum dan Ilmu Politik Universitas Tehran untuk menerima gelar Doktor Honoris Causa, sebuah surat kabar Iran menerbitkan tajuk dengan judul "Tiga Tetes Darah" yang ditunjukkan untuk wakil presiden AS tersebut. Koran itu menulis, "Tradisi dan adat istiadat bangsa Iran ketika menerima tamu adalah menyembelih seekor hewan di hadapan tamu, namun kali ini wahai tuan Nixon, karena kebesaran dan kemuliaan Anda, mereka telah mengorbankan tiga pemuda terbaiknya yaitu mahasiswa untuk menyambut Anda."

Beberapa hari setelah peristiwa 16 Azar, kedatangan Denis Wright, Kuasa Usaha Kedutaan Inggris di Tehran disambut dengan aksi protes dan kecaman oleh masyarakat. Kedatangan Wright dilakukan bersamaan dengan pembacaan putusan sidang terhadap Doktor Mossadegh di Pengadilan Militer. Oleh sebab itu, Hari Mahasiswa Iran diperingati untuk mengenang serangkaian peristiwa pahit yang terjadi dalam memperjuangkan independensi bangsa dan negara.

Peristiwa itu sampai sekarang masih dianggap sebagai sebuah momen penting dalam lembaran sejarah perang melawan arogansi dan perlawanan bangsa Iran terhadap kebijakan konfrontatif AS. Peristiwa 16 Azar dinilai sebagai titik balik dalam terbentuknya gerakan perlawanan mahasiswa di Iran. Pada akhirnya, aksi revolusioner tersebut menjelma dalam bentuk gerakan-gerakan mahasiswa Iran dan menyusul kemenangan Revolusi Islam pada tahun 1979, darah tiga tunas bangsa yang menetas ke tanah telah membuka babak baru dalam kehidupan gerakan mahasiswa Iran dan lagi-lagi, mahasiswa mengabadikan namanya dalam lembaran sejarah Iran setelah menduduki Kedutaan Besar AS di Tehran atau yang dikenal dengan sarang spionase.

Keabadian peristiwa 16 Azar dalam sejarah perlawanan Iran mencerminkan kearifan sebuah bangsa dalam melawan hegemoni AS dan arogansi dunia. Perlawanan itu kini menjelma dalam bentuk lain berupa tekad untuk mempertahankan dan membela hak-hak dan kemuliaan bangsa Iran dalam perundingan nuklir. Hal ini sejalan dengan esensi anti-arogansi pemerintahan Islam Iran yang muncul dari kesadaran rakyat. Peristiwa 16 Azar telah menambah lembaran baru dalam sejarah permusuhan AS terhadap bangsa Iran dan rapor setengah abad intervensi Washington dengan Tehran.

Dapat dikatakan bahwa kebijakan sekarang AS juga masih mengejar tujuan-tujuan hegemonik, namun dengan cara yang berbeda. Arnold Oliver, seorang profesor di Fakultas Ilmu Politik di Universitas Heidelberg Ohio mengatakan, "Sebelum permusuhan AS dengan Iran memasuki tahap yang tidak bisa dipulihkan, kita (AS) benar-benar perlu untuk mengadakan sebuah kajian nasional yang rasional terkait perilaku Washington dengan Tehran. Untuk memulai kajian ini, kita harus mempelajari peristiwa-peristiwa penting pasca kudeta 1953 dan dampak-dampaknya." Dia menambahkan, "Evaluasi yang adil terhadap peristiwa tersebut akan menguak alasan mengapa rakyat Iran membenci para pejabat Amerika."

Amerika Vs Iran

Pada dasarnya, terdapat banyak kesamaan antara strategi sekarang dan kebijakan masa lalu AS. Hal ini membuktikan bahwa AS sampai kini masih memandang Iran melalui pemahaman abad lalu. Sikap bermusuhan AS terhadap Iran tidak pernah berhenti di sepanjang tahun itu. Para pejabat Washington selama 34 tahun terakhir selalu memperlihatkan ekspresi ketidaksenangan mereka terhadap Tehran dengan berbagai cara.

Setelah kemenangan Revolusi Islam, AS selalu mengadopsi kebijakan destruktif terhadap Iran meskipun Presiden Barack Obama terkesan ingin tampil berbeda dengan para pendahulunya. Oleh karena itu, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan anggota Dewan Tinggi Basij pada 27 November 2014, mengatakan bahwa Republik Islam sama sekali tidak punya masalah dengan bangsa atau negara AS, tapi yang menjadi masalah bagi bangsa Iran adalah sikap arogan dan tuntutan berlebihan pemerintah Amerika.

Dec 07, 2017 14:57 Asia/Jakarta
Komentar