Pada sesi ke-12 pertemuan Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda yang diselenggarakan di Pulau Jeju, Korea Selatan, 4-9 Desember 2017, proposal Iran untuk Chogan (cabang olahraga polo khas Iran) dan Kamancheh (instrumen musik petik dawai khas Iran) akhirnya disetujui masuk daftar warisan budaya dunia UNESCO dengan suara mayoritas.

Pertemuan tahunan Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda yang dihadiri 24 anggota komite dan sekitar 700 peserta dari sejumlah negara, diadakan di Pulau Jeju, Korea Selatan.

Kamancheh adalah salah satu alat musik petik Iran yang termasuk paling kuno dan banyak dimainkan di kawasan termasuk di Iran sendiri. Biasanya alat musik ini digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan musik klasik dan musik folklore atau tradisional.

Fitur suara yang luas dan beragam dari Kamancheh, menjadikan alat musik ini banyak dipakai di kota atau desa Iran dalam acara-acara yang membutuhkan pertunjukan musik.     

Chogan sebagai salah satu cabang olahraga Iran, memiliki berbagai dimensi nilai. Identitas dan posisi sosial Chogan sebagai permainan yang merakyat, menciptakan hubungan yang dekat antara manusia dengan alam dan binatang khususnya kuda, dan merupakan permainan yang menggembirakan.

Karakteristik lain Chogan menimbulkan perasaan keterikatan para pemain dengan masyarakat, sejarah dan menciptakan hubungan antargenerasi dalam sebuah pertandingan yang sportif.  

Dalam Chogan ditekankan bahwa permainan ini adalah sebuah unsur budaya yang terkait dengan sejarah dan identitas para pemainnya. Unsur budaya ini membawa pengaruh luas pada bidang-bidang lain seperti sastra, naratif, dongeng, peribahasa, lukisan miniatur, kerajinan tangan dan arsitektur Iran, dan merupakan elemen bernilai dari pandangan dunia dan simbolisasi para pemainnya.

Chogan

Pada pertemuan tahunan Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda di Korea Selatan, Dolma (salah satu jenis hidangan sayuran tradisional) juga masuk daftar warisan budaya dunia UNESCO dari Azerbaijan.

Azerbaijan mengklaim Dolma adalah makanan asli rakyat negara ini, padahal Dolma adalah salah satu makanan tradisional paling kuno Iran. Sejak ratusan tahun lalu jenis makanan ini dikenal luas di negara-negara kawasan termasuk Armenia dan Azerbaijan, sebagai makanan khas rakyat Iran.

Dolma adalah sejenis makanan sayuran yang dibuat dari daun anggur, paprika, labu, tomat, kubis dan terung. Bahan-bahan untuk membuat Dolma di antaranya adalah daging cincang, sayur lalapan, bawang bombay, beras, split pea dan tentu saja daun anggur sebagai pembungkus luar yang bisa dibuat dalam beraneka bentuk dan dimasak dengan berbagai cara.   

Kamancheh adalah salah satu alat musik tradisional Iran. Jejak sejarah pertama Kamancheh dapat dilacak dalam kitab Al Musiqi Al Kabir karya Abu Nasr Al Farabi abad keempat Hijriyah. Dalam kitab itu, Al Farabi menyebut Kamancheh sebagai alat musik Iran. Di era Safavi dan Qajar, Kamancheh termasuk sebagai alat musik asli Iran dan suara rekaman Kamancheh pertama, ditemukan awal abad-20.

Bagian berongga atau mangkuk instrumen musik petik berdawai ini biasanya terbuat dari kayu pohon buah Berry yang disusun dari lapisan-lapisan kayu tipis, dan bagian kayu yang berdimensi relatif kecil digunakan di bagian muka dan ditutupi dengan selaput yang biasanya terbuat dari kulit domba.

Di bagian bawah terdapat sebuah lonjakan untuk mendukung Kamancheh saat dimainkan. Kamancheh bisa dimainkan dalam posisi duduk seperti cello, ujungnya bisa diletakkan di lutut atau paha saat pemain duduk di kursi. Kamancheh tradisional memiliki tiga senar, namun Kamancheh modern memiliki empat senar.

Saat ini, Kamancheh menjadi salah satu instrumen musik paling penting dalam setiap pertunjukan musik di Iran. Suara yang dihasilkan alat musik ini sangat menonjol dan membantu kelompok pengiring musik.

Chogan dan Kamancheh Iran

Sementara Chogan adalah salah satu permainan dan cabang olahraga kuno Iran yang hari ini telah mendunia. Karena dahulu kala sering dimainkan oleh kalangan istana dan para pembesar, maka permainan ini juga dikenal dengan "Permainan para Raja".

Nama Chogan sendiri diambil dari nama sejenis kayu yang digunakan dalam permainan tersebut. Pada awalnya, permainan ini lebih bernuansa militer dan perang, karena orang-orang Iran mempertontonkan kemampuan menunggang kuda-kuda perangnya dalam permainan ini. Olahraga polo yang dikenal luas hari ini di dunia berasal dari permainan Chogan Iran.

Dewasa ini lebih dari 77 negara dunia menggelar pertandingan Chogan. Mulai tahun 1990-1939, Chogan menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade, dan sekarang Chogan diakui oleh Komite Olimpiade Internasional sebagai salah satu cabang olahraga dunia.

Chogan mulai dimainkan di Iran sekitar 600 tahun sebelum Masehi, dan sejak masa kekaisaran Akhemenid sudah banyak dimainkan. Chogan mulai menyebar ke India di masa ekspansi wilayah Raja Darius Pertama. Begitu juga di era Sasanid, olahraga ini menjadi bagian dari budaya Iran kuno. Roudaki adalah penyair Persia pertama di era pasca Islam yang berbicara soal Chogan, dan Ferdowsi juga banyak menyinggung permainan ini.

Setelah menyerang Iran dan mengenal budaya serta kesenian Iran, bangsa Mongol mulai memainkan Chogan, dan mereka menyebarkan permainan ini ke seluruh daerah kekuasaannya. Menurut data sejarah, Raja Abbas Safavi adalah seorang pemain Chogan, bahkan sebelum datang ke Isfahan dan ibukota Iran saat itu adalah Qazvin. Bundaran Naghse Jahan di Isfahan yang terkenal itu, konon awalnya dibangun untuk bermain Chogan.

Orang-orang Eropa di masa Safavi, di masa pendudukannya di India mulai mengenal Chogan dan menyebarkan permainan itu di negaranya. Pada tahun 1860, Chogan dimainkan secara luas di Inggris. Lalu menyebar ke Amerika Selatan dan berkembang pesat, oleh karena itu sekarang Amerika Selatan dibandingkan tempat-tempat lain di dunia, merupakan wilayah yang paling banyak dimainkan Chogan.

Chogan bukanlah permainan yang terlalu bersemangat, tetapi lebih merupakan permainan strategi yang memerlukan kesiapan pemain dan kuda yang ditungganginya. Kuda biasa akan lari ketika berhadapan dengan lawan, namun kuda Chogan justru berlari menyambut lawan dan memberi kesempatan pada penunggangnya untuk bermain.

Seekor kuda yang terbiasa dengan kondisi permainan Chogan, akan lebih mudah digunakan di medan tempur. Karena itu, pada awalnya, permainan Chogan lebih bernuansa militer dan perang, dan orang-orang Iran menguji kemampuan berkudanya dalam permainan ini.

Pada pertemuan tahunan Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Dunia Tak Benda sesi ke-8 yang digelar di ibukota Azerbaijan, negara itu berusaha memasukkan permainan Chogan dengan tema usulan "Chogan, Permainan Tradisional dengan Kuda Karabakh" ke daftar warisan dunia UNESCO.

Namun upaya itu menuai banyak protes dari berbagai kalangan karena pengakuan Chogan sebagai permainan asli dari satu negara tertentu. Dua tahun lalu Iran menyerahkan dokumen terkait Chogan disertai riwayat sejarah dan musiknya ke UNESCO untuk dikaji.

Buah dari upaya Iran dan kuatnya dokumen sejarah yang mendukung, berujung dengan diakuinya Choghan Iran sebagai warisan dunia UNESCO pada pertemuan tahunan Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Dunia Tak Benda ke-12 di Korea Selatan.

Jumlah peninggalan sejarah tak benda Iran yang diakui sebagai warisan dunia UNESCO saat ini mencapai 13 buah termasuk Nowrouz, keterampilan memasak roti tipis atau datar dan Kamancheh, sebagai warisan dunia bersama beberapa bangsa.

Dec 31, 2017 11:07 Asia/Jakarta
Komentar